Gundala: Era Baru Sinema Indonesia Dimulai!

Penikmat dan pengamat film - Aktif meliput kegiatan perfilman di Jakarta dan sejumlah festival film internasional sejak 2012
Tulisan dari Shandy Gasella tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
★★★★☆ | Shandy Gasella

Kita tengah hidup di era yang sangat asyik, terutama bagi yang gemar akan budaya pop, seperti film, komik, novel, game, dan perpaduan diantaranya. Pada tahun 2008, industri film Hollywood memasuki babak baru ketika Iron Man, tokoh jagoan (superhero) fiksi terbitan Marvel Comics karangan Stan Lee, Larry Lieber, Don Heck, dan Jack Kirby dialihmediakan menjadi film berjudul Iron Man, dibintangi Robert Downey Jr, dan disutradarai Jon Favreau.
Dalam sejarah sinema Hollywood yang begitu panjang, dimulai pada tahun 1911, tak pernah ada film jagoan adaptasi komik (yang sering diejek sebagai bacaan anak-anak itu) yang dibuat seterencana, seserius, dan seambisius Iron Man, juga film-film setelahnya. Iron Man membuka jalan bahwa karakter-karakter jagoan dari Marvel Comics dapat berbagi jagad yang sama dalam film-film bikinan Marvel Studios. Dan, hampir seluruh moviegoer di muka bumi ini menyukainya.
Padahal tak ada yang tahu siapa Iron Man sebelumnya, bahkan para pecinta komik di Amerika Serikat sendiri. Namun, selepas Iron Man, dunia komik dan film di Amerika Serikat tak pernah sama lagi.
Film dengan shared universe (berbagi jagad) menjadi tren, membuka lebih banyak lagi peluang monetisasi seperti merchandise, mainan, game, dan terutama membangkitkan kembali geliat industri komik yang sempat megap-megap. Dan tak hanya itu, disadari atau tidak, setiap film action Hollywood yang kita tonton dewasa ini memiliki formula film superhero. Padahal di filmnya sendiri tak ada karakter superhero, Hobbs & Shaw contohnya, untuk asal menyebut satu judul saja.
Indonesia dulu sempat punya industri komik yang lumayan besar, tak sebesar Amerika Serikat, tapi industrinya ada. Gundala Putra Petir karya Hasmi contohnya, terbit pertama kali di tahun 1969. Sri Asih karya R.A. Kosasih lebih duluan lagi, yakni di tahun 1954. Di tahun yang sama dengan kemunculan Gundala, ada pula Godam ciptaan Wid NS, Labah Labah Merah karya Kus Bram juga ikut diterbitkan. Juga, Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH terbit tahun 1967.
Di era tersebut dunia komik tanah air semarak sekali. Hingga kemudian di tahun 2003 penerbit Bumilangit menyatukan lebih dari 300 karakter jagoan yang tersebar di banyak komik dan penerbit yang berlainan, membelinya, lantas memberi satu 'rumah' baru bagi mereka.
Perlu empat production house untuk memfilmkan Gundala; Screenplay Films, Bumilangit Studios, Legacy Pictures, dan Ideosource Entertainment berjibaku bersama membuka babak baru sejarah sinema Indonesia. Di era keemasan film jagoan yang semakin diminati ini, kehadiran Gundala terasa begitu tepat. Kita butuh film jagoan kita sendiri, dan kita juga butuh agar industri film kita dapat semakin bergeliat secara signifikan. Gundala bisa menjadi jawaban yang selama ini kita tunggu-tunggu.
Lantas, membahas Gundala menjadi tak sekadar soal menyebutnya film yang bagus atau jelek. Apalagi sampai perlu membahas akting para pemainnya. Ayolah. Ini bukan film drama. Tak sesederhana itu. Tetapi kan film itu pasti punya kekurangan dan kelebihan?
