Konten dari Pengguna

Pesona Wisata Stasiun Radio Hindia Belanda Malabar yang Hijau

S

Seputar Bandung

Akun yang membahas tentang kota Bandung

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Seputar Bandung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Wisata Stasiun Radio Hindia Belanda Malabar (Bukan Gambar Sebenarnya)|Pexels|Sahar Momand
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wisata Stasiun Radio Hindia Belanda Malabar (Bukan Gambar Sebenarnya)|Pexels|Sahar Momand

Wisata Stasiun Radio Hindia Belanda Malabar merupakan salah satu objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Di sini wisatawan dapat melihat stasiun radio zaman penjajahan Belanda dan pemandangan hijau yang menyegarkan mata.

Wisata ini berada di area Gunung Puntang, tepatnya di Jl. Gn. Puntang, Pasirmulya, Banjaran, Bandung. Untuk jam bukanya, wisata ini buka selama 24 jam.

Wisata Stasiun Radio Hindia Belanda, Salah Satu Objek Peninggalan Belanda

Ilustrasi Wisata Stasiun Radio Hindia Belanda Malabar (Bukan Gambar Sebenarnya)|Pexels|Hugo Magalhaes

Wisata Stasiun Radio Hindia Belanda merupakan objek wisata sejarah di Bandung. Di zaman dulu, tempat ini adalah stasiun radio yang pernah berjaya pada masa Hindia Belanda.

Daya tarik di wisata ini adalah usia bangunan yang telah didirikan sejak tahun 1917 dan selesai di tahun 1923. Selain itu, tempat ini memiliki pemandangannya yang hijau dan menyejukkan. Hal ini karena lokasinya berada di area Gunung Puntang yang memang terkenal dengan hutan pinus dan hutan campuran.

Mengutip dari Beyond The Limits and Bravery, Abdul Radjak, 2018, stasiun radio tersebut pernah menjadi yang paling kuat di dunia pada 5 Mei tahun 1923, dengan kekuatan sebesar Rp2.400 kW berteknologi arc transmitter.

Pada masa itu, pertama kalinya terjadi komunikasi nirkabel antara kota Bandung dan Belanda yang berjarak 12.000 kilometer. Kawat antena stasiun radio ini membentang sepanjang dua kilometer antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun.

Hancurnya stasiun radio ini diperkirakan akibat masuknya tentara Jepang ke Bandung pada tahun 1942. Karena khawatir akan digunakan kampanye oleh pihak Belanda, beberapa pegawai di stasuin radio menghancurkan peralatan penting sehingga tidak dapat dioperasikan.

Masa kejayaan stasiun radio buatan Belanda ini berakhir pada tahun 1946 saat terjadi peristiwa Bandung Lautan Api. Pejuang Indonesia menggunakan dinamit untuk menghancurkan bangunannya.

Saat ini, stasiun radio terbesar dan pertama di Asia tersebut hanya tinggal reruntuhan saja.

Meskipun sempat tidak terurus hingga ditumbuhi oleh rerumputan, reruntuhan stasiun radio zaman Hindia Belanda tersebut saat ini sudah terjaga.

Terdapat juga beberapa reruntuhan yang dimodifikasi dengan kayu agar bisa dijadikan wisatawan spot foto maupun tempat duduk.

Baca Juga: Curug Siliwangi: Pesona Air Terjun Tersembunyi di Kaki Gunung Puntang

Wisata Stasiun Radio Hindia Belanda Malabar merupakan salah satu objek wisata yang bisa dikunjungi. Di tempat ini wisatawan dapat menikmati keindahan alam Gunung Puntang dan mempelajari sejarah stasiun radio. (AIN)