Konten dari Pengguna

Catatan Kecil tentang Film 'Joker'

Shandy Gasella

Shandy Gasella

Penikmat dan pengamat film - Aktif meliput kegiatan perfilman di Jakarta dan sejumlah festival film internasional sejak 2012

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shandy Gasella tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Joaquin Phoenix di film 'Joker'. Foto: Joker
zoom-in-whitePerbesar
Joaquin Phoenix di film 'Joker'. Foto: Joker

★★★★★ | Shandy Gasella

Ulasan atau catatan ini mengandung banyak bocoran cerita (spoiler), hindari bila kamu belum menonton, atau kamu dapat kembali ke sini setelah menontonnya, dan dalam keadaan masih waras. Hehehe.

Tentang Bibit, Bebet, Bobot

Dari awal film bermula kita langsung diperkenalkan pada Arthur Fleck (Joaquin Phoenix, 'Her', 'Gladiator'), kemudian ia meminta dipanggil Joker pada klimaks film, seorang paruh baya, tengah tertawa — dan bukan tawa bahagia, tetapi lewat air mukanya, tersirat seolah ia sedang merintih di hadapan seseorang yang sedang mewawancarainya di sebuah rumah sakit.

Sutradara Todd Phillips ('The Hangover', 'Borat'), juga menulis skenario film ini bersama Scott Silver (‘The Fighter’, ‘The Finest Hours’) sengaja tak memberikan latar belakang yang lengkap dan komprehensif tentang siapa Joker atau Arthur Fleck dalam rentang waktu puluhan tahun masa hidupnya. Di sini Arthur tengah berada dalam fase transisi menjadi Joker, sosok musuh bebuyutan Batman yang paling sohor itu.

Bagi Joker, hidup bukanlah tragedi melainkan komedi Foto: Warner Bros.

Dalam sejumlah iterasi (pengulangan pengisahan) yang begitu banyaknya baik lewat film, komik, maupun serial Televisi, belum ada satu versi pun yang dianggap paling sahih sebagai backstory (cerita awal mula) sang Pangeran Badut dari Gotham tersebut. Sementara itu, Batman punya backstory yang jelas dan konsisten, dalam setiap iterasi, ceritanya selalu dimulai dengan terbunuhnya kedua orang tuanya semasa ia kecil, menjadi yatim piatu dengan warisan melimpah, diasuh seorang pelayan bernama Alfred, lantas ketika dewasa ia menjadi Batman, sosok antihero — tukang main hakim sendiri yang senantiasa membela kaum lemah.

Tetapi, Joker tak pernah ketahuan bibit bebet bobotnya. Anak siapa dia? Bagaimana masa kecilnya? Dalam sejumlah iterasi mengenainya, ada versi cerita yang mengisahkannya sebagai mantan pembunuh bayaran, ada juga versi dia sebagai ahli hipnotis, ahli membuat senjata mematikan, ahli adu domba, ada juga yang mengisahkannya sebagai seorang turunan setan, macam-macam.

Lewat komik ‘The Killing Joke’ karangan Alan Moore dan Brian Bolland yang rilis tahun 1988, Joker sendiri, dalam komik tersebut, ketika disinggung soal latar belakang hidupnya, ia berujar kira-kira seperti ini, “Saya tak tahu pasti. Terkadang saya mengingatnya begini, terkadang begitu... Jika saya mesti punya masa lalu, saya kepingin masa lalu saya menjadi pilihan ganda.”

Joker menari di atas penderitaannya Foto: Warner Bros.

Saya merasa Todd Phillips dan Scott Silver mengambil inspirasi terbesar dari ‘The Killing Joke’ yang mengisahkan Joker sebagai komedian gagal, menjadikannya tumpuan cerita, lantas membangun lapis demi lapis narasi yang ambigu semenjak awal film, ketika Arthur berhenti tertawa lantas mengisahkan sepenggal perjalanan hidupnya kepada lawan bicaranya, juga kepada kita, sebuah cerita yang, ketika film selesai lantas kita mencoba untuk betul-betul mencernanya, segala omongannya ternyata tak bisa kita percayai sepenuhnya.