Baiklah, bila pun perlu saya bahas, kekurangan Gundala saya rasa justru masih pada soal teknis yang ujung-ujungnya berurusan dengan waktu (pengerjaan) dan uang. CGI yang belum matang betul misalnya, karena konon biaya CGI dalam pascaproduksi film relatif mahal. Tetapi soal CGI bukan hal yang krusial amat dalam Gundala, lantaran Joko Anwar, penulis sekaligus sutradara, lebih fokus pada hal lain, yakni storytelling.
Ah, storytelling-nya kan awut-awutan, convoluted--demikian kira-kira komentar netizen yang mengkritiknya dengan cukup keras. Tetapi, apakah memang demikian?
Gundala bercerita tentang Sancaka (Sancaka kecil diperankan Muzakki Ramdhan, Sancaka dewasa oleh Abimana Aryasatya) yang nelangsa. Semasa kecil ia mesti kehilangan bapaknya (diperankan Rio Dewanto), seorang buruh pabrik yang mesti tewas karena memperjuangkan--tak hanya haknya sendiri, tetapi juga hak orang banyak. Tak lama berselang ia juga kehilangan ibunya (diperankan Marissa Anita) yang pada suatu hari berpamitan untuk ke kota sebentar, tetapi ia tak kunjung pulang, meninggalkan Sancaka kecil sendirian di rumah hingga kelaparan.
Sancaka menyusuri jalanan kota yang kumuh untuk bertahan hidup. Kota yang tak bersahabat dengannya. Kemudian ia bertemu dengan Awang (Faris Fadjar), bocah yang sedikit lebih tua darinya, yang menyelamatkannya tatkala ia dihajar habis-habisan oleh anak-anak jalanan.
“Lu udah bikin hidup gue susah karena gue udah nyelametin elu. Sekarang anak-anak itu bakal ngincer gue,” kata Awang setengah menyesal.
Awang lantas mengajarinya ilmu beladiri, dan sebuah pesan yang bakal diingat terus oleh Sancaka, yakni “Jangan ikut campur urusan orang lain kalo lu enggak mau hidup lu jadi susah.” Perjumpaan mereka hanya sesaat. Awang pun pergi entah ke mana.
Entah kemalangan apa lagi yang mendera Sancaka selama puluhan tahun berikutnya, kita lantas bertemu dengan Sancaka yang telah dewasa, kini ia seorang security sebuah percetakan surat kabar The Jakarta Times (apakah ini sebuah anggukan pada The Jakarta Post, almamater Joko?). Sancaka hidup sendirian, tinggal di sebuah rumah susun yang sempit. Sekali dua kali ia menjumpai kesewenang-wenangan terjadi di hadapannya, tetapi tidak ia acuhkan.
Pada waktunya ia peduli (terhadap sesama), karena suatu alasan--siapa coba yang tak kan tergerak bila seorang cewek sekece Tara Basro meminta bantuanmu? Setelah bertarung mati-matian dengan sejumlah preman pasar, Sancaka keok hingga hampir mati. Saat sakratulmaut hendak menjemputnya, kilatan petir menyambarnya. Lantas sambaran petir itu memberinya semacam kekuatan super (atau supernatural?). Yang tak ia sadari, sesungguhnya sedari kecil, petir memang seolah selalu mengejarnya, untuk suatu alasan.
Di sisi lain ada seorang penjahat, ia bukan penjahat biasa, sehingga kita sebut ia supervillain, bernama Pengkor (diperankan Bront Palarae). Ia sendiri punya sejarah hidup panjang yang barangkali lebih nelangsa dari Sancaka. Ibu bapaknya mati dibakar hidup-hidup, termasuk dirinya yang juga hampir mati terbakar. Separuh wajahnya rusak terkena jilatan api.
Pengkor adalah seorang mastermind, ahli memengaruhi orang agar menurut kepadanya. Ia punya banyak sekali anak buah yang hebat-hebat yang setia kepadanya. Dengan mendekati para politisi busuk di parlemen, ia berusaha menyukseskan rencana jahatnya merusak sebuah generasi. Rencana yang melibatkan beras--ironis, terkesan menggelikan, liar, tetapi juga sangat merangkul kearifan lokal, sederhananya; jenius.
