Pencarian populer

'John Wick: Chapter 3 - Parabellum', Brutal, Menaikkan Standar Action

Keanu Reeves in John Wick: Chapter 3 - Parabellum. Foto: Niko Tavernise/Lionsgate

★★★★★ | Shandy Gasella

Dalam seri ketiga film aksi penuh adrenalin ini, John Wick (Keanu Reeves - The Matrix, Speed), seorang pembunuh bayaran tingkat Dewa, kembali beraksi. Ia diburu tanpa ampun oleh sekumpulan pembunuh bayaran lainnya, yang diiming-imingi imbalan sebesar USD 14 juta jika berhasil membunuhnya.

Cerita dimulai persis beberapa saat setelah ending adegan John Wick: Chapter 2, mana kala ia baru saja membunuh salah seorang petinggi di High Table. Bila diibaratkan John Wick bekerja untuk sebuah perusahaan, maka High Table adalah para jajaran direksi atau investor.

Ia membunuhnya di Hotel Continental New York. Dalam dunia John Wick—sebut saja wickiverse—hotel tersebut adalah semacam tempat suci, tempat netral di mana segala bisnis (perkelahian dan pertumpahan darah) tak boleh terjadi.

Atas pelanggaran yang berat itulah, kini John Wick menjadi excommunicado—secara harfiah kira-kira berarti 'murtad' atau 'dimurtadkan', dikeluarkan dari sebuah institusi/komunitas. Dengan status excommunicado, John Wick kehilangan hak dan fasilitas dari perusahaan tempatnya bekerja.

Alhasil, John Wick pun harus memutar otak lebih keras untuk mencari bantuan di saat semua pistol, pisau, samurai, segala macam senjata mematikan para pembunuh tertuju padanya. Banyak sekali istilah dan aturan, termasuk misalnya aturan balas budi—yang pada akhirnya menjadi jalan keluar satu-satunya bagi John untuk mendapatkan pertolongan.

John Wick mendatangi beberapa orang, yang mungkin di masa lalu orang tersebut pernah ditolongnya. Namun, menolong John Wick pun memiliki risiko yang begitu besar, sebab siapa pun yang kedapatan menolongnya bakal diganjar hukuman yang berat.

Hadirlah seorang Ajudikator (Asia Kate Dillon - Orange is the New Black), utusan High Table yang bertugas menghukum pihak-pihak yang telah membantu John di Chapter 2. Termasuk di antaranya adalah Winston (Ian McShane - Hellboy, Game of Thrones), manajer Hotel Continental New York; dan Bowery King (Laurance Fishburne - The Matrix, The Mule), pimpinan agen pembunuh bayaran yang menyembunyikan operasinya sebagai para gelandangan New York.

Lebih banyak karakter dan lebih banyak lokasi, bahkan kali ini sampai ke Maroko dan Gurun Sahara. Jangkauan wickiverse menjadi semakin luas.

John Wick: Chapter 3 - Parabellum adalah instalasi yang luar biasa sebagai babak lanjutan dari dua seri sebelumnya yang juga hebat secara kualitas produksi. Namun, bila ada satu hal yang bisa saya komplain, film ketiga ini tidak memiliki fokus jelas dalam melanjutkan narasi yang sudah dibangun cukup baik lewat dua film sebelumnya.

Walau kita semakin tahu dunia wickiverse yang luas (tak cuma di New York), John Wick: Chapter 3 - Parabellum tak terasa seperti sekuel. Malah, saya merasa lebih seperti ekstensi—kira-kira semacam part 2 dari John Wick: Chapter 2.

John Wick: Chapter 3 - Parabellum. Foto: IMDB

Dengan memulai kisahnya beberapa saat setelah film kedua usai, John Wick: Chapter 3 - Parabellum masih mengambil ritme dan gaya yang sama dari John Wick: Chapter 2. Ya memang, ceritanya berlanjut dan membuka mitologi wickiverse secara lebih luas lagi, tetapi tentu saja kita sebagai penonton John Wick mengharapkan adegan aksi kelahinya, bukan? Cerita sih kita anggap saja sebagai bonus.

