Pencarian populer

Captain Marvel: Brie Larson yang Kurang Karismatik

Captain Marvel Foto: Marvel Studios

★★☆☆☆ | Shandy Gasella

Film Captain Marvel dibuat seolah sebagai tandingan Wonder Woman—yang mengejutkan banyak orang bahwa film jagoan cewek ternyata laku juga di pasaran. Marvel Studios/Disney sebagai rumah produksi yang paling besar di jagat bumi ini dalam pembuatan film-film jagoan, agak kecolongan dengan Wonder Woman yang muncul lebih dulu dari studio sebelah itu.

Lantas, Captain Marvel pun digarap dan diintegrasikan ke dalam Marvel Cinematic Universe yang telah ada selama 10 tahun lewat 20 film. Captain Marvel adalah film ke-21 dan dipaksakan agar kehadirannya yang sekonyong-konyong ini, juga kehadirannya kembali di film Avengers End Game mendatang yang bakal tayang bulan depan—sebuah pemungkas dari perjalanan selama lebih dari satu dekade—agar dapat diterima penonton, tanpa dipertanyakan.

Sebagai film asal mula (origin story) dari MCU yang tujuan utamanya memperkenalkan karakter baru untuk lantas dijadikan salah seorang anggota Avengers baru, Captain Marvel terlihat seperti sebuah film coba-coba dan bermain aman. Ia tak dibuat dalam semangat Black Panther dalam merepresentasikan kaum kulit berwarna.

Memang, ada isu feminisme menyertainya, Captain Marvel dijual sebagai film jagoan cewek pertama dari MCU. Ia juga digambarkan sebagai karakter jagoan paling kuat dan hebat di jagat MCU. Sayangnya, film ini malah tampil low key, sederhana, untuk tak menyebutnya membosankan dan kurang imajinatif.

Namun, berdasarkan apa yang ditampilkan film ini, Captain Marvel masih dapat bersinar lebih terang lagi di film mendatang. Semoga saja nantinya akan ditangani oleh kru yang berbeda di belakang layar.

Brie Larson, pemeran tokoh utama Captain Marvel, dalam balutan busana Max Mara. Foto: @brielarson/ Instagram

Dikisahkan, sebelum menjadi jagoan super, sosok Captain Marvel yang diperankan oleh aktris peraih Oscar, Brie Larson, adalah seorang pilot angkatan udara bernama Carol Denvers. Carol mendapatkan kekuatan supernya melalui sebuah kecelakaan (dan bukankah memang selalu begitu ceritanya di film-film jagoan berkekuatan super?).

Film yang digarap duo sutradara sekaligus penulis naskah, Anna Boden dan Ryan Fleck, ini kemudian memberi kita flashback, sepotong demi sepotong, akan jati diri Carol lewat penyampaian yang sengaja dibikin rumit demi kerumitan itu sendiri.

Di awal film, kita menyaksikan Carol terdampar dari pesawat yang ditumpanginya di sebuah lanskap berpasir yang tak disebutkan di mana. Bersamanya ada seorang wanita—kemudian kita akan mengenalnya sebagai Dr. Wendy Lawson (diperankan Annette Bening). Kita lantas mendapati bahwa ada sesuatu yang berbeda tentang Carol, lantaran darah yang menetes dari hidungnya berwarna biru. Sesesok penjahat digambarkan tengah memburunya.

Sejurus kemudian, kita diberi gambaran lain ihwal dirinya. Carol tengah berlatih tempur dengan atasannya yang bernama Yon-Rogg (Jude Law) di sebuah pangkalan militer di kota bernama Hala di sebuah planet asing nun jauh di sana.

Di tempat itu, Carol dikenal sebagai Vers, seorang anggota elit militer dari ras yang disebut sebagai Kree. Vers atau Carol rupanya kena amnesia, ingatannya akan masa lalunya hanya sepotong-sepotong terlintas di benaknya.

Hingga datanglah sebuah misi untuknya mengejar para Skrull, ras yang berkemampuan mengubah wujud menjadi apapun sesuka hati mereka yang dipimpin oleh Talos (Ben Mendelsohn). Mereka berambisi menguasai alam semesta, atau apapun lah, pokoknya ia jahat. Wujud asli Skrull terlihat seperti seonggok buah melon yang didandani untuk Halloween. Sama sekali tak terlihat menakutkan atau mengancam.

Pengejaran yang dilakukan Vers bersama atasan dan rekan sejawatnya (di antaranya ada yang diperankan oleh Gemma Chan—yang sayangnya tampil kurang berkesan) kemudian membawanya terdampar di Planet Bumi pada tahun 1995. Vers lalu bertemu dengan Nick Fury (Samuel L. Jackson) yang jauh lebih muda ketimbang yang selama ini sering kita lihat.

Pada tahun 1995, Nick Fury belum pernah bertemu dengan jagoan berkekuatan super. Pertemuannya dengan Vers/Carol menjadi yang pertama baginya bersinggungan dengan jagoan berkekuatan super.

