Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2024 © PT Dynamo Media Network
Version 1.89.0
Konten dari Pengguna
Pabrik Kina Bukit Unggul: Industri Peninggalan Belanda yang Masih Beroperasi
18 Juli 2024 13:58 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Seputar Bandung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Ini adalah perkebunan kina terbesar yang lokasinya terbagi menjadi dua, yakni di kawasan Bandung Selatan dan Bandung Utara. Pabrik kina ini menyimpan sejarah yang panjang karena telah berdiri sejak ratusan tahun lalu.
Serba-serbi Pabrik Kina Bukit Unggul
Pabrik Kina Bukit Unggul memiliki bangunan bercat kuning dan putih yang tampak megah. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, tetapi bangunan industri ini masih berdiri kokoh di kawasan perbukitan.
Bangunan pabrik ini juga terlihat sangat terawat. Sekelilingnya terdapat pepohonan yang rimbun, sehingga memberikan kesejukan bagi lingkungan sekitar.
Mengutip jurnal Kehancuran Produksi dan Hilangnya Pabrik Kina Masa Kolonial di Bandung, Lia Nuralia (2021), pabrik tersebut memiliki tiga cerobong asap dengan berbagai ukuran yang menjulang ke atas.
ADVERTISEMENT
Selain itu, terdapat dua tungku penggarangan dan satu mesin penggilingan raksasa di dalam pabrik ini. Berbagai komponen pabrik tersebut merupakan warisan Belanda yang hingga kini masih berfungsi normal. Kedua tungku tersebut dapat mengeringkan dua ton kulit kina dalam sekali kerja dengan tempo 4 jam.
Di sekeliling bangunan kolonial tersebut, juga terdapat bangunan lain yang masih berada dalam satu kompleks dengan pabrik. Kontruksi gedung dan rumah di kawasan tersebut memiliki ciri khas yang unik karena menggunakan kayu kina gelondongan sebagai dindingnya.
Sejarah Pabrik Kina Bukit Unggul
Pabrik Kina Bukit Unggul berdiri sejak tahun 1912. Jika menilik dokumen perusahaan, dulunya ada dua administratur Belanda yang pernah bertugas di kebun ini, yaitu Jan Willem Ruyssenaers (1927 – 1941) dan Albert Johan Ruyssenaers (1941 – 1957)
ADVERTISEMENT
Pembangunan perkebunan dan pabrik kina di Hindia Belanda tidak terlepas dari latar belakang munculnya wabah malaria yang terjadi pada pertengahan abad 18.
Pada masa itu, Hindia-Belanda masih didominasi hutan lebat yang diprediksi menjadi habitat nyamuk Anopheles. Gigitan nyamuk tersebut menyebabkan halusinasi hingga depresi massal yang tentunya membahayakan kesehatan manusia.
Oleh karena itu, Pemerintah Hindia Belanda memerintahkan kaum naturalis untuk mencari obatnya. Berdasarkan hasil penelitian, obat malaria yang efektif berasal dari pohon Kina. Alhasil, dibangunlah pabrik dan perkebunan kina dalam skala besar melalui Sistem Tanam Paksa.
Kina dibudidayakan pertama kali oleh naturalis Jerman bernama Junghuhn di Kebun Raya Bogor. Sementara itu, benih kina di Jawa dibawa dari Amerika Selatan.
ADVERTISEMENT
Pabrik Kina Bukit Unggul hingga kini masih beroperasi. Pabrik ini bukan sekadar industri pengobatan, melainkan tempat yang menyimpan banyak sejarah bagi bangsa Indonesia. (DLA)