Konten dari Pengguna

Kurikulum untuk Semua Murid, Benarkah Semua Punya Kesempatannya yang Sama?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shabrina Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita bertanya mengapa ada murid yang tampak selalu selangkah lebih maju dibanding teman-temannya? Nilainya tinggi, aktif berdiskusi, cepat memahami pelajaran, dan seolah tidak pernah kesulitan mengikuti tuntutan sekolah. Di sisi lain, ada murid yang harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk mencapai hasil yang sama.

Sekilas, perbedaan itu sering dianggap sebagai persoalan kemampuan atau kemauan belajar. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Bayangkan dua murid yang duduk di kelas yang sama. Mereka belajar menggunakan kurikulum yang sama, diajar oleh guru yang sama, dan mengerjakan tugas yang sama. Namun, ketika pulang ke rumah, kondisi mereka berubah drastis. Satu murid belajar dengan laptop pribadi, internet yang stabil, dan orang tua yang siap membantu. Murid lainnya harus berbagi smartphone dengan saudara, membantu orang tua bekerja, atau bahkan tidak memiliki ruang belajar yang nyaman.

Jika titik awal mereka berbeda, masih pantaskah kita mengatakan bahwa kesempatan belajarnya sama?

Murid SMA di Indonesia belajar dalam lingkungan kelas (Sumber: Airlangga Jati:https://www.pexels.com/photo/indonesian-high-school-students-in-classroom-35865718/)

Kurikulum yang Sama Belum Tentu Menghadirkan Kesempatan yang Sama

Selama ini, kita sering menganggap bahwa keadilan dalam pendidikan berarti memberikan perlakuan yang sama kepada semua murid. Semua menggunakan kurikulum yang sama, mempelajari materi yang sama, dan dinilai melalui standar yang sama. Namun, apakah kesamaan itu benar-benar menciptakan kesempatan yang setara?

Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan hal yang berbeda. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diselenggarakan OECD memperlihatkan bahwa latar belakang sosial ekonomi masih menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan capaian belajar siswa. Dengan kata lain, prestasi di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kondisi sosial tempat seorang anak tumbuh.

Di sinilah kita mulai menyadari bahwa kurikulum tidak pernah bekerja sendirian. Ia selalu bertemu dengan realitas sosial yang dibawa setiap murid ke dalam ruang kelas.

Mengapa Kesenjangan Pendidikan Masih Terjadi?

Dalam kajian sosiologi kurikulum, sekolah bukan sekadar tempat menyampaikan materi pelajaran. Sekolah juga merupakan ruang sosial yang mempertemukan murid dengan latar belakang yang sangat beragam.

Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa setiap murid datang ke sekolah dengan bekal yang berbeda-beda. Ada yang memiliki modal ekonomi berupa fasilitas belajar yang lengkap, ada yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terbiasa berdiskusi dan membaca, ada pula yang memperoleh dukungan kuat dari orang tua maupun lingkungan sekitar. Semua bekal tersebut disebut sebagai modal ekonomi, modal sosial, dan modal budaya.

Ilustrasi perbedaan latar belakang sosial yang dimiliki setiap murid (Sumber: pakistanindonesia.com)

Ketika sekolah memperlakukan semua murid dengan cara yang sama tanpa melihat perbedaan modal tersebut, yang terjadi bukan selalu keadilan. Dalam banyak kasus, sekolah justru tanpa sadar memperkuat kesenjangan yang telah ada sebelumnya. Bourdieu menyebut proses ini sebagai social reproduction atau reproduksi sosial.

Artinya, keberhasilan di sekolah sering kali bukan hanya soal siapa yang paling rajin belajar, tetapi juga siapa yang sejak awal memiliki lebih banyak kesempatan untuk berhasil.

Ada Pelajaran yang Tidak Pernah Tertulis di Buku

Tanpa kita sadari, sekolah juga mengajarkan banyak hal yang tidak pernah tercantum dalam kurikulum. Cara berbicara, keberanian menyampaikan pendapat, kemampuan bekerja sama, hingga kebiasaan datang tepat waktu merupakan bagian dari hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi.

Masalahnya, tidak semua murid memperoleh pengalaman yang sama sebelum memasuki sekolah. Ada anak yang sejak kecil terbiasa diajak berdiskusi di rumah, sementara yang lain tumbuh di lingkungan yang tidak memberikan ruang untuk menyampaikan pendapat.

Perbedaan pengalaman tersebut membuat setiap murid menjalani proses belajar yang berbeda, meskipun mereka duduk di ruang kelas yang sama.

Kurikulum Merdeka Membuka Peluang, tetapi Tantangannya Belum Selesai

Kurikulum Merdeka hadir dengan semangat memberikan pembelajaran yang lebih fleksibel dan berpusat pada kebutuhan murid. Guru diberi ruang untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik.

Namun, fleksibilitas kurikulum tidak serta-merta menghapus kesenjangan kesempatan belajar. Selama masih ada perbedaan fasilitas pendidikan, akses teknologi, kualitas guru, dan kondisi sosial ekonomi keluarga, sebagian murid akan tetap menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan yang lain.

Karena itu, keberhasilan kurikulum tidak cukup diukur dari seberapa baik dokumen kurikulumnya disusun, tetapi juga dari seberapa jauh setiap murid benar-benar memiliki kesempatan untuk menikmati manfaatnya.

Bukan Soal Kurikulumnya, tetapi Kesempatannya

Mungkin selama ini pertanyaan yang kita ajukan masih kurang tepat. Kita terlalu sibuk memperdebatkan kurikulum mana yang terbaik, tetapi jarang bertanya apakah semua murid benar-benar memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil di dalamnya.

Sebab pada akhirnya, pendidikan yang adil bukanlah pendidikan yang memperlakukan semua murid secara persis sama. Pendidikan yang adil adalah pendidikan yang memahami bahwa setiap anak berangkat dari garis start yang berbeda, lalu berusaha memastikan tidak ada yang tertinggal hanya karena kondisi yang tidak pernah mereka pilih sejak lahir.