Konten dari Pengguna

Inspiration Porn : Ketika Disabilitas Dijadikan Konsumsi Emosional Publik

Sevinka Ananda Putri

Sevinka Ananda Putri

Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sevinka Ananda Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com

Di tengah era digital yang dipenuhi konten haru dan inspiratif, kita sering menemukan video atau cerita tentang penyandang disabilitas yang “berhasil” melakukan hal-hal yang dianggap luar biasa. Seorang siswa tunanetra lulus ujian nasional, seorang penyandang down syndrome membuka usaha kecil, atau seorang amputan yang bisa berolahraga dengan penuh semangat. Cerita-cerita ini biasanya dibungkus dengan narasi menyentuh dan judul bombastis: "Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang!" atau "Meski Lumpuh, Ia Tak Menyerah!".

Namun, apakah semua bentuk konten ini selalu positif? Di sinilah istilah inspiration porn perlu kita kenali dan kritisi bersama.

Apa Itu Inspiration Porn?

Istilah inspiration porn pertama kali dipopulerkan oleh Stella Young, seorang aktivis disabilitas asal Australia. Ia menjelaskan bahwa inspiration porn adalah representasi penyandang disabilitas sebagai objek inspirasi bagi orang non-disabilitas—bukan karena pencapaian mereka yang relevan secara sosial, tetapi karena mereka mampu melakukan hal-hal “normal” dalam kondisi disabilitas mereka.

Dalam kata lain, penyandang disabilitas dijadikan “alat motivasi” agar orang tanpa disabilitas merasa lebih bersyukur, lebih termotivasi, atau bahkan lebih superior. Fokusnya bukan pada realitas dan perjuangan individu disabilitas, melainkan pada reaksi emosional audiens yang merasa “tersentuh”.

Kenapa Ini Menjadi Masalah?

Sekilas, mungkin terlihat tidak ada yang salah. Bukannya bagus jika cerita mereka menginspirasi banyak orang? Namun, jika kita lihat lebih dalam, inspiration porn cenderung mereduksi penyandang disabilitas menjadi simbol moral belaka, alih-alih memandang mereka sebagai individu yang utuh dengan hak, suara, dan agensi atas hidupnya.

Beberapa alasan kenapa ini menjadi masalah:

1. Mengabaikan Realitas Sosial

Banyak tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas bukan berasal dari tubuh mereka, tapi dari lingkungan yang tidak aksesibel—transportasi, pendidikan, hingga pekerjaan. Seolah semua masalah bisa diatasi hanya dengan "semangat" dan "pantang menyerah".

2. Memberikan Standar Ganda

Ketika seseorang non-disabilitas melakukan hal biasa, itu tak dianggap luar biasa. Tapi ketika penyandang disabilitas melakukan hal serupa, mereka dijadikan “pahlawan”. Ini memperkuat anggapan bahwa penyandang disabilitas tidak mungkin menjalani kehidupan normal, sehingga ketika mereka melakukannya, mereka jadi “ajaib”.

3. Menghilangkan Otonomi Individu

Dalam banyak kasus, kisah penyandang disabilitas dibagikan tanpa persetujuan, atau dikemas secara manipulatif agar lebih dramatis. Mereka kehilangan kontrol atas narasi hidup mereka sendiri.

Lalu, Bagaimana Sebaiknya?

Alih-alih terjebak dalam inspiration porn, kita bisa mengubah cara pandang kita menjadi lebih etis dan empatik:

  • Berikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk bercerita sendiri, bukan sekadar dijadikan objek. Biarkan mereka menentukan bagaimana cerita mereka dibingkai.

  • Fokus pada keberhasilan sistemik dan kolaboratif, bukan hanya perjuangan individu.

  • Normalisasikan keberadaan disabilitas dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat mereka "melampaui ekspektasi". Kehidupan mereka tidak harus selalu “menginspirasi” untuk layak dihargai.

Menginspirasi bukanlah sesuatu yang salah. Tapi saat inspirasi datang dengan cara mereduksi manusia menjadi alat motivasi semata, kita perlu bertanya: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari cerita ini?