Cegah Kecelakaan di Tol, Penumpang Perlu Kenali Tanda Pengemudi Kelelahan

Kecelakaan maut yang menimpa satu keluarga di dalam Toyota Avanza saat melintasi ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka) pada Minggu (25/10) dapat menjadi contoh pentingnya peran penumpang dalam mengawasi pengemudi.
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun mengatakan, insiden yang menyebabkan 6 orang tewas itu diduga akibat pengemudi Toyota Avanza bernomor polisi Z 1473 AG alami kantuk.
"Setibanya di lokasi kejadian, diduga pengemudi Toyota Avanza dalam kondisi mengantuk, sehingga hilang kendali dan oleng ke kiri, menyerempet guardrail, lalu menabrak belakang truk Fuso yang berada di bahu luar jalan tol yang sedang melakukan pengecekan baut roda yang patah," katanya.
Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu mengatakan bahwa keselamatan seluruh penumpang di dalam mobil selama perjalanan jalan raya bukan semata-mata tanggung jawab seorang sopir.
Orang-orang yang duduk di kabin penumpang dinilai punya peran untuk ikut aktif memantau kondisi dan respons berkendara sang pengemudi. Cara ini dinilai dapat memperkecil risiko terjadinya kecelakaan.
"Penumpang juga harus aware dan bisa memberikan monitor kalau pengemudinya ada tanda-tanda keletihan. Misalnya mulai jarang berkomunikasi atau sekadar merespons dia jadi lebih lambat, lalu fokusnya hanya pada satu titik tertentu, sampai menggaruk-garuk kepala," buka Jusri kepada kumparan, Senin (26/10).
Jika tanda-tanda kelelahan fisik tersebut mulai terlihat, penumpang harus mengambil tindakan tegas dengan meminta pengemudi untuk mengambil rest area terdekat untuk beristirahat. Atau menawarkan untuk melakukan pergantian mengemudi.
Jusri bilang menyerahkan sepenuhnya keselamatan pada sopir tanpa pengawasan adalah kekeliruan besar. Kepedulian penumpang merupakan benteng pertahanan terakhir dalam mencegah insiden lalu lintas.
"Langsung dia harus mengingatkan kepada pengemudi cari tempat untuk tidur, untuk istirahat. Jangan tidak aware, 'Ah dia kan sopir, gua kan penumpang.' No, no, no. Ini menyangkut keselamatan adalah tanggung jawab kita semua," kata Jusri.
Sebagai pengemudi, Jusri menambahkan pentingnya pola istirahat dan durasi berkendara yang terukur. Ia membagikan rumus manajemen waktu istirahat berkala saat sedang melakoni perjalanan, utamanya jarak jauh.
"Maka dia bisa melakukan pola istirahat, yaitu maksimal setiap 2 jam dia harus berhenti untuk 2 jam pertama, kemudian setelah itu setiap 1 jam dia harus berhenti. Setiap dia berhenti 2 jam pertama itu 15 menit enggak apa-apa untuk stretching. Untuk istirahat berikut-berikutnya yaitu setiap 1 jam, idealnya adalah 30 menit," katanya.
Durasi istirahat yang relatif sebentar dapat dimanfaatkan pengemudi untuk melakukan teknik tidur singkat demi melepaskan kelelahan sistem saraf. Mempersiapkan perlengkapan tidur sederhana di dalam mobil juga sangat disarankan.
"30 menit tadi kalau dia sudah merasa letih, maka dia bisa melakukan skema tidur. Mulai nano nap 5 menit, mini nap 10 menit, atau power nap 15 menit. Tidur-tidur tadi itu akan bisa recovery membuat dia lebih bugar. Cuci muka, buka kaca, atau apa, itu hanya menstimulus, bukan istirahat," tegas Jusri.
