Konten dari Pengguna

Memupuk Asa Melalui Tradisi Sedekah Bumi: Kampung Darim, Indramayu

Septiawan Pebrianto

Septiawan Pebrianto

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Septiawan Pebrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan sedekah bumi, Kampung Darim, Desa Kendayakan, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (foto milik pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan sedekah bumi, Kampung Darim, Desa Kendayakan, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (foto milik pribadi)

Di tengah hiruk-pikuk perkotaan dan bisingnya modernitas yang semakin mendominasi kehidupan masyarakat, masih ada tradisi yang tetap hidup kuat di beberapa sudut nusantara, yaitu tradisi Sedekah Bumi. Tradisi ini berakar kuat dalam budaya masyarakat agraris di beberapa negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan dengan berbagai macam versi, nama, dan tata cara serta menjadi wujud rasa syukur terhadap hasil panen yang diberikan alam.

Sedekah Bumi adalah perayaan yang digelar setelah masa panen. Acara ini melibatkan serangkaian upacara dan ritual. Dalam acara ini, masyarakat berbagi hasil panen dengan sesama dan memberikan penghormatan kepada alam serta unsur-unsur spiritual lain yang dianggap bagian dari pertanian. Tradisi ini mencerminkan hubungan manusia dengan alam, serta usaha untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Rembug tani untuk menyelesaikan permasalahan para petani di Kampung Darim

Bersatu Bersama Hadapi Tantangan

Kampung Darim, Berada di tengah-tengah dua desa yang saling berbagi wilayah, dikenal juga dengan sebutan "kampung di tengah samudra sawah" karena letaknya yang unik di tengah-tengah hamparan sawah. Darim itu wilayah pedesaan yang sudah punya sejarah panjang dalam budidaya padi. Meskipun berada di tengah hamparan sawah kampung Darim ini pernah mengecap manisnya panen raya tapi tidak terlepas dari pahitnya gagal panen. Perubahan iklim yang terjadi memberikan dampak pula ke para pejuang pangan di kampung Darim ini, mulai dari kemarau panjang hingga permasalahan hama dan irigasi yang saling berkaitan membuat kesengsaraan pejuang pangan Darim ini merana.

Masyarakat Darim, terutama yang bekerja di sektor pertanian, merasakan dampak permasalahan ini dalam aspek sosio-ekonomi. Mereka harus mencari sumber penghasilan di luar kampung, namun tetap menjaga solidaritas sosial dan mempertahankan tradisi sebagai bentuk identitas mereka. Dari menjadi pedagang garam hingga menjadi tenaga kerja diluar kota bahkan negeri telah mereka lakukan. Meskipun begitu, semangat gotong royong dan kebersamaan tetap terjaga di masyarakat Darim yang mempertahankan tradisi dan budaya sebagai bentuk solidaritas sosial. Salah satu contohnya adalah Tradisi Sedekah Bumi, yang di kampung ini bukan hanya soal pesta semata, melainkan juga kesempatan bagi masyarakat untuk menyatukan semangat gotong royong, menunjukkan rasa syukur, dan menghormati alam.

Sebagaimana diungkapkan oleh salah satu tokoh di Darim, “Tradisi sedekah bumi di Darim ini adalah ajang untuk para petani, untuk masyarakat Darim kembali bersatu menjadi sebagaimana mestinya ‘Warga Darim’ itu sendiri tanpa memandang dia masuk ke RT Desa Puntang ataupun Kendayakan”.

Acara ini juga menjadi momen untuk menyadarkan kita akan tantangan yang dihadapi para petani Darim. Kemarau panjang dan masalah dalam sistem irigasi telah menyebabkan terlambatnya awal masa tanam dan mengakibatkan keberhasilan panen yang kurang optimal. Meskipun demikian, semangat para petani tetap teguh, dan mereka mempertahankan/melanjutkan tradisi Sedekah Bumi untuk menunjukkan rasa syukur terhadap hasil bumi, bahkan ketika hasil panen tidak memuaskan.

Situasi tersebut diungkapkan salah satu warga Darim dengan narasi, “Mungkin kalau dibilang bersyukur yang paling tinggi dan paling sulit dilakukan itu ketika sedang diuji, dalam kata lain berbagi dalam krisis”.

Pawai keliling kampung sebagai rangkaian dari sedekah bumi (foto milik pribadi)

Sedekah Bumi Menjadi Tonggak untuk bersatu

Adanya tradisi Sedekah Bumi di Kampung Darim membuat masyarakat sadar bukan hanya tentang rasa syukur terhadap hasil panen saja yang perlu dijaga, melainkan juga tentang menjaga solidaritas sosial dalam masyarakat. Tradisi Sedekah Bumi di Kampung Darim menjadi tonggak untuk bersatu. Melalui tradisi Sedekah Bumi, masyarakat Darim menyadari bahwa bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi tantangan pertanian adalah kunci keberhasilan. Mereka tetap menjaga tradisi ini sebagai bagian penting dari budaya dan kearifan lokal mereka, dan sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Dalam rangkaian Sedekah Bumi, masyarakat Darim juga mengadakan rembug tani, di mana mereka berkumpul untuk membahas permasalahan pertanian dan mencari solusinya. Ini menunjukkan kesadaran mereka akan pentingnya berkomunikasi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam rembug tani itu salah satu masyarakat Darim mengatakan “Panen Darim kali ini emang menurun tapi gapapa dan bukan begitu masalah juga, yang penting masyarakat ini tetap bersatu dan bersama”.

