Konten dari Pengguna

Mengapa Hasil Penelitian Perlu Dipahami Masyarakat?

serly salsasabila

serly salsasabila

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari serly salsasabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Untuk membuat sebuah hasil penelitian, seorang peneliti bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk meneliti satu objek. Mulai dari mengumpulkan data, melakukan observasi, wawancara, membaca puluhan literatur, menganalisis temuan, berdiskusi sesama akademisi, hingga menuliskan hasilnya dalam sebuah publikasi ilmiah.

Foto: Unsplash/Dan Dimmock
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash/Dan Dimmock

Secara akademik, pekerjaan itu dapat dikatakan selesai ketika penelitian terbit.

Tetapi, ada satu pertanyaan yang menarik untuk diajukan: siapa nantinya yang kemudian memahami hasil penelitian tersebut?

Tidak jarang, yang akan membaca memang orang-orang yang sudah berada di lingkungan akademik. Mereka yang terbiasa membaca jurnal, memahami istilah teknis, dan mengetahui konteks dari penelitian tersebut.

Sementara itu, masyarakat yang mungkin menjadi bagian dari persoalan yang diteliti malah tidak mengetahui apa hasilnya.

Di sinilah adanya gap atau jarak antara pengetahuan yang diproduksi oleh akademisi dan pengetahuan yang dapat diakses oleh masyarakat.

Bahasa Akademik dan Tembok Pengetahuan

Bahasa akademik tentu memiliki fungsi penting. Ada istilah-istilah ilmiah yang memang diperlukan agar peneliti dapat menjelaskan konsep secara presisi dan itu menjadi cara untuk berkomunikasi dengan peneliti lain di berbagai negara.

Masalah muncul ketika bahasa tersebut menjadi satu-satunya cara untuk menyampaikan hasil penelitian kepada publik.

Pelestarian berbasis community engagement dalam kerangka cultural resource management diperlukan untuk meningkatkan partisipasi stakeholder dalam pengelolaan sumber daya budaya.

Bagi seorang akademisi yang mendalami topik tersebut, kalimat itu cukup jelas. Tetapi bagi orang yang tidak berasal dari bidangnya atau kajian warisan budaya, mungkin muncul pertanyaan sederhana seperti “maksudnya apa? Dan apa hubungannya dengan hidup saya?”

Pertanyaan itu lahir bukan karena masyarakat tidak tertarik, bisa jadi pengetahuan tersebut memang belum “dibungkus” dalam bentuk yang dapat mereka pahami.

Karena itu, persoalan yang dihadapi khususnya di Indonesia bukan karena kurang minatnya masyarakat terhadap pengetahuan, tapi persoalan komunikasi di antara keduanya yang belum dapat dipahami.

Bahasa Awam Bukan Berarti Mengurangi Kualitas Ilmu

Ada anggapan jika menjelaskan penelitian menggunakan bahasa sederhana akan membuatnya menjadi kurang ilmiah.

Padahal, menyederhanakan cara penyampaian tidak sama dengan menyederhanakan substansi penelitian.

Bayangkan jika seorang dokter menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien dengan bahasa ilmiah bukan bahasa yang mudah dipahami; apakah pasien tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya?

Begitu pula akademisi.

Mengubah bahasa akademik menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami publik bukan berarti membuang data atau menghilangkan kompleksitas penelitian. Yang berubah adalah cara menyampaikan pengetahuan, bukan pengetahuannya.

Masyarakat Bukan Hanya Penerima Informasi

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah komunikasi pengetahuan tidak seharusnya dipahami sebagai proses satu arah: akademisi memiliki pengetahuan, lalu masyarakat hanya tinggal menerima.

Di dalam budaya khususnya, masyarakat bukan ruang kosong yang harus diisi oleh pengetahuan akademik. Mereka memiliki pengalaman, ingatan, pengetahuan lokal, dan cara mereka sendiri dalam memahami lingkungan serta kebudayaan di sekitarnya.

Karena itu, komunikasi ilmiah yang baik seharusnya membuka ruang untuk percakapan.

Akademisi menjelaskan hasil penelitian yang kemudian ditanggapi oleh masyarakat dan hasil tersebut dapat menjadi masukan bagi penelitian berikutnya.

Di titik tersebut, komunikasi pengetahuan bukan hanya aktivitas menyebarkan informasi.

Ia dapat menjadi bagian dari proses produksi pengetahuan itu sendiri.

Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan oleh para akademisi yaitu akademisi memang bertugas menghasilkan pengetahuan, tetapi pengetahuan yang hidup adalah pengetahuan yang mampu keluar dari ruang akademik dan menemukan masyarakatnya.