Ambiguitas Cerita

Joker bermula dan diakhiri di Arkham Asylum, sebuah rumah sakit paling tersohor di jagat DC Comics, khususnya di semesta Batman, banyak musuh Batman pada akhirnya berakhir bukan di penjara, tetapi jadi pasien rumah sakit tersebut.

Sejak awal Todd konsisten mengaburkan apa yang nyata dan apa yang khayalan, kecuali satu dua momen yang khayalan ditegaskan terang-terangan, misalnya tentang hubungan Arthur dengan tetangganya, Sophie, seorang mahmud yang manis nan menawan (diperankan Zazie Beetz, ‘Deadpool 2’, ‘Geostorm’), ternyata hanya imajinasinya semata.

Joaquin Phoenix di Film 'Joker' Foto: IMDb

Jadi, Arthur suatu ketika bertemu dengan Sophie di lift apartemen kumuh tempat mereka tinggal. Keduanya lantas berinteraksi, dan menjalin hubungan. Kita diperlihatkan momen-momen kebersamaan mereka. Sementara seisi dunia menertawakan dan menyakiti Arthur, Sophie menjadi satu-satunya selain ibunya sendiri yang peduli terhadapnya. Bahkan saat ibunya sekarat di rumah sakit, Sophie setia menemani Arthur.

Hingga kemudian setelah suatu kejadian besar menimpa Arthur, dan dia beranjak untuk menemui Sophie, mencari penghiburan, saat ia masuk ke kamar apartemen Sophie yang pintunya tak terkunci, ia dikejutkan, juga kita sebagai penonton, oleh fakta bahwa Sophie sebetulnya tak mengenalnya secara personal, dan mereka tak pernah berpacaran.

“Kurasa kau masuk ke kamar yang salah.” Sophie kaget mendapati Arthur duduk di sofa di ruang tamu apartemennya, dengan penuh amarah ia meminta Arthur agar keluar dan meninggalkannya.

Arthur Fleck punya penyakit saraf yang membuatnya tertawa tak terkontrol. Tawa penderitaan. Foto: Warner Bros.

Mestinya adegan tersebut cukup diakhiri di situ sebagai isyarat bahwa ternyata Arthur berimajinasi tentang memiliki sebuah hubungan istimewa dengan seorang cewek bernama Sophie. Kita paham kok. Tetapi, seolah tak mempercayai kewarasan penontonnya sendiri, amat disayangkan, Todd merasa perlu untuk menerangkan secara lebih gamblang. Maka diperlihatkanlah kepada kita kilasan-kilasan kejadian yang menampilkan Arthur dan Sophie tengah bersama, lantas disusul pengulangan kilasan-kilasan kejadian tersebut, hanya saja kali berikutnya Arthur terlihat seorang diri, tak ada Sophie yang sebelumnya kita percayai pernah ada di sisinya.

Saya cukup paham akan pilihan Todd untuk menerangkan hal itu, barangkali untuk memprovokasi nalar penonton bahwa apa yang kita saksikan belum tentu sesuai dengan kenyataan sesungguhnya, tetapi tak perlulah sampai sebanal itu. Kehebatan film ini sebagai suatu karya seni yang adiluhung jadi sedikit ternodai. Sedikit saja, seperti baret kecil di bodi mobil, walau tak begitu kentara, tetap saja mengganggu.