Sebagian masyarakat Darim menyadari bahwa mereka perlu bergerak sendiri dan mencari solusi untuk setiap masalah yang dihadapi. Acara rembug tani menjadi platform untuk berdiskusi dan mencari solusi bersama, menunjukkan bahwa masyarakat Darim memiliki kemampuan untuk merubah nasib mereka sendiri jika bersatu.

Diskusi permasalahan yang ada di Kampung Darim

Sedekah Bumi dan Solidaritas Sosial

Sebagaimana diungkapkan oleh Nurman Said dalam tulisannya pada tahun 2015, Agama dan Tradisi merupakan sumber nilai (Kearifan) dalam upaya mewujudkan solidaritas sosial. Masyarakat Darim, dengan solidaritas sosial yang sudah baik, berhasil mengadakan acara Rembug Tani dan Sedekah Bumi meskipun dalam situasi sulit. Dengan perasaan dan nasib yang sedang bersama-sama dirasakan oleh masyarakat kampung Darim mereka berhasil melewati tantangan nya bersama-sama, di mana masyarakat memahami bahwa bersatu dan bekerja sama dengan satu pemikiran bahwa saling bantu membantu, gotong royong, dan tidak terpecah belah dalam menghadapi tantangan adalah kunci keberhasilan.

Beginilah masyarakat Darim, diungkapkan dalam kalimat oleh salah satu aktornya, “Yaa mau gimana juga situasinya kita harus bisa saling bantu membantu, gotong royong, jangan sampe terpecah belah”.

Dalam konteks global, beberapa peneliti telah menyoroti pentingnya tradisi dan kearifan lokal dalam mewujudkan solidaritas sosial. Tradisi Sedekah Bumi di Kampung Darim merupakan cerminan nyata dari nilai-nilai tersebut, bagaimana tradisi lokal dapat menjadi perantara penting dalam membangun solidaritas sosial di tengah perubahan iklim dan tantangan pertanian.

Tradisi Sedekah Bumi di Kampung Darim tidak hanya mencerminkan rasa syukur terhadap hasil panen, tetapi juga menjadi tonggak solidaritas sosial. Melalui tradisi ini, masyarakat Darim menyadari pentingnya bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi tantangan, sambil tetap menjaga nilai-nilai lokal dan budaya mereka. Tradisi ini bukan hanya merayakan kesuksesan, tetapi juga menjadi ruang untuk berdiskusi, mencari solusi, dan membangun kesejahteraan bersama.

Namun, seperti yang diungkapkan oleh koordinator KRKP, Said Abdullah pada acara Rembug Tani, perbaikan dalam tata kelola air dan sistem irigasi sangat diharapkan oleh masyarakat Darim. Mereka tidak ingin siklus kegagalan panen terjadi, dan Sedekah Bumi menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat menghadapi perubahan iklim dan mengajarkan bahwa bersatu adalah kunci mengatasi tantangan di dunia pertanian.

Dan diingatkan kembali oleh beliau bahwa keterlibatan aktif dalam proses perubahan sangat penting untuk mencegah perubahan yang lama. “...Darim merupakan bagian ujung dari proses pengairan, kalau bapak-ibu ga aktif, hanya nunggu, percayalah bahwa proses perubahannya akan lama” pungkasnya.

Mengacu pada masyarakat Darim, semua lapisan pelaku pertanian yang bertarung dan berjuang melawan perubahan iklim memerlukan penguatan seperti yang dilakukan oleh Darim. Sedekah Bumi, Sedekah Laut, dan tradisi syukur lainnya adalah ruang bagi seluruh lapisan masyarakat, dari petani hingga aktor desa, untuk bersatu dan saling mendukung. Sekali lagi, semangat Sedekah Bumi dan kebersamaan masyarakat Darim membuktikan bahwa tradisi lokal dapat menjadi tulang punggung dalam membangun solidaritas sosial dan menghadapi tantangan di era modern ini.

[1] Nurman Said. 2015. Islam dan Integrasi Sosial: Pergumulan Antara Islam dan Tradisi Masyarakat Bugis. Tafsere Volume 3, no. 2 (t.t.): 2015. 22 K. Judistira Garna. Ilmu-ilmu Sosial Dasar Konsep dan Posisi. (Bandung: PPs Unpad, 1996).