5 Penyebab Larva Lele Mati setelah Menetas yang Perlu Dipahami Peternak

Artikel yang membahas seputar hobi seperti menggambar, memelihara tanaman, hewan peliharaan, hingga meracik kopi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Seputar Hobi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Budidaya ikan lele saat ini menjadi salah satu usaha yang menguntungkan. Namun, banyak peternak menghadapi masalah penyebab larva lele mati setelah menetas.
Dikutip dari Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan, Performa Pertumbuhan Post-Larva Ikan Lele Sangkuriang, A Setiadi, 2022, 6, lele banyak diminati terutama karena lele memiliki daya tahan yang tinggi dan permintaan pasar yang stabil. Jika larva lele mati tidak ditangani dengan baik, ini dapat menyebabkan kerugian besar.
Penyebab Larva Lele Mati Setelah Menetas yang Perlu Dipahami Peternak
Di bawah ini beberapa penyebab larva lele mati setelah menetas dan cara mengatasinya.
1. Kualitas Air yang Buruk
Lingkungan air yang tidak stabil dapat menjadi penyebab utama kematian larva lele. Faktor-faktor seperti pH yang terlalu asam atau basa, kadar oksigen yang rendah, serta tingginya amonia dan nitrit dalam air dapat merusak kesehatan larva.
Solusi:
Pastikan pH air berada di kisaran 6,5–8.
Gunakan aerator untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut.
Lakukan penggantian air secara rutin sebanyak 20-30% setiap hari.
2. Suhu Air Tidak Stabil
Larva lele sangat sensitif terhadap perubahan suhu air. Suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kematian.
Solusi:
Jaga suhu air di kisaran 27–30°C.
Hindari menempatkan kolam di area yang terkena sinar matahari langsung terlalu lama.
Gunakan pemanas air jika suhu terlalu rendah.
3. Pakan yang Tidak Sesuai
Larva lele membutuhkan pakan dengan ukuran kecil dan kandungan nutrisi yang tepat. Pemberian pakan yang terlalu besar atau tidak sesuai bisa menyebabkan mereka sulit makan dan akhirnya mati.
Solusi:
Berikan pakan alami seperti kutu air (Daphnia) atau Artemia.
Pastikan frekuensi pemberian pakan 3-4 kali sehari dalam porsi kecil.
Gunakan pakan buatan yang mengandung protein tinggi jika diperlukan.
4. Kepadatan Kolam yang Terlalu Tinggi
Menempatkan terlalu banyak larva dalam satu kolam dapat menyebabkan stres, persaingan makanan, dan kualitas air yang menurun, sehingga meningkatkan risiko kematian.
Solusi:
Pastikan kepadatan larva lele sekitar 100-200 ekor per liter air.
Lakukan penyortiran larva secara berkala untuk menghindari kanibalisme.
5. Serangan Penyakit dan Parasit
Larva lele rentan terhadap infeksi bakteri, jamur, dan parasit jika kondisi air tidak optimal. Penyakit seperti aeromoniasis dan infeksi jamur Saprolegnia sering menyerang larva yang lemah.
Solusi:
Lakukan sterilisasi air menggunakan garam ikan atau daun ketapang.
Pisahkan larva yang terlihat sakit untuk mencegah penyebaran penyakit.
Pastikan kebersihan kolam tetap terjaga.
Dengan memahami penyebab larva lele mati setelah menetas dan solusinya, peternak dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup larva lele dan mengoptimalkan hasil budidaya. (Aya)
Baca juga: Cara Budidaya Ulat Bambu yang Cocok untuk Peternak Pemula
