Museum Bahari Jakarta Utara: Wisata Sejarah Masa Kolonial Belanda

Mengulas serba serbi kota Jakarta, mulai dari sejarah, pariwisata, kebudayaan, dan lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Seputar Jakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Museum Bahari Jakarta adalah salah satu museum yang menyimpan sejarah panjang Jakarta. Museum Bahari juga menjadi saksi bisu sejarah perkembangan kebaharian Indonesia.
Museum Bahari terletak di Jalan Pasar Ikan No.1, Penjaringan, Jakarta Utara. Museum ini menarik untuk dikunjungi karena sejarah dan juga koleksi benda-benda serta ilmu pengetahuan mengenai sejarah pelayaran Indonesia.
Sejarah Museum Bahari Jakarta hingga Kini
Sejarah Museum Bahari Jakarta, dimulai pada masa penjajahan Belanda. Berdasarkan website resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dalam kemdikbud.go.id, bangunan ini pada mulanya adalah gudang miliki VOC.
Gudang VOC ini berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang menjadi komoditi utama, sangat laris di pasar Eropa. Rempah-rempah tersebut meliputi rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil.
Bangunan gudang itu berdiri persis di samping muara Ciliwung. Gudang ini pun terdiri dari dua sisi, yakni sisi barat yang dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun 1652-1771).
Kemudian gudang sisi timur disebut dengan Oostzijdsche Pakhuizen atau yang berarti Gudang Timur.
Di gudang barat terdiri dari 4 bangunan, yang 3 unit bangunan ini di antaranya sekarang digunakan sebagai Museum Bahari.
Ketika masa penjajahan Jepang, gedung-gedung ini digunakan untuk menyimpan barang logistik tentara Jepang. Lalu setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini sempat dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang.
Salah satu bangunan yang ikonik adalah Menara Syahbandar (Uitkijk), yang dibangun sekitar tahun 1839. Menara ini dahulu berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang akan keluar-masuk Kota Batavia melalui jalur laut.
Menara Syahbandar berfungsi pula sebagai kantor "pabean" -sekarang Bea Cukai, yakni mengumpulkan pajak atas barang-barang yang dibongkar di pelabuhan Sunda Kelapa.
Bangunan cagar budaya ini pada tahun 1976, dipugar dan pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.
Pada tahun 2015, Unit Pengelola Teknis (UPT) Museum Bahari pun digabungkan dengan UPT Taman Arkeologi Onrust dan Situs Marunda untuk kemudian dibentuk menjadi Unit Pengelola (UP) Museum Kebaharian Jakarta.
Hal ini dilakukan berdasarkan Pergub No. 295 tahun 2014 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta
Ada Apa Saja di Museum Bahari?
Sebagai tujuan wisata sejarah, ruang pameran di Museum Bahari di Jakarta Utara terdiri dari beberapa bagian. Berikut ini beberapa ruang pameran yang ada, dan dapat diakses oleh wisatawan. Informasinya berdasarkan Instagram resmi Museum Bahari, @museumkebaharianjkt.
Ruang Awal Perkembangan Pelayaran Nusantara
Memorial Museum Bahari
Ruang Pameran Kapal Asli
Perpustakaan Museum Bahari
Bioskop Museum Bahari
Akuarium
Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Museum Bahari
Museum Bahari tidak buka setiap hari. Museum Bahari buka pada hari Selasa hingga Minggu yakni pada pukul 08.00-15.00. Pada hari Senin museum ini tutup.
wisatawan yang ingin mengunjungi museum ini, perlu membayar harga tiket masuk. Berikut harga tiket masuk, yang tertera pada akun Instagram resminya, @museumkebaharianjkt.
Selasa-Jumat:
Dewasa Rp10.000
Pelajar/Mahasiswa Rp5.000
Wisatawan Mancanegara Rp50.000
Sabtu/Minggu
Dewasa Rp15.000
Pelajar/Mahasiswa Rp5.000
Wisatawan Mancanegara Rp50.000
Ada juga harga khusus untuk rombongan dengan minimal 30 orang.
Baca Juga: 5 Museum di Jakarta, Wisata sambil Belajar
Museum Bahari Jakarta wajib dikunjungi bagi wisatawan yang ingin mengenal dan mengetahui banyak sejarah kebaharian Jakarta dan Indonesia. Museum ini juga bisa jadi destinasi liburan bersama anak-anak. (Fitri A)