Pertemuan itu pada akhirnya menginspirasinya untuk membentuk Avengers—sebuah kelompok jagoan berkekuatan super—demi melawan ancaman-ancaman penjahat berkekuatan super pula. Avengers mewujud pada tahun 2012, 17 tahun pasca-pertemuan Nick dengan Vers/Carol/Captain Marvel. 23 tahun kemudian sejak Nick Fury mengenal Captain Marvel, lewat insiden Avengers Infinity War (2018), ia baru mengontaknya kembali.

Lantas, ke mana saja Captain Marvel selama ini? Apakah film ini dapat menjawab secara meyakinkan bahwa selama ini ia ada tapi tak pernah disinggung hingga di ujung Avengers Infinity War, di mana ia dikenalkan kepada kita lewat tampilan sebuah logo kostum yang dikenakannya?

Saat berada di Bumi, Carol menapak tilas menyelami kembali masa lalunya. Ia mendatangi pangkalan udara tempatnya dulu bekerja sebagai pilot, bertemu kembali dengan sahabatnya, Maria Rambeau (Lashana Lynch), yang mengira Carol telah mati enam tahun lalu. Ia juga menyelidiki siapa sebenarnya Dr. Wendy Lawson, yang ternyata menyimpan rahasia darinya selama ini.

Lewat flashback yang tampil sepotong-sepotong, kita melihat Carol semasa kecil yang senang bermain gokar. Kita juga melihat dirinya tatkala baru masuk militer dan menjalani pelatihan yang penuh dengan ujian berat dan cemoohan.

Akan tetapi, sepanjang durasi film, potongan-potongan ini saja yang diulang-ulang tanpa pernah sedikit pun memberi kita gambaran utuh akan sosok Carol sebagai manusia, yang tentu saja memiliki latar belakang ceritanya sendiri. Kita tak pernah tahu siapa jati dirinya yang sesungguhnya, yang selayaknya kita dapatkan lewat sebuah film origin story.

Brie Larson terlihat kepayahan dalam mewujudkan karakter yang ia perankan. Ketika saya menonton Iron Man, saya melihat Tony Stark, bukan Robert Downey Jr. Ketika saya menonton Avengers, saya melihat Black Widow, bukan Scarlett Johansson. Ketika saya menonton Captain Marvel saya tidak pernah melihat Captain Marvel, sosok yang saya lihat adalah Brie Larson.

Brie tidak pernah benar-benar mewujudkan karakternya, lantaran kurangnya karisma. Melihat aktingnya di film ini, saya jadi teringat akan akting Halle Berry di film Catwoman (2004). Dan, judul Captain Robot semestinya lebih pas mewakili film ini ketimbang Captain Marvel.

Brie Larson sedianya memerankan karakter yang kesulitan mengendalikan emosinya, tetapi tidak ada kejadian selama durasi film ini kita melihatnya lepas kendali atas emosinya. Dia hanya terlihat terombang-ambing, antara bersikap cool dan belagu. Dia tidak pernah melebur ke dalam karakternya seperti yang dilakukan oleh Samuel L. Jackson, Ben Mendelsohn, atau terutama Lashana Lynch, yang walaupun kemunculannya secara tiba-tiba dan singkat, tetapi mampu meninggalkan impresi yang kuat.

Isu utama mengenai film ini adalah bahwa Carol Danvers/Captain Marvel tidak memiliki kelemahan. Kelemahan yang seharusnya membuatnya menjadi karakter yang nyata dan relatable, kelemahan yang membuatnya menjadi manusia.

Carol berkorban sangat sedikit di film ini. Salah satu sifat yang menentukan dari seorang pahlawan adalah kesediaannya untuk berkorban demi kemaslahatan orang lain. Satu pengorbanan yang dia lakukan, yakni meledakkan tenaga inti sebuah pesawat, tetapi tampaknya hal itu pun dilakukan lebih karena kesal ketimbang demi berkorban untuk orang lain.

Tiga hal yang menarik di film ini: tribut kepada Stan Lee, cameo dirinya berperan sebagai dirinya sendiri, dan si kucing Goose yang saya akui amat mencuri perhatian. Semua orang tampaknya menyukai Goose, tetapi tak ada satu pun yang mempertanyakan asal usulnya. Pembuat film ini pun tak mampu memberi alasan kepada kita ihwal dari mana Goose berasal dan mengapa kucing itu berada di pangkalan udara.

Film Captain Marvel. Foto: Dok. Marvel

Lalu bagaimana sekuen-sekuen action-nya? Boring. Secara visual pun film ini tak memiliki gaya unik tersendiri yang semestinya membuatnya berbeda, dan tak menjadikannya terlihat generik.

Lalu bagaimana mengenai adegan ekstra pasca-kredit yang disukai orang-orang itu, yang sekaligus menjadi jembatan ke film Avengers End Game?

SPOILER ALERT (hentikan membaca sampai di sini bila belum menyaksikan filmnya).

Ketika kita pada akhirnya melihat Captain Marvel merespons pesan Nick Fury yang dikirim kepadanya lewat pager-nya di ending Infinity War, saya mengharapkan respons darinya menunjukkan gelagat penuh kekhawatiran, kesedihan—sudah lama lho ia tak ketemu Nick Fury, sahabatnya.

Apakah hatinya terlihat hancur? Enggak. Dia malah terlihat marah dan sok cool di ruangan yang penuh dengan anggota Avengers, yang terlihat mengalami trauma mendalam. Padahal, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi!

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22