Selain Pengkor, ada pula supervillain lain bernama Ghazul (Ario Bayu). Pada mulanya ia terlihat sebagai orang dekat Pengkor, tetapi Ghazul memiliki motif dan ceritanya sendiri yang sama sekali berlainan. Lalu ada juga sosok-sosok penjahat lain yang tampil sekilas, diperankan Cecep Arif Rahman, Kelly Tandiono, Hannah Al Rashid, Asmara Abigail, Cornelio Sunny, dan entah siapa lagi... termasuk kemunculan “Wonder Woman” yang sekonyong-konyong, tanpa permisi, dan tanpa basa-basi. Barangkali ini yang disebut-sebut sebagai convoluted oleh netizen yang menyukainya (atau kebingungan?)
Padahal bagi saya, Gundala adalah cerita tentang Sancaka dan Pengkor, sebuah koin dengan dua sisi yang berpunggungan. Lainnya adalah remahan teka-teki untuk dipecahkan di lain waktu.
Gundala adalah origin movie, kisah mula superhero, yang berhasil; ada introduction, a hero’s journey (perjalanan si jagoan), hingga kemudian pada akhirnya dia menerima siapa dirinya dan tujuan hidupnya yang sesungguhnya. Alasan mengapa ia memutuskan untuk mau ikut campur urusan orang lain, mau peduli terhadap nasib malang orang lain, mau membantu orang lain, mau menjadi jagoan tergambarkan cukup jernih. Dalam origin movie, poin inilah yang penting.
Dalam film-film superhero Hollywood sekali pun soal motivasi seorang karakter mau menjadi jagoan dalam melawan kebatilan, seringkali tak diceritakan cukup jelas. Mereka punya kekuatan super, tetapi menggunakannya untuk tujuan tertentu, entah untuk kebaikan atau kejahatan adalah cerita lain.
Lantas soal kostum yang juga dengan jeniusnya diberi landasan-landasan yang cukup masuk akal. Dalam komik juga film Gundala Putra Petir versi tahun 1981 arahan Lilik Sudjio, kostum Gundala adalah baju ketat berwarna hitam dengan penutup muka yang memperlihatkan mata, hidung, dan mulut, serta sepasang bulu-bulu unggas berwarna putih yang tersemat di kedua sisi telinga.
Apa fungsi bulu-bulu angsa itu? Wallahu alam bisshawab. Barangkali pada mulanya mendiang Hasmi, sang kreator komik, mendesain karakter Gundala sedemikian buat keren-kerenan saja, sebatas menjiplak desain The Flash terbitan DC Comics. Tetapi, Joko Anwar sebagai penulis memberi makna baru terhadap aksesoris di kedua sisi telinga Gundala tersebut. Bulu-bulu angsa itu kini berubah menjadi metal, Gundala kini tidak lagi cupu seperti dulu.
Di tangan Joko, Gundala ibarat 'Batman Begins'. Dalam instalmen pertama trilogi 'The Dark Knight' karya Christopher Nolan tersebut (ya ampun, saya enggak pernah nyangka bakal nulis tentang Joko Anwar dan Christopher Nolan dalam satu artikel yang sama), Bruce Wayne belumlah seorang Batman, di film itu ia seorang ninja.
Nah, dalam Gundala, Sancaka bahkan belum menyadari bahwa dirinya Gundala, yang dalam komik dikisahkan memiliki kemampuan memancarkan geledek dari telapak tangannya, lari secepat angin topan, dan lain-lain.
Maka, nelangsalah mereka yang terkecoh oleh kemunculan para karakter sampingan dalam film ini, lantas melupakan bahwa hikayat Sancaka/Gundala dan Pengkor tersampaikan dengan tuntas.
Maka dari itu saya memuji seluruh tim pembuat film ini, dan saya ucapkan selamat datang era baru sinema Indonesia!
