News
·
18 Juni 2021 11:59
·
waktu baca 3 menit

BTS Meal, Fenomena Mengukur Nasionalisme

Konten ini diproduksi oleh Seto Galih Pratomo
BTS Meal, Fenomena Mengukur Nasionalisme (76462)
searchPerbesar
sumber: pixabay
Mengomentari tentang Fenomena McD The BTS Meal. Miris sekaligus kagum, miris dengan budaya konsumtif orang Indonesia yang menyukai produk asing dan kagum terhadap manajemen marketing McD. Menyukai produk asing memang tak salah, tapi jangan sampai fanatik dan lupa dengan negaranya sendiri. Menggandrungi budaya asing dari sini bibit terkikisnya nasionalisme pada anak muda bangsa. Loh kok bisa? Baik, kita bahas secara perlahan.
ADVERTISEMENT
Namun perlu dipahami tulisan ini sebagai bahan dedikasi atau autokritik sesama anak bangsa bukan dalam rangka menyalah-nyalahkan. Karena membeli atau memakan McDonald BTS Meal atau mengagumi BTS tidak ada salahnya dan tetap nasionalis selagi masih peduli terhadap negaranya. Apalagi yang eating just eating atau sekadar ingin tahu saja. Namun tulisan ini adalah sebagai bahan renungan kita semua termasuk penulis sendiri.
Baru saja kita melihat publik figur atau seorang artis lulus dari Oxford University dan dilanjutkan Stanford University, ya Maudy Ayunda. Ketika diwisuda kemarin dengan bangganya menggunakan batik dan kebaya yang dibalut baju wisuda almamaternya. Maudy memang menempuh pendidikannya di luar negeri bertahun-tahun, tapi tidak melupakan jati dirinya sebagai anak bangsa Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pemikiran boleh luar, tapi jati diri tetap lokal
Tidak seperti sebagian anak muda yang bilang;

"Lu gak pakai atau ngefans luar negeri, gak keren”, “Yah makannya tempe kayak orang desa”, “Yah pakai batik kayak orang tua”, dan kalimat lainnya.

Padahal membudayakan budaya dan produk bangsa sendiri adalah kewajiban setiap anak bangsa. Namun saat ini luntur dengan bombardir faktor asing. Jika nge-fans faktor asing seperti kemajuan teknologinya, cara berpikirnya, dan sebagainya, sangat dianjurkan. Setelah itu diadopsi untuk kemajuan bangsa seperti yang dilakukan lulusan luar negeri seperti Nadiem Makarim dengan Gojeknya, Belva Devara dengan Ruanggurunya, dan lain-lain.
Lantas hubungan McD dengan nasionalisme apa? Ya itu tadi, membumingnya dan bombardir produk mereka di Indonesia membuat produk lokal kita kalah saing bahkan dikesampingkan atau dikecilkan oleh anak bangsa sendiri. Mirisnya mereka bangga. Seperti perkataan, "Yah makanan lu tahu, gak zaman, gue dong McD", "Yah pakai kebaya, gue dong brand luar nih" dan lain-lain. Hal. Ini secara halus nasionalisme anak bangsa terkikis. Lebih membanggakan produk dan budaya luar dibanding produk atau budaya nya sendiri.
ADVERTISEMENT
Pertanyaan besar;

kenapa anak Indonesia tidak berpikir menduniakan produknya sendiri?

Dengan cara bersama melestarikan dan mengekspos budaya dan produk lokal di dunia digital yang mampu menembus ruang dan waktu. Bahkan bisa menduniakan semua hal tentang bangsanya di kancah internasional. Mungkin ini bisa dijawab kepada segenap anak bangsa.
Ya, jika memang budaya konsumtif sudah mengakar di sendi kehidupan bangsa ini. Minimalnya kita bisa meminimalisir hal itu. Jika tidak bisa menjadi pemain di lapangan, maka jadilah suporter yang semangat mendukung pemainnya. Mungkin kalimat itu bisa menjadi kaca untuk kita, jika tidak dapat membuat, maka dukunglah buatan sesama.
Namun seyogyanya kita sedikit demi sedikit untuk membuat apa yang bisa dibuat. Dengan sendirinya kita akan bereksporasi dengan yang kita sukai. Tentang apapun itu, makanan, barang, bisnis, ataupun lain sebagainya.

