Mengapa Pendidikan Islam Kita Masih Gagal Melahirkan Generasi Berakhlak?

Saya Yusuf Setyaji, saya pendidik muda asal Sragen dan guru Tafsir Al-Qur'an di Pondok Pesantren Ibnu Abbas. Lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta ini fokus pada pendidikan Islam, karakter, dan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan modern
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Yusuf Fathyr tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kasus perundungan, tawuran pelajar, skandal alumni pesantren, krisis akhlak, kegagalan pendidikan Islam, lemahnya pendidikan karakter, dikotomi ilmu, ketidaksiapan guru agama, kurikulum yang usang, serta rendahnya transformasi akhlak menjadi kata kunci penting untuk memahami persoalan utama yang dibahas dalam tulisan ini.
Selain itu, keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada keteladanan guru dan lingkungan sekolah. Tanpa ekosistem yang mendukung nilai-nilai moral, peserta didik hanya akan menjadikan nasihat guru sebagai teori, sementara perilaku sehari-harinya tidak mengalami perubahan berarti.
Jawabannya mungkin lebih menyakitkan dari yang kita kira: bukan karena agamanya yang salah, tapi cara kita mengajarkannya yang keliru.
Pendidikan Islam Hanya Soal Hapalan dan Ritual
Cobalah tanya anak SMA yang baru pulang dari pelajaran agama: apa yang dia dapat hari ini? Kemungkinan besar jawabannya berkisar pada hafalan doa, rukun Islam, atau hukum-hukum fikih yang dijejalkan tanpa konteks.
Harun Nasution, tokoh pembaharu pendidikan Islam Indonesia, sudah mengingatkan hal ini sejak puluhan tahun lalu. Menurutnya, pendidikan Islam kita terlalu fokus pada aspek ritual dan fikih, tapi miskin pembinaan karakter. Kita sibuk mengajarkan anak bagaimana cara berwudhu yang benar, tapi lupa mengajarkan kenapa kejujuran itu penting. Kita hapal rukun iman, tapi tidak paham bagaimana mengimplementasikan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.
Harun Nasution menegaskan: "Tujuan pendidikan agama bukan menjelaskan bahwa menyontek itu salah, tetapi mendidik anak agar tidak menyontek karena itu perbuatan buruk."
Perbedaannya mendasar. Yang pertama hanya transfer pengetahuan. Yang kedua adalah transformasi karakter. Sayangnya, sistem pendidikan Islam kita masih terjebak pada yang pertama.
Jurang Antara Surga dan Laboratorium
Masalah kedua yang tidak kalah serius adalah dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Di benak banyak orang tua Muslim, ada pembagian tegas: anak yang shaleh harus mondok atau masuk madrasah, sementara yang mau sukses dunia masuk sekolah umum. Seolah-olah agama dan sains adalah dua jalan berbeda yang tidak mungkin bertemu.
M. Amin Abdullah, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, menyebut fenomena ini sebagai "dikotomi yang melukai." Akibatnya? Lahir generasi yang pincang: santri yang jago ngaji tapi gagap teknologi, atau sarjana yang pintar sains tapi kering spiritualitas.
Padahal, sejarah Islam justru mencatat hal sebaliknya. Di masa keemasan Islam, tokoh seperti Ibnu Sina tidak hanya ahli tafsir, tapi juga dokter dan filsuf. Al-Khawarizmi bukan cuma hafal Al-Qur'an, tapi juga bapak algoritma yang jadi dasar komputer modern. Mereka membuktikan bahwa masjid dan laboratorium bukan dua dunia yang bertentangan.
Amin Abdullah menawarkan konsep "integrasi-interkoneksi": ilmu agama dan umum harus saling menyapa, saling mengisi, bukan saling menghindar. Al-Qur'an menjadi sumber nilai, sementara sains menjadi alat untuk memahami ayat-ayat kauniyah (fenomena alam). Keduanya harus berjalan beriringan.
