Kebiasaan Booking Kursi di Kelas, Bentuk Solidaritas atau Egoisme?

Serren Surya Anggita mahasiswi aktif semester 3, Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia (UBM).
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Serren Surya Anggita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah mahasiswa datang ke kelas dan menemukan kursi kosong yang ternyata sudah disiapkan untuk seseorang yang belum hadir? Biasanya, tas, buku, atau barang lainnya diletakkan di atas meja sebagai tanda bahwa tempat tersebut telah disisihkan. Di lingkungan perkuliahan, pemandangan seperti ini cukup sering dijumpai. Mahasiswa yang datang lebih awal biasanya menyisakan beberapa kursi untuk teman satu circle yang belum tiba. Hal ini dapat terjadi karena jarak tempat tinggal setiap mahasiswa berbeda-beda. Ada yang dapat mencapai kampus dalam waktu singkat, sementara yang lain harus menempuh perjalanan lebih jauh. Akibatnya, kebiasaan memesan tempat duduk menjadi salah satu cara agar mereka tetap dapat duduk berdekatan saat perkuliahan berlangsung.
Kebiasaan ini sebenarnya memiliki sisi positif. Menyisakan kursi untuk teman dapat menjadi bentuk perhatian sederhana, terutama bagi mahasiswa yang terbiasa berangkat dan mengikuti perkuliahan bersama. Duduk berdekatan juga memudahkan mereka untuk berkomunikasi, berdiskusi mengenai materi, atau berbincang sebelum dosen memulai kelas. Namun, kebiasaan yang awalnya bertujuan untuk membantu teman ini dapat menimbulkan persoalan ketika ruang kelas mulai dipenuhi mahasiswa. Bayangkan seorang mahasiswa yang telah datang lebih awal ingin segera duduk, tetapi beberapa kursi kosong justru telah ditempati tas milik mahasiswa lain yang belum hadir. Situasi tersebut dapat membuatnya merasa sungkan untuk menggunakan kursi yang sebenarnya masih kosong karena khawatir dianggap mengambil tempat orang lain.
Menurut saya, memesan kursi untuk teman tidak selalu dapat dianggap sebagai tindakan egois. Ada niat baik di balik kebiasaan tersebut, yaitu menjaga tempat agar teman dapat duduk bersama. Namun, tindakan ini tetap perlu mempertimbangkan kondisi kelas. Ketika kelas masih sepi, menyisakan satu atau dua kursi mungkin tidak menimbulkan masalah. Situasinya berbeda apabila beberapa kursi dalam satu baris telah ditandai dengan barang, sementara mahasiswa lain kesulitan menemukan tempat duduk. Dalam keadaan seperti ini, keinginan untuk duduk bersama teman dapat terlihat lebih diutamakan daripada kebutuhan mahasiswa lain. Padahal, ruang kelas merupakan fasilitas yang digunakan bersama dan setiap mahasiswa memiliki kebutuhan yang sama untuk mendapatkan tempat duduk. Menurut saya, menjaga tempat untuk teman tetap dapat dilakukan tanpa mengabaikan kenyamanan orang lain.
Pada akhirnya, duduk bersama teman dekat bukanlah sesuatu yang keliru. Setiap mahasiswa tentu memiliki kenyamanan tersendiri ketika berada di dekat orang yang sudah dikenal. Namun, kenyamanan tersebut sebaiknya tidak membuat kita mengabaikan kebutuhan mahasiswa lain. Memesan kursi untuk teman masih dapat dimaklumi selama jumlah tempat yang disisakan wajar dan kondisi kelas memungkinkan. Kita juga perlu bersikap terbuka ketika ada mahasiswa lain yang membutuhkan tempat duduk. Sebab, kehidupan perkuliahan bukan hanya tentang membangun kedekatan dengan kelompok pertemanan sendiri, tetapi juga tentang belajar menghargai keberadaan orang lain. Ruang kelas digunakan bersama, sehingga kebiasaan sederhana seperti memesan kursi pun sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama.