Menjadi produsen jauh lebih baik dibandingkan menjadi konsumen saja.

Jadi konsumen tidak ada salahnya, selain efesiensi waktu juga tidak perlu ribet. Namun jangan terlalu terus-menerus sampai kegandrungan menjadi konsumtif. Amat disayangkan, Indonesia dengan kekayaan alam dan sumber daya manusia yang melimpah tidak dapat diolah dengan baik oleh anak bangsanya sendiri. Tidak mau menyolah atau masa bodo terhadap ini. Jika tidak dapat mengelolahnya, ya benar, memang bangsa kita sudah mendarah daging budaya konsumtifnya. Maka ketika diberi sesuatu, tidak tahu cara mengelolah.
ADVERTISEMENT
Coba mindset anak bangsa diubah dari budaya konsumtif ke budaya produktif. Mulai dari hal kecil, seperti menanak beras menjadi nasi. Ya penulis miris saja ketika menemui teman yang tidak bisa hal tersebut, padahal sangat simple bila dikerjakan. Hanya memasukkan beras dengan takaran cukup, dan mencurinya sampai bersih, setelah itu diberi air bersih setelahnya dimasukkan magic com dan ditutup, terakhir pencet tombol memasak, selesai tunggu matang.
Ya memang simple tapi banyak yang tidak tahu atau memang tidak mau tahu. Tahunya hanya makan masakan ibu, atau membeli nasi di warung, setelah itu makan, selesai. Dari sini penulis jadi teringat ketika duduk di bangku sekolah. Terutama pelajaran Bahasa Indonesia, kita menemukan cara-cara atau tutorial seperti cara memasak sesuatu, membuat sesuatu, atau apa pun itu. Ketika ujian kita disajikan soal dengan tata urutan tutorial yang diacak, dan kita disuruh menjawabnya, dan itu benar. Namun, coba kita disuruh mempraktikkan, mungkin yang menjawab soal dengan benar itu banyak yang tidak bisa mempraktikkannya dengan benar.
ADVERTISEMENT
Ya memang kita sejak sekolah didoktrin untuk mengejar nilai bukan keterampilan atau bahasa kerennya, skill. Didoktrin untuk meniru atau mengonsumsi yang sudah ada, bukan mengeksplorasi diri dengan bakat masing-masing dan membuat apa saja yang dibisanya. Inilah sistem pendidikan kita, luka bekas penjajahan beratus tahun yang belum hilang. Mental dijajah masih melekat yang membuat Indonesia sulit untuk maju.
Dahulu ketika dijajah, rakyat hanya bisa menuruti apa kata penjajah, sedikit yang berani melawan. Melawan akan keadaan sama saja mencari mati. Sama halnya seperti anak bangsa saat ini yang sedang belajar. Ia hanya bisa menuruti apa kata buku dan guru. Ketika anak ingin menyanggah pernyataan buku atau guru, fatal resikonya, bisa dibilang sesat atau tidak hormat kepada guru.
ADVERTISEMENT
Ya memang ini sebuah ironi bangsa kita. Untuk berani mengeksplorasi dan berpikir out of the box butuh keberanian bahkan mental kuat. Berbeda dengan sistem pendidikan negara maju. Sangat mengapresiasi siswanya yang agresif dan kritis. Dan guru mereka memang mengajarkan untuk seperti itu. Simplenya, ketika ada pelajaran tentang hewan berkaki empat, guru akan membawa hewan tersebut atau membawa anak kelas untuk bertemu dengan hewannya.
Mungkin hewan yang biasa ditemui, kalau di Indonesia seperti kucing. Guru akan membiarkan anak didiknya mengamati dengan saksama sambil memantik pertanyaan kepada muridnya. Dengan sedikit penjelasan sang guru. Dari hal tersebut akan ada sanggahan dan banyak pertanyaan yang timbul seperti, kenapa kucing punya bulu, kenapa kucing kakinya ada empat, kenapa kucing suka menjilat tubuhnya, dan lain sebagainya. Mungkin ini sebagai pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia juga rakyatnya terkhusus anak muda untuk berbenah diri ke depannya lebih baik dan maju.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020