Tetapi, memang tak dapat dipungkiri, segala aspek teknis dan artistik film ini jauh di atas rata-rata film Hollywood kebanyakan, setidaknya dalam setahun terakhir ini. Tak hanya dari segi naratif, secara visual dan auditori film ini juga betul-betul memberi impresi yang mendalam, namun juga terasa amat mengganggu pada saat bersamaan, lantaran Joaquin Phoenix yang berperan sebagai tokoh sentral film ini tampil luar biasa tanpa cela dalam menghidupkan perannya, yang sama sekali tak mengundang simpati sedikit pun itu. Sosok malang yang ia perankan itu hanya dapat saya kasihani. Tak ada yang dapat menolongnya dalam cerita film, tak ada yang dapat kita lakukan selain menyaksikan kemalangan demi kemalangan yang silih berganti menghampirinya. Menyaksikan film ini jadi terasa berat. Begitu pilu.

Poster film 'Joker' Foto: Instagram @wbpictures

Todd berhasil mengalienasi penonton dengan subjek film, dan mitos mengenai Joker ia elaborasi lebih jauh dalam konsepsi yang tak mengkhianati cerita-cerita mengenainya sebelum ini. Bahwa jati diri seorang Joker memang selalu manjadi misteri.

Film ini bahkan menghindari menerangkan secara pasti bahwa Arthur gila atau menderita skizofrenia atau gangguan-gangguan mental lainnya, tentu saja hal ini dapat diperdebatkan, walau lebih sering Todd mengarahkan kita untuk percaya bahwa Arthur mengalami gangguan mental, dan maka dari itu kemudian timbul percakapan akan pentingnya awareness terhadap masalah kesehatan jiwa yang kini sedang riuh dibicarakan orang-orang selepas menyaksikan film ini di berbagai kanal media sosial.

Dalam interpretasi saya, film ini tak memvonis Arthur demikian, tetapi ia terbuka untuk segala pembacaan; apakah cerita di film ini seluruhnya ada dalam kepala Arthur, apakah ia memang Joker yang kelak menjadi musuh Batman? Pertanyaan-pertanyaan itu tak sepenuhnya terjawab, dan terserah kita untuk memaknainya, semau kita, asal landasannya jelas.

Tentang Zorro dan Kaitannya dengan Mitologi Batman

Kejadian film ini terjadi di tahun 1981. Ada shot yang sepintas saja, menampilkan sebuah bioskop yang sedang menayangkan film berjudul ‘Zorro: the Gay Blade’ — film tersebut rilis di tahun 1981 di kehidupan nyata di dunia yang kita tinggali. Dalam ‘Batman v Superman’ besutan Zack Snyder, sesaat sebelum kedua orang tua Bruce Wayne tewas terbunuh, kita menyaksikan mereka tengah berjalan di trotoar melewati bioskop yang juga sedang menayangkan film Zorro berjudul ‘The Mark of Zorro’ rilisan tahun 1974.

Lokasi pengambilan gambar 'Joker' yang menampilkan bangunan bioskop yang tengah memutar film 'Blow Out' dan 'Zorro: the Gay Blade' | Foto by Yishay Amiri unless otherwise

Entah sejak kapan gimmick soal Zorro ini menjadi begitu penting dalam mitologi Batman, yang pasti, walau tidak diterangkan-terangkan, kita dapat menjadi mafhum bahwa di kemudian hari Bruce Wayne memilih mengenakan kostum Batman yang serba hitam itu, itu lantaran sewaktu kecil ia pernah menonton film Zorro, seorang pahlawan pembela kebenaran yang mengenakan kostum juga penutup wajah berwarna serba hitam.

Poster film 'The Mark of Zorro' tampil dalam 'Batman v Superman garapan Zack Snyder | Foto: Warner Bros

