56% Orang Indonesia Khawatir Burnout, tetapi Satu Jenis Ini Sering Diabaikan

Mahasiswa Program Studi S1 Psikologi UIN Ar-raniry, Banda Aceh
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Septia Rizky Ramadhina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebih dari separuh orang Indonesia mengkhawatirkan burnout. Tapi ada satu bentuk kelelahan yang jarang dibicarakan: lelah karena terlalu lama menjadi orang yang selalu ada untuk semua orang.
Coba ingat kapan terakhir kali kamu membalas pesan seseorang, bukan karena ingin, tapi karena merasa harus. Atau mendengarkan keluhan teman berjam-jam, padahal kamu sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Kalau kamu mengenali situasi itu, kamu tidak sendirian.
Menurut Asia Care Survey 2024 yang melibatkan lebih dari 1.000 responden di Indonesia, stres dan burnout menjadi gangguan kesehatan mental yang paling dikhawatirkan, mencapai 56% dari total responden. Sementara itu, data dari Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa mencatat prevalensi gangguan kecemasan di Indonesia naik menjadi 16% pada 2024, naik drastis dari 9,8% pada 2018.
Angka itu besar. Tetapi ada satu jenis kelelahan yang nyaris tidak pernah masuk statistik: kelelahan emosional karena terlalu lama menjadi orang yang selalu hadir untuk semua orang.
Bukan Soal Kebaikan, tapi Soal Rasa Takut
Selama ini banyak dari kita menyebut kebiasaan ini sebagai bentuk kepedulian. Memang ada kebenarannya. Tetapi kalau ditelusuri lebih dalam, sering kali ada sesuatu yang lain di baliknya: rasa takut.
Takut dianggap tidak peduli. Takut ditinggal. Takut hubungan itu retak kalau kita mulai menarik diri.
Pete Walker, terapis dan penulis buku Complex PTSD: From Surviving to Thriving (2013), menyebut pola ini sebagai fawn response, yaitu kecenderungan mengutamakan kebutuhan orang lain sebagai cara untuk merasa aman dan menghindari penolakan. Sederhananya, kita menjadi "selalu ada" bukan hanya karena sayang, tetapi karena otak kita pernah belajar bahwa menjadi orang yang dibutuhkan adalah cara untuk tidak ditolak.
Pola ini tidak muncul dari ruang hampa. Ia terbentuk dari pengalaman, dari lingkungan yang mengajarkan bahwa kita hanya berharga ketika berguna bagi orang lain.
Ketika “Selalu Ada” Menjadi Identitas
Lama-kelamaan, batas antara aku peduli dan aku butuh dibutuhkan menjadi kabur.
Psikolog Harriet Lerner dalam bukunya The Dance of Connection (2001) menyebut kondisi ini sebagai over-functioning, yaitu ketika seseorang mengambil alih terlalu banyak tanggung jawab emosional dalam sebuah hubungan hingga tanpa sadar merugikan dirinya sendiri.
Yang berbahaya dari pola ini bukan hanya dampaknya pada diri sendiri, tetapi juga bagaimana ia terasa mulia dari luar. Kamu terlihat seperti teman yang luar biasa. Di dalam, kamu perlahan kehilangan dirimu sendiri.
Penelitian Horan & Dillow yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships (2019) menemukan bahwa ketidakseimbangan emotional labor dalam sebuah hubungan berkorelasi langsung dengan meningkatnya kecemasan, rendahnya harga diri, dan burnout emosional pada pihak yang selalu memberi.
Mengapa Berhenti Terasa Seperti Pengkhianatan?
Di sinilah letak paradoksnya. Setiap kali kita mencoba menarik diri, ada suara kecil yang muncul: kamu egois, kamu tidak peduli, kamu bukan teman yang baik.
Tetapi justru kelelahan emosional yang tidak ditangani yang membuat kita menjadi versi diri yang lebih buruk — lebih mudah kesal, lebih sulit hadir secara tulus, lebih cepat kecewa. Kita tidak bisa terus memberi dari wadah yang sudah kosong.
Berhenti, atau setidaknya melambat, bukan pengkhianatan. Itu kebutuhan.
Sudah Saatnya Hadir untuk Diri Sendiri
Menjadi orang yang baik tidak harus berarti selalu tersedia. Pertemanan yang sehat memberi ruang bagi semua pihak untuk punya batas, punya lelah, dan punya kebutuhan yang sama-sama dihargai.
Ini bisa dimulai dari hal kecil: tidak langsung membalas pesan ketika sedang tidak dalam kondisi yang baik; berani mengatakan "aku lagi butuh waktu sendiri" tanpa merasa perlu menjelaskan panjang lebar; berhenti mengukur nilai diri dari seberapa banyak orang yang membutuhkan kita.
Karena pada akhirnya, kita tidak bisa menjadi teman yang baik bagi orang lain kalau tidak pernah belajar menjadi teman yang baik bagi diri sendiri.
Kelelahan yang kamu rasakan itu nyata. Memilih dirimu sendiri bukan berarti kamu tidak peduli pada orang lain — itu berarti kamu akhirnya mulai peduli pada dirimu sendiri juga.
