Sejarah Pura Mangkunegaran dan Filosofi Bangunannya

Artikel yang membahas tentang Kota Solo
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Seputar Solo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Pura Mangkunegaran dan filosofi bangunannya penting untuk diketahui, khususnya oleh masyarakat Jawa. Tempat ini merupakan salah satu istana yang terletak di kota Solo, Jawa Tengah.
Dikenal sebagai tempat tinggal dan pusat pemerintahan bagi keluarga Mangkunegaran, pura ini memiliki sejarah yang kaya dan diwarnai oleh peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
Sejarah Pura Mangkunegaran
Menurut buku Kawasan Warisan Kota Surakarta Studi tentang Otentisitas Kota, Eko Nursanty (2020:64), sejarah Pura Mangkunegaran diawali dari Mangkunegaran yang merupakan suatu dinasti yang berasal dari Dinasti Mataram. Cikal Bakal dari dinasti ini adalah Pangeran Sambernyawa yang bertahta sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.
Istana Mangkunegaran sebagai pusat pengendalian kekuasaan politik didirikan setelah ditanda tanganinya Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757 di Salatiga.
Menurut Wasino (2014), Mangkunegaran menempati wilayah di bagian timur dan utara Karesidenan Surakarta. Daerahnya terpencar di beberapa tempat, termasuk wilayah Kasunan dan Kasultanan. Saat ini, Pura Mangkuneran berada di Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Surakarta.
Pura Mangkunegaran setelah masa kemerdekaan, sempat menjadi sebuah Daerah Istimewa Solo kemudian akhirnya menjadi bagian dari Karesidenan Surakarta, di mana keraton berfungsi sebagai pusat budaya masyarakat Jawa.
Filosofi Bangunan Pura Mangkunegaran
Pura Mangkunegaran merupakan tempat para penghuni istana tinggal. Pembagian penempatan lokasi tempat tinggal ini juga berdasarkan makna filosofis khas rumah Jawa, termasuk bangunannya. Berikut filosofi bangunan Pura Mangkunegaran.
Warna istana kuning dan hijau: Mengeluarkan energi positif ketika dipandang.
Penempatan lokasi sisi kanan istana: Area keputren yang digunakan untuk tempat tinggal para kelurga keraton yang berjenis kelamin perempuan.
Penempatan lokasi sisi kiri istana: Area keputren untuk tempat tinggal keluarga keraton berjenis kelamin laki-laki.
Patung Singa di kolam air mancur istana: Melambangkan kekuasaan, power, serta kepemimpinan.
Patung Singa diletakan di setiap arah mata angin: Pemimpin tidak boleh mengambil keputusan secara sembarangan, melainkan harus dipikir secara matang terlebih dahulu.
Bangunan Bale Warni berbentuk segi delapan: Filosofi angka delapan yaitu untuk menyambung tali silaturahmi agar tidak terputus.
Baca Juga: Cara Masuk Pura Mangkunegaran Solo yang Perlu Diketahui oleh Pengunjung
Itu dia sejarah Pura Mangkunegaran dan filosofi bangunannya yang dapat diketahui. Keanggunan arsitektur tradisional pada bangunan Pura Mangkunegaran menjadi salah satu identitas dari kebudayaan yang mempunyai arti penting dalam kehidupan, khususnya bagi masyarakat Solo. (DIA)