Guru Agama yang Tidak Menjadi Teladan
Ada satu lagi masalah krusial: kualitas pendidik agama kita. Harun Nasution menekankan bahwa guru agama bukan sekadar pengajar, tapi harus menjadi teladan hidup. Tapi kenyataannya?
Kita sering menemukan guru agama yang mengajarkan kejujuran di kelas, tapi korupsi nilai di rapor. Ustadz yang ceramah tentang kesederhanaan, tapi pamer kemewahan di media sosial. Kyai yang berdakwah tentang toleransi, tapi menyebarkan ujaran kebencian di grup WhatsApp.
Anak-anak tidak bodoh. Mereka bisa membaca inkonsistensi. Dan ketika mereka melihat guru agamanya tidak mempraktikkan apa yang diajarkan, mereka belajar satu hal: agama hanya retorika, bukan pedoman hidup.
Harun Nasution mengingatkan bahwa pendidik agama harus memenuhi empat syarat: mampu memberi teladan, menguasai ilmu pendidikan anak, memiliki pengetahuan agama yang luas, dan memiliki wawasan umum yang seimbang. Pertanyaannya: berapa banyak guru agama kita yang memenuhi kriteria ini?
Kurikulum yang Ketinggalan Zaman
Coba lihat buku pelajaran agama Islam di sekolah. Materinya hampir tidak berubah sejak puluhan tahun lalu. Masih berkutat pada hapalan surat pendek, hukum waris, dan tata cara shalat. Tidak ada yang salah dengan materi itu, tapi pertanyaannya: apakah cukup relevan untuk menjawab tantangan zaman now?
Anak-anak sekarang hidup di era digital, dikelilingi media sosial, terpapar berita hoaks, menghadapi krisis lingkungan, dan menyaksikan konflik global. Mereka butuh pendidikan agama yang tidak hanya bicara soal surga-neraka, tapi juga memberi panduan etis bagaimana bersikap di dunia maya, bagaimana memilah informasi, bagaimana menjaga bumi, bagaimana hidup berdampingan dengan perbedaan.
Amin Abdullah mengingatkan bahwa kurikulum pendidikan Islam harus dinamis, tidak statis. Di tingkat dasar, fokus pada pembentukan karakter. Di tingkat menengah, ajarkan etika sosial. Di perguruan tinggi, kembangkan kemampuan berpikir kritis dan filosofis tentang agama.
Tapi faktanya? Dari TK hingga perguruan tinggi, anak-anak kita dapat materi yang itu-itu saja, diulang dengan cara yang sama, tanpa evolusi.
Mengukur Kesuksesan dari yang Salah
Selama ini, kesuksesan pendidikan agama diukur dari seberapa banyak hafalan atau seberapa lancar bacaan. Nilai mata pelajaran agama Islam di rapor ditentukan oleh seberapa hafal siswa menjawab soal pilihan ganda tentang hukum fikih.
Harun Nasution dan Amin Abdullah sepakat: ini ukuran yang salah total. Kesuksesan pendidikan agama seharusnya diukur dari transformasi perilaku. Apakah anak menjadi lebih jujur? Apakah ia lebih peduli pada orang lain? Apakah ia mampu mengendalikan emosi? Apakah ia menghormati perbedaan?
Sayangnya, aspek-aspek ini sulit diukur dengan ujian tertulis. Maka, sistem kita pun mengambil jalan pintas: ukur yang bisa diukur, abaikan yang penting.
Jalan Keluar: Kembali ke Esensi
Lalu, apa solusinya? Harun Nasution dan Amin Abdullah sudah memberi peta jalannya sejak puluhan tahun lalu. Saatnya kita mendengarkan.
Pertama, ubah paradigma dari "mengajar agama" menjadi "mendidik karakter berbasis agama." Pendidikan agama bukan transfer pengetahuan tentang Islam, tapi proses pembentukan jiwa yang Islami. Ini butuh metode yang berbeda: bukan ceramah dan hapalan, tapi dialog, keteladanan, dan praktik langsung.
