Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0
Konten dari Pengguna
5 Perbedaan Canyoneering dan Rappelling, dari Teknik hingga Medan
28 Februari 2025 10:58 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Seputar Hobi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Perbedaan canyoneering dan rappelling menjadi hal penting bagi pecinta olahraga ekstrem yang ingin menjelajahi medan curam dan berair. Kedua aktivitas ini sering dianggap serupa, padahal memiliki teknik, tujuan, dan perlengkapan yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Memahami perbedaannya akan membantu dalam memilih tantangan yang sesuai dengan kemampuan dan pengalaman.
Perbedaan Canyoneering dan Rappelling
Berikut adalah perbedaan canyoneering dan rappelling yang dapat dilihat dari berbagai aspek, mengutip dari jacocanyoning.com.
1. Definisi dan Konsep Dasar
Canyoneering adalah aktivitas eksplorasi ngarai yang menggabungkan berbagai teknik seperti mendaki, berenang, melompat, dan rappelling.
Jalur yang dilalui sering kali melibatkan air terjun, sungai, serta dinding batu yang curam. Setiap rute dalam canyoneering bersifat unik dan menantang karena harus menyusuri ngarai tanpa melewati jalur yang sama dua kali.
Berbeda dengan canyoneering, rappelling adalah teknik menuruni tebing menggunakan tali dengan bantuan alat pengaman.
Kegiatan ini biasanya dilakukan dari satu titik tinggi ke titik rendah dengan sistem tali yang dikendalikan oleh peserta.
ADVERTISEMENT
Fokus utama dalam rappelling adalah teknik menuruni tebing dengan aman tanpa perlu melakukan eksplorasi lebih lanjut setelah mencapai dasar.
2. Tujuan dan Jenis Aktivitas
Setiap olahraga ekstrem memiliki tujuan yang berbeda, termasuk canyoneering dan rappelling.
Canyoneering bertujuan untuk menjelajahi jalur alami di dalam ngarai dengan berbagai tantangan yang harus diselesaikan sepanjang perjalanan.
Aktivitas ini tidak hanya berfokus pada satu teknik tertentu, melainkan mengombinasikan berbagai keterampilan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi medan.
Setiap perjalanan dalam canyoneering melibatkan elemen kejutan yang membuatnya lebih menarik dan penuh petualangan.
Sementara itu, rappelling bertujuan untuk menuruni tebing atau struktur tinggi dengan teknik kontrol tali yang tepat. Kegiatan ini sering digunakan dalam pendakian gunung, penyelamatan, serta latihan militer.
Peserta rappelling hanya perlu fokus pada cara menuruni permukaan dengan stabil, tanpa perlu menghadapi tantangan tambahan seperti berenang atau mendaki.
ADVERTISEMENT
3. Teknik dan Perlengkapan yang Digunakan
Perbedaan tujuan dalam kedua aktivitas ini juga memengaruhi teknik serta perlengkapan yang digunakan. Canyoneering membutuhkan berbagai teknik seperti hiking, climbing, jumping, swimming, dan rappelling.
Perlengkapan yang digunakan mencakup helm, harness, tali dinamis, sepatu khusus, pakaian tahan air, serta peralatan darurat.
Persiapan yang matang sangat diperlukan karena jalur yang dilewati bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi alam.
Di sisi lain, rappelling hanya membutuhkan teknik menuruni tali dengan bantuan perangkat seperti carabiner, descender, harness, dan sarung tangan pelindung.
Sepatu yang digunakan biasanya lebih fokus pada daya cengkeram untuk menjaga keseimbangan saat menuruni permukaan. Karena aktivitas ini lebih terfokus pada satu teknik, perlengkapannya juga lebih sederhana dibandingkan dengan canyoneering.
4. Tingkat Kesulitan dan Risiko
Setiap aktivitas ekstrem memiliki tantangan dan risiko yang berbeda. Canyoneering memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi karena melibatkan berbagai elemen alam seperti air terjun, batuan licin, dan arus sungai yang deras.
ADVERTISEMENT
Risiko yang dihadapi lebih kompleks karena peserta harus mampu beradaptasi dengan kondisi yang selalu berubah. Kesalahan dalam perhitungan medan dapat menyebabkan cedera serius atau terjebak di area yang sulit dijangkau.
Sementara itu, rappelling memiliki tingkat risiko yang lebih terkontrol karena hanya berfokus pada proses menuruni tebing dengan bantuan tali.
Tantangan utama dalam rappelling adalah memastikan teknik pengereman tali dilakukan dengan benar agar tidak kehilangan keseimbangan.
Selama perlengkapan digunakan dengan tepat, risiko cedera bisa diminimalkan dengan baik.
Setiap olahraga ekstrem memiliki karakteristik dan tingkat kesulitan yang berbeda. Perbedaan canyoneering dan rappelling perlu dipahami sebelum memilih aktivitas yang sesuai dengan keterampilan dan kesiapan fisik. (Shofia)
Baca Juga: 3 Cara Konsisten Workout tanpa Rasa Malas
ADVERTISEMENT