Cara Fermentasi Kotoran Ayam Broiler agar Tanaman Subur

Artikel yang membahas seputar hobi seperti menggambar, memelihara tanaman, hewan peliharaan, hingga meracik kopi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Seputar Hobi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cara fermentasi kotoran ayam broiler menjadi salah satu metode yang efektif untuk mengelola limbah peternakan sekaligus menghasilkan pupuk organik berkualitas.
Proses fermentasi tidak hanya membantu mengurangi bau tidak sedap dari kotoran ayam, tetapi juga meningkatkan nilai tambahnya sebagai bahan penyubur tanah. Metode ini semakin banyak digunakan karena ramah lingkungan dan mendukung pertanian.
Dikutip dari jurnal Pengolahan Kotoran Ayam Menjadi Pupuk Organik Ramah Lingkungan, Ritonga, dkk., (2022:137), kotoran ayam merupakan salah satu limbah yang memiliki potensi yang besar sebagai pupuk organik.
Cara Fermentasi Kotoran Ayam Broiler
Cara fermentasi kotoran ayam broiler adalah langkah penting untuk mengubah limbah menjadi pupuk organik yang aman dan kaya nutrisi bagi tanaman. Berikut langkah-langkahnya:
1. Persiapan Bahan-Bahan
Langkah awal dalam fermentasi kotoran ayam broiler adalah mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Kotoran ayam broiler menjadi bahan utama yang digunakan, biasanya sebanyak 100 kg atau sesuai kebutuhan.
Untuk menjaga tekstur campuran agar tidak terlalu basah, tambahkan sekam padi atau serbuk gergaji dengan perbandingan 3:1.
Selain itu, diperlukan larutan bioaktivator seperti EM4 sebanyak 1 liter yang dicampur dengan gula merah atau molase sebanyak 500 ml yang telah dilarutkan dalam 10 liter air.
Air tambahan digunakan untuk memastikan kelembapan campuran tetap ideal selama proses fermentasi.
2. Campuran dan Pemberian Bioaktivator
Setelah bahan siap, campurkan kotoran ayam dengan sekam padi atau serbuk gergaji di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung.
Selanjutnya, larutkan EM4 dan gula merah dalam air hingga tercampur rata, kemudian siramkan larutan ini secara merata ke campuran kotoran ayam dan sekam.
Aduk hingga semua bahan tercampur sempurna, dengan kelembapan yang cukup, yaitu sekitar 40–60%. Campuran yang ideal terasa lembap saat digenggam tetapi tidak menetes.
3. Proses Penumpukan dan Penutupan
Setelah dicampur, bahan fermentasi ditumpuk dengan tinggi sekitar 30–50 cm di atas permukaan rata. Tutup tumpukan menggunakan terpal atau plastik untuk menjaga suhu dan kelembapan selama fermentasi.
Penutupan ini penting agar proses fermentasi berjalan lancar tanpa terganggu oleh lingkungan luar seperti hujan atau sinar matahari langsung.
4. Pemantauan dan Pembalikan Campuran
Selama proses fermentasi, suhu tumpukan perlu dipantau. Biasanya, suhu meningkat hingga di atas 50°C akibat aktivitas mikroorganisme.
Jika suhu terlalu tinggi, campuran harus dibalik setiap 3–5 hari untuk mengurangi panas dan memastikan proses fermentasi berlangsung merata. Pembalikan ini juga membantu mempercepat dekomposisi bahan organik.
5. Fermentasi Selesai dan Penggunaan
Setelah sekitar 2–3 minggu, fermentasi selesai ditandai dengan campuran berwarna cokelat kehitaman, tidak berbau menyengat, dan terasa ringan. Pupuk organik ini kemudian dapat digunakan dengan cara menyebarkannya di sekitar tanaman atau lahan.
Untuk tanaman muda, gunakan 1–2 genggam pupuk per tanaman, sementara untuk lahan luas, aplikasikan 1–2 ton per hektar sesuai kebutuhan.
Dengan mengikuti cara fermentasi kotoran ayam broiler dan pupuk yang dihasilkan dari fermentasi ini, tanaman akan mendapatkan nutrisi yang cukup sehingga tumbuh subur dan hasil panen meningkat. (Fikah)
Baca juga: Cara Fermentasi Urine Sapi dengan EM4 untuk Pertanian Organik