Kedua, hancurkan tembok dikotomi. Sekolah agama harus mengajarkan sains dengan serius. Sekolah umum harus mengintegrasikan nilai-nilai spiritual. Pesantren perlu laboratorium. Universitas umum perlu masjid yang hidup. Tidak ada lagi pembagian: ini wilayah agama, itu wilayah dunia.
Ketiga, tingkatkan kualitas pendidik agama secara masif. Jangan hanya mengandalkan kemampuan mengaji. Guru agama harus dilatih pedagogis, psikologi anak, dan wawasan kontemporer. Yang terpenting, mereka harus menjadi teladan hidup, bukan sekadar penceramah.
Keempat, buat kurikulum yang relevan dan adaptif. Materi pendidikan agama harus menjawab persoalan nyata yang dihadapi generasi muda: krisis identitas, mental health, literasi digital, isu lingkungan, hingga radikalisme. Al-Qur'an dan Hadits bukan sekadar teks yang dihafal, tapi sumber solusi untuk kehidupan.
Kelima, ubah sistem evaluasi. Jangan lagi mengukur keberhasilan dari nilai ujian tulis. Gunakan portofolio karakter, penilaian sikap dari berbagai pihak, dan observasi perilaku dalam jangka panjang.
Masih Adakah Harapan?
Kabar baiknya, perubahan sudah mulai terjadi. Transformasi IAIN menjadi UIN di berbagai daerah adalah bukti bahwa dikotomi mulai terkikis. Pesantren-pesantren modern seperti Gontor sudah memadukan kurikulum agama dan umum sejak puluhan tahun lalu, dan alumninya membuktikan bahwa santri bisa jadi scientist, pengusaha, dan profesional sukses tanpa kehilangan identitas keislaman mereka.
Sekolah-sekolah Islam terpadu yang menjamur di kota-kota besar juga menunjukkan bahwa orang tua Muslim mulai sadar: mereka menginginkan anak yang tidak hanya pintar mengaji, tapi juga cerdas, berkarakter, dan siap berkompetisi global.
Tapi perubahan ini masih terlalu lambat dan terbatas. Mayoritas madrasah dan sekolah Islam kita masih beroperasi dengan paradigma lama. Masih banyak guru agama yang tidak mendapat pelatihan memadai. Masih banyak kurikulum yang tidak relevan.
Yang paling penting: masih banyak orang tua yang menganggap pendidikan agama hanya soal membuat anak hafal doa dan rajin shalat, tanpa peduli pada pembentukan karakter integralnya.
Penutup: Agama Bukan Hanya untuk Akhirat
Pendidikan Islam tidak boleh hanya mempersiapkan anak untuk kehidupan setelah mati. Ia harus membekali mereka untuk menghadapi kehidupan sebelum mati dengan sebaik-baiknya.
Agama bukan pelarian dari dunia, tapi panduan untuk memperbaikinya. Agama bukan sekadar ritual yang dijalankan, tapi nilai yang dihidupi. Agama bukan pengetahuan yang dihafal, tapi karakter yang ditumbuhkan.
Harun Nasution pernah berkata: "Pendidikan agama seharusnya menghasilkan siswa yang berjiwa agama, bukan sekadar berpengetahuan agama."
Pendidikan Islam tidak akan pernah berhasil melahirkan generasi berakhlak selama kita hanya sibuk menambah hafalan, memperbanyak ritual, dan mempertahankan kurikulum lama; sebab akhlak bukan lahir dari tumpukan materi, tetapi dari keteladanan guru, integrasi ilmu dan nilai, serta keberanian mengubah cara kita mendidik manusia.
Sudah saatnya kita berhenti sekadar mengajarkan Islam, dan mulai mendidik dengan Islam. Perbedaan kecil dalam kata, tapi revolusioner dalam praktik. Dan revolusi ini harus dimulai sekarang, sebelum kita kehilangan satu generasi lagi.
Oleh: Yusuf Setyaji, Mahasiswa Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
#OpiniIslam #PendidikanIslam #KrisisAkhlak #DikotomiIlmu #KurikulumAgama #KeteladananGuru #ReformasiPendidikan #IntegrasiIlmu #KarakterIslam #TransformasiAkhlak