Namun, seperti yang saya katakan, John Wick: Chapter 3 - Parabellum berhasil sebagai sebuah tontonan laga yang lebih mementingkan kualitas produksinya ketimbang kualitas narasinya. Kualitas filmmaking-nya gila-gilaan.

Maksudnya, segalanya tampak nyata; banyak stunt berbahaya yang dilakukan dengan teknik lawas tanpa bantuan animasi komputer. Koreografi pertarungan, baik itu duel senjata api, duel senjata tajam, atau tangan kosong, dikemas dengan sangat baik. Sinematografinya bahkan lebih spektakuler ketimbang dua film sebelumnya.

Sutradara Chad Stahelski, yang merupakan mantan stuntman, menguasai betul cara-cara menyajikan stunt action, mulai dari setting, pengadeganan, hingga koreografi pertarungan yang bahkan banyak di antaranya melampaui ekspektasi saya. Terlebih, usahanya yang paling hebat adalah mampu meyakinkan kita bahwa Keanu Reeves, aktor berusia 54 tahun itu, masih bisa terlihat seberbahaya itu!

Sekuen pertarungan banyak sekali memperlihatkan gunfu (istilah baru, gabungan dari kata “gun” dan “kungfu”, artinya aksi tarung senjata api yang terlihat sebagai seni bela diri tersendiri). Ada juga elemen cahaya-cahaya yang semakin menguatkan kesan bahwa "inilah gaya khas film John Wick".

Pada dasarnya, film ketiga ini dan dua seri pendahulunya lebih terasa sebagai film yang dibangun lewat gaya ketimbang substansi. Dan, menjadi satu-satunya, sejauh ini, sebagai film terbaik yang mengedepankan gaya.

Aksi-aksi yang brutal, koreografi yang diciptakan hingga hampir terlihat seperti rangkaian tarian, dan practical effects menjadi daya tarik dan kekuatan utama film seri John Wick. Setelah The Raid, inilah film aksi terbaik yang pernah ada di muka Bumi.

Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhian ambil bagian dalam John Wick: Chapter 3 - Parabellum. Foto: IMDB

Dan, bagi penonton di Indonesia, John Wick: Chapter 3 - Parabellum menjadi lebih istimewa, lantaran ada dua bintang action Tanah Air yang turut ambil bagian, yakni Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhian dari The Raid. Mereka menjadi dua tokoh pembunuh bayaran yang memburu John Wick.

Dalam credit title, mereka disebut sebagai Shinobi 1 dan Shinobi 2, anak buah Zero (Mark Dacascos - Only the Brave, Instinct to Kill) yang merupakan chef sushi sekaligus, tentu saja, pembunuh bayaran yang mematikan.

Mark Dacascos sebagai veteran bintang laga mendapatkan comeback yang fenomenal lewat John Wick: Chapter 3 - Parabellum. Karisma yang kuat dan kemahirannya dalam berkelahi, ditambah unsur komedi yang disematkan pada karakternya, lewat beberapa adegan, ia bahkan terlihat jadi lebih likeable ketimbang Keanu Reeves sendiri.

Keterlibatan Cecep dan Yayan di film Hollywood kali ini tak sekadar sebagai pemain figuran yang muncul sesaat lantas terlupakan begitu saja. Pembuat film ini memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada dua jagoan kita itu. Kita pun boleh berbangga tanpa perlu takut dicap sebagai orang bermental inlander karenanya.

Menyaksikan Cecep dan Yayan beradu jotos dengan John Wick alias Baba Yaga alias Boogeyman—orang yang mampu membunuh tiga orang sekaligus di sebuah bar hanya dengan menggunakan pensil 2B—kata “seru” saja menjadi kurang representatif untuk menggambarkannya. Banget!

John Wick: Chapter 3 - Parabellum membuat standar yang tinggi bagi film bergenre action hingga film seri semacam Jason Bourne, Mission Impossible, dan James Bond yang kini menjadi terasa seperti film-film keluaran Disney!

Film ketiga ini juga diakhiri dengan ending yang terbuka, sama seperti film keduanya. Akankah ada Chapter 4? Oh, saya tentu saja amat menantikannya!

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22