kumparan
KONTEN PENGGUNA
25 Maret 2020 16:39

Film Netflix 'The Platform': Sinisme Terhadap Kemanusiaan yang Mengenaskan

★★☆☆☆ | Shandy Gasella
032500BC-AFE8-46FC-89B5-FE84104B03F4.jpeg
Stil adegan 'The Platform' | Netflix
Alkisah di Spanyol entah di tahun berapa, ada sebuah penjara vertikal 333 tingkat, satu sel di setiap tingkat, dan diisi dua orang narapidana per sel. Di tengah-tengah setiap sel ada lubang berbentuk persegi dan setiap hari lubang tersebut dilewati sebuah lantai yang bentuknya pas sebesar lubang yang dilaluinya tersebut, mengapung dari lantai 0 — lantai paling atas hingga ke lantai paling dasar, membawa makanan untuk disantap para narapidana, sekali setiap hari.
ADVERTISEMENT
Jika setiap orang memakan hidangan sesuai porsi dan kebutuhannya, idealnya makanan yang tersaji di atas lantai yang mengapung tersebut, yang berhenti di setiap lantai selama dua menit, cukup untuk memenuhi kebutuhan sebanyak 666 narapidana. Tetapi, baru separuh perjalanan saja lantai saji makanan tersebut mengapung, semua makanan selalu ludes, membuat para narapidana di lantai terbawah kelaparan tak kebagian makanan hingga sebagian dari mereka terpaksa saling memangsa satu sama lain.
Tokoh utama kita di film karya sutradara Galder Gaztelu-Urrutia ini bernama Goreng, bukan Goreng Tahu atau Goreng Bala-bala, namanya Goreng saja, diperankan Ivan Massague (by the way lucu banget namanya ya, kayak ngajak becanda). Ceritanya Goreng secara sukarela meminta masuk ke penjara ini selama enam bulan, alasannya supaya lancar berhenti merokok dan sekeluarnya dari penjara tersebut dia jadi sarjana — well, entah detailnya bagaimana tentang proses menjadi sarjana tersebut tetapi kira-kira begitulah. Setelah lolos interview agar diizinkan masuk ke penjara, dia terbangun di tingkat 18, bersama seorang pria paruh baya bernama Trimagasi (Zorion Eguileor), yang dijebloskan ke penjara tersebut lantaran membunuh orang.
2C631067-ED9A-4A90-986F-4A55A2A10758.jpeg
Stil adegan 'The Platform' | Netflix
Sama seperti kita yang menonton film ini, pada mulanya Goreng nampak kebingungan ketika mendapati sebuah lantai persegi empat berisi banyak makanan sisa mengapung dari atas lalu berhenti sejenak di tengah-tengah sel mereka. Ia jijik dan tak bernafsu makan, tetapi Trimagasi begitu lahapnya memakan apa pun yang dia mau, dan pada saatnya lantai saji makanan tersebut melanjutkan perjalanannya ke bawah, ia meludahi makanan tersebut sebagai oleh-oleh bagi orang-orang yang menempati sel di bawahnya. Tapi, kenapa? Tanya Goreng setengah marah kepadanya. “Kuyakin orang-orang di atas kita juga sudah meludahi makanan yang kucicipi barusan!” Sergahnya. Lambat laun karena lapar tak dapat ditahan, Goreng pun beradaptasi.
ADVERTISEMENT
Sekali setiap bulan para narapidana dibius lalu dipindahkan secara acak, satu hari seseorang di lantai 6, bulan depan ia bisa ditempatkan di lantai 200. Maka, mengetahui nasibnya tak menentu, takut barang kali bulan depan berada di lantai terbawah, dan itu berarti bisa tak kebagian makanan lalu mati kelaparan, sikap Trimagasi yang makan seperti kesetanan selagi ia bisa tanpa mempedulikan orang lain cukup masuk akal.
B0030F1F-D59C-474F-A883-D174529B2E48.jpeg
Stil adegan 'The Platform' | Netflix
Dan begitulah pembuat film ini seolah sedang mengomentari situasi sosial keseharian kita. Di saat terjadi wabah pandemi Corona seperti sekarang misalnya, lihatlah sekeliling kita, sebagian ada yang memborong dan menimbun makanan, tak memedulikan orang lain, sekadar karena mereka punya uang untuk melakukan hal tersebut. Secara insting manusia akan melakukan apa pun agar bertahan hidup. Tetapi, tak semua manusia seperti itu kan? Selalu ada orang-orang baik yang berusaha menolong mereka yang sedang kesulitan.
ADVERTISEMENT
Lantas apa yang mendasari Goreng mempertahankan moral baiknya? Diceritakan kemudian bahwa ia memiliki gagasan untuk mengawal makanan yang tersaji dari lantai paling atas agar dapat terdistribusi secara adil hingga ke narapidana yang menempati tingkat terbawah. Beberapa orang pernah melakukan hal tersebut, secara persuasif, namun nampaknya untuk menyadarkan orang-orang yang kelaparan tersebut, bujuk rayu saja tidak cukup, maka dengan kekerasan, Goreng bersama seorang teman barunya bernama Baharat (Emilio Buale) melakukan apa yang dilakukan Chris Evans dalam film ‘Snowpiercer’ (Bong Joon-ho, 2013).
Secara gagasan film yang naskah skenarionya ditulis David Desola dan Pedro Rivero ini seolah mengawinkan ‘Snowpiercer’ dengan ‘Cube’ (Vincenzo Natali, 1997), namun tanpa mengadopsi storyline, dan elemen hiburan dari kedua film tersebut. ‘The Platform’ tak memiliki plot, storyline, bahkan nihil sekuen action atau horor yang diciptakan for the sake of the thrill. Ini bukan film yang kerangka skenarionya berisi pengenalan karakter jagoan di babak pertama, mendapat cobaan dari tokoh jahat di babak kedua, lantas penjahat tersebut kalah di babak akhir. ‘The Platform’ menyodorkan gagasan ihwal sifat-sifat manusia yang sejatinya nampak ketika didera masalah berat — terlebih yang mengancam nyawa, secara sinis dan pesimistis.
1A3C280B-649D-493B-9383-0275E0522743.png
Stil adegan 'The Platform' | Netflix
Film ini seolah menegaskan bahwa pada dasarnya manusia hanya mementingkan diri sendiri. Dan penegasan tersebut hadir lewat fragmen-fragmen adegan dan dialog yang hadir sendiri-sendiri tanpa diikat seutas jalan cerita apa pun. Menyaksikan film ini seperti sedang mendengarkan mahasiswa jurusan Filsafat tingkat awal yang sedang ngamen berorasi. Mencerahkan tidak, berisik iya.
ADVERTISEMENT
Pembuat film ini menyodorkan gagasan bahwa manusia pada dasarnya sering berdusta, dari orang yang memiliki kuasa hingga orang yang tak berdaya, dari orang di pemerintahan hingga rakyat jelata. “Jangan percaya kepada orang lain, jika pun mereka berbuat baik itu karena ada maunya, dan tak ada gunanya!” Kira-kira pesan itu yang hendak disampaikan pembuat film, yang sepertinya sedang frustrasi berat, dan seorang pesimis sejak dari orok. Betul-betul sebuah film yang unfaedah.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan