Konten dari Pengguna

Pengertian Sumbu Filosofi Yogyakarta dan Sejarahnya sebagai Warisan Budaya

Seputar Yogyakarta

Seputar Yogyakarta

Mengulas serba serbi kota Yogyakarta.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Seputar Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sumbu Filosofi Yogyakarta   Sumber Unsplash/Angga Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sumbu Filosofi Yogyakarta Sumber Unsplash/Angga Kurniawan

Peta sumbu filosofi Yogyakarta membentang dari Laut Selatan hingga Gunung Merapi. Filosofi ini menjadi bagian dari kearifan lokal yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta.

Sumbu filosofi Keraton Yogyakarta telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Status tersebut disahkan di sidang ke-45 World Heritage Committe (Komite Warisan Dunia), pada tanggal 18 September 2023.

Pengertian Sumbu Filosofi Yogyakarta

Ilustrasi Sumbu Filosofi Yogyakarta Sumber Unsplash/Elang Wardhana

Pengertian sumbu filosofi Yogyakarta adalah konsep penataan tata ruang Keraton Yogyakarta, yang merupakan perwujudan dari simbol daur hidup manusia. Konsep ini diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I.

Daur hidup manusia, antara lain berupa peristiwa berikut.

  1. Kelahiran (Sangkan)

  2. Pernikahan (Kedewasaan)

  3. Kembali kepada Sang Pencipta (Paran) atau disebut juga sebagai Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan dari ada).

Konsep tiga ritus utama daur hidup manusia ini, diwujudkan dalam tata ruang Keraton Yogyakarta. Peta sumbu filosofi yang berbentuk warisan budaya, yaitu.

  1. Laut Selatan

  2. Panggung Krapyak

  3. Alun-Alun Selatan

  4. Keraton

  5. Alun-Alun Utara

  6. Tugu Golong Giling

  7. Gunung Merapi

Sejarah Singkat Sumbu Filosofi Yogyakarta

Ilustrasi Sumbu Filosofi Yogyakarta Sumber Unsplash/Jauzax

Sejarah sumbu filosofi dimulai saat ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian ini membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Solo dan Kasultanan Yogyakarta.

Dikutip dari situs resmi Dinas Kebudayaan Jogja, budaya.jogjaprov.go.id, paska perjanjian tersebut, Sultan Hamengku Buwana I untuk sementara tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang sambil menunggu pembangunan keraton selesai.

Pada saat itu, tata fisik kota Kasultanan Yogyakarta, terutama pusatnya, sudah mencapai bentuknya yang utuh. Sumbu filosofi Yogyakarta dimulai dari dibangunnya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai embrio Kota Yogyakarta.

Selanjutnya, tata ruang di sekitar keraton berkembang dengan berlandaskan filosofi oleh Sultan HB I, termasuk sumbu filosofi Panggung Krapyak, Keraton, dan Tugu Pal Putih (Golong Gilig).

Sumbu filosofi terletak di dekat pusat kota Yogyakarta yang meliputi 2 Kawasan Cagar Budaya, yaitu Keraton dan Malioboro.

Area sumbu filosofi mencakup 6 Kecamatan, yaitu Gedong Tengen, Ngampilan, Danurejan, Jetis, Kraton, dan Gondomanan, dengan lahan seluas kurang lebih 997.543 hektare

Area ini kemudian berkembang sebagai kawasan perdagangan serta jasa pariwisata dengan Tugu dan Panggung Krapyak menjadi bagian dari keraton, sebagai sumbu, as atau sentral dari pengembangan kawasan.

Baca juga: Wisata Keraton Yogyakarta, Tempat Bersejarah di Jogja yang Wajib Dikunjungi

Sumbu filosofi Yogyakarta merupakan konsep tata ruang kota yang dirancang dengan filosofi. Konsep ini diciptakan oleh arsitek jenius, yaitu Pangeran Mangkubumi (Sultan HB 1).(DIK)