Nah, kembali ke tahun 1981, di film ini Arthur sempat bersinggungan dengan Bruce Wayne muda, kira-kira umur 9-10 tahun, diperankan oleh Dante Pereira-Olson, aktor yang sama yang berperan sebagai Joe kecil dalam ‘You Were Never Really Here’ (Lynne Ramsay, 2017) di mana Joe dewasa diperankan oleh Joaquin Phoenix! Lantas, mau tak mau, subplot yang mengisyaratkan bahwa Arthur mungkin adalah anak dari Thomas Wayne yang berarti ia adalah kakak tiri Bruce, walau dalam film hal tersebut dibantah oleh Thomas, tetapi lagi-lagi film ini begitu terbuka bagi interpretasi yang paling liar sekali pun. Sebab, bila kita pikir-pikir lagi, bila Arthur betul anak dari Thomas Wayne dan ia meyakininya demikian, lantas menjadi masuk akal bila di kemudian hari ia menjadi begitu membenci Batman. Dan, film ini juga menempatkan Arthur/Joker sebagai biang kerok atas terbunuhnya Thomas dan Martha Wayne. Pada akhirnya, Joker adalah juga tentang awal mula kelahiran Batman.

Tentang Realisme, Konteks Sosial dan Kegilaan Masyarakat

Dalam film-film lain yang mengisahkan atau menampilkan Batman, sosok Thomas Wayne, sang ayah dari Bruce Wayne/Batman seringkali digambarkan sebagai figur ayah yang baik nan saleh, dan pengusaha sukses yang dermawan, lalu dia mati. Film ini menggali sisi tergelap Thomas Wayne, memberinya dimensi lebih sebagai karakter yang membumi. Ia tak dicitrakan sebagai seorang pengusaha tok, tetapi seperti Donald Trump, atau Hary Tanoesoedibjo atau Aburizal Bakrie misalnya, terkadang para pengusaha itu tertarik juga untuk terjun ke dunia politik.

Thomas tidak tampil sebagai orang baik di sini, bagi Bruce barangkali ia figur teladan, tetapi bagi sebagian besar warga Gotham ia tak ubahnya seorang politikus rakus yang mementingkan dirinya sendiri. Bagi Arthur ia hanya orang jahat tak berhati yang powerful.

Pencitraan Thomas Wayne yang demikian adalah hal baru, setidaknya bagi saya, dan itu menjadi relevan dengan situasi sosial dan politik saat ini, di belahan bumi mana pun.

Arthur Fleck, stand-up comedian yang terbuang Foto: Warner Bros.

Menurut psikolog, orang gila dan orang normal tak memiliki perbedaan secara kualitatif. Perbedaannya hanya berada pada tingkatan kadarnya saja; orang normal gila secara normal, sedangkan orang tak normal gila secara tak normal. Jadi, keduanya sama-sama gila. Yang satu masih memiliki kontrol terhadap kegilaannya, tetapi setiap orang hampir selalu berada di perbatasan, kapan saja ia dapat melewati garis batas tersebut dan berakhir di rumah sakit jiwa.

Cobalah kita berkaca sesekali, satu dua kali kita pun terkadang suka melakukan hal-hal yang gila, mungkin tidak di muka umum, tetapi di kamar mandi misalnya. Sedikit pelepasan atau pelampiasan memang dibutuhkan, agar kita bisa tetap waras. Tentu kita pernah menyaksikan orang-orang — atau justru kita sendiri yang tengah menonton pertandingan sepak bola lewat layar kaca televisi, pernah saya menyaksikan seorang teman yang loncat-loncat kegirangan padahal pertandingannya belum mulai, lalu pada akhirnya ketika pertandingan usai dia meraih TVnya lantas membantingnya ke lantai dan ke tembok secara membabi-buta. “Lu kenapa?” Tanya saya antara keheranan dan sedikit takut, dan dia menjawab dengan enteng, “Tim gue kalah, Bangke!”

“Terus kenapa TVnya lo rusakin?”

“Ya gue kesel aja.” Jawabnya dengan tanpa sesal, dan saya yakini jawaban sesungguhnya adalah bahwa dia merasa perlu untuk melakukan sesuatu, dalam kasus dia; merusak TVnya sendiri — sebuah pelampiasan.

