Konten dari Pengguna

Butterfly Project: Melawan Keinginan Menyakiti Diri Sendiri

Starlight

Starlight

Writing Enthu.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Starlight tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels/Dzenina Lukac
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels/Dzenina Lukac

Memiliki permasalahan hidup tentu menjadi sebuah hal yang wajar untuk manusia. Apa yang terjadi memang tidak selalu mengikuti apa yang kita inginkan. Namun, tidak semua orang mampu menghadapi kenyataan dan menerimanya dengan baik. Beberapa di antara kita, ternyata harus menyakiti dirinya sendiri untuk bisa merasa lebih baik. Perilaku ini dikenal dengan sebutan self harm.

Menurut Laye-Gindhu dan Schornet-reichl, self harm merupakan perilaku menyakiti diri sendiri yang sengaja dilakukan, namun tidak sampai membahayakan seperti tindakan bunuh diri. Penderita self harm tidak dapat dikategorikan sebagai gangguan jiwa. Sederhananya, perilaku self harm muncul akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi stres.

Dari survei yang dilakukan oleh YouGov Omnibus (2019), ditemukan bahwa 36% orang di Indonesia pernah melakukan self harm, dengan 45% di antaranya merupakan kalangan remaja. Angka tersebut menunjukan tingginya perilaku self harm di Indonesia. Sebenarnya, ada banyak penyebab dari perilaku self harm. Namun, secara umum, perilaku tersebut disebabkan oleh beberapa hal berikut,

  • Sikap rendah diri (insecure),

  • Lingkungan sekitar yang tidak harmonis dan memberikan tekanan,

  • Kekhawatiran berlebih atas suatu hal (overthinking),

  • Trauma masa lalu,

  • Merasa sedih berkepanjangan.

Seiring berjalannya waktu, kepedulian terhadap kesehatan mental semakin meningkat. Ada banyak bentuk kegiatan dan kampanye yang dilakukan untuk mengajak orang-orang menghindari self harm, salah satunya yaitu Butterfly Project.

Butterfly Project merupakan kampanye yang dimulai oleh Demick melalui Ncompas, sebuah badan amal Inggris. Kampanye ini bertujuan untuk mengajak masyarakat melawan keinginan melukai diri sendiri. Demick sendiri melakukan sosialisasi kampanye ini ke banyak sekolah dan universitas di Inggris.

Butterfly Project dapat dilakukan dengan menggambar kupu-kupu di pergelangan tangan atau di bagian tubuh lain yang sering menjadi sasaran self harm. Setelah itu, gambar kupu-kupu tersebut boleh ditambah sebuah nama atau kata-kata motivasi yang disukai.

Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat ketika rasa ingin melukai diri sendiri muncul, bahwa ada sesuatu yang harus dijaga dan dilindungi, yaitu kupu-kupu dan nama-nama itu. Ibaratnya, kupu-kupu dan nama-nama itu merupakan sebuah simbol transformasi yang dianalogikan sebagai masalah yang sedang dihadapi, di mana jika dapat menerima keadaan, maka masalah tersebut akan selesai.

Oleh sebab itu, jika berhasil mempertahankan kupu-kupu sampai menghilang dengan sendirinya, kamu harus mengapresiasi diri sendiri karena berhasil menjaga kupu-kupu dan melawan keinginanmu untuk menyakiti diri sendiri!

Namun, perlu diketahui, jika kampanye ini masih belum berhasil. Kamu dapat menghubungi pihak profesional untuk mendapatkan bantuan. Ingat ya, kamu itu penting dan berharga. Jadi, jagalah dirimu dengan baik!

(Septia Sapoetri/Politeknik Negeri Jakarta)