Joaquin Phoenix di Film 'Joker' Foto: IMDb

Sebuah universitas di California pernah melakukan studi, selama setahun, tentang dampak dari pertandingan American football dan tinju terhadap perilaku masyarakat. Diketahui tindak kejahatan naik 14 persen; lebih banyak pembunuhan, pemerkosaan, dan pencurian terjadi, dan kenaikan 14 persen tersebut stabil selama seminggu setelah pertandingan usai. Itulah dampaknya terhadap masyarakat. Jika seseorang mencela tim bola favorit kita, perkelahian tak bisa dihindari.

Dahulu di zaman rikiplik kakaisaran Romawi, para terpidana yang divonis bersalah diumpankan hidup-hidup kepada singa-singa lapar, dan ribuan rakyat Romawi yang beradab dan terdidik itu menikmatinya sebagai tontonan yang menghibur, kaisar hingga segenap keluarganya dan para aristokrat sama-sama menikmatinya. Adakah mereka itu beradab, berbudaya? Tentu kita dibuat terheran-heran, apakah mereka juga merasakan apa yang dirasakan para singa lapar itu ketika mengunyah daging manusia — dus mereka merasa terhibur?

Tetapi, kita tak jauh berbeda dari rakyat Romawi zaman rikiplik itu, di tanah Jawa dan beberapa daerah lain di nusantara kita terbiasa menikmati sabung ayam, di Spanyol orang-orang bersorak menyaksikan duel manusia melawan banteng. Dan biasanya selalu diakhiri dengan terbunuhnya banteng-banteng tersebut di tangan matador.

Poster film 'Joker' Foto: Instagram @toddphillips1

Kita tentu terbiasa membersihkan rumah dengan menyapu dan mengepelnya, tetapi barangkali jarang terpikir untuk membersihkan pikiran kita. Sama seperti lantai rumah yang sering berdebu, pikiran kita juga sedikit demi sedikit mengumpulkan sampah, dan tanpa kita sadari kita tumpuk terus menerus. Dan itulah saya kira yang terjadi terhadap Arthur. Hari itu tiba... tiba-tiba saja tumpukan sampah di kepalanya semakin besar dan menguasai dirinya, mulai mendiktenya, dan Arthur mendengarkannya, sebab bila tidak, ia akan semakin terganggu dan tak dapat tenang.

Di pengujung film ketika ia menyerah dan termakan oleh kegilaannya sendiri, ada perubahan drastis yang nampak darinya, lebih tenang, dan tawanya kemudian terasa seperti sebuah ekspresi kebahagiaan, tawa yang jenuin, berbeda dengan tawa-tawa sebelumnya darinya yang terdengar dibuat-buat, untuk tak menyebutnya aneh. Barangkali itu karena pada akhirnya tak ada yang mengganggu pikirannya lagi. Ia sudah berhenti melawan. Baginya ia telah menang melawan masyarakat, masyarakat yang hanya tertarik untuk mengeksploitasi, memperbudak, dan menggunakan anggotanya sendiri seefisien mungkin, hampir serupa mesin.

Hari-hari ini pasca pemutaran 'Joker' sejak Rabu lalu, saya dikejutkan dengan banyaknya penonton yang nampaknya berempati atau merasa terhubung secara emosional dengan sosok Arthur Fleck/Joker, banyak di antaranya bahkan menjadi fans dadakan, memuat foto profil akun media sosial dengan wajah Joker versi Joaquin Phoenix ini. Apakah cuma saya yang merasa bahwa walaupun film ini berfokus pada pengisahan Arthur/Joker, tetapi ia bukan sosok jagoan di sini. Dan naratif film tak pernah menggiring kita (atau cuma saya?) untuk ikut merasakan apa yang dialami Arthur/Joker. Saya tak bisa memahami bila sosoknya yang merusak dan penuh kekerasan itu dipuja sebagian orang. Itu sebuah kegilaan yang nyata. Ngeri.

Mereka butuh pertolongan Batman. Segera.