kumparan
8 Apr 2019 18:17 WIB

Mantan Manten: Awalnya Mandul, Akhirnya 'Mantul' Juga

★★★☆☆ | Shandy Gasella
Pemain film Mantan Manten saat di kumparan. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan
Film semacam Mantan Manten rilisan terbaru Visinema Pictures ini adalah bukti tema atau cerita yang diangkat dalam film-film nasional kita kini semakin beragam saja. Sudah tidak itu-itu melulu, terlebih bila film tersebut keluaran Visinema yang konsisten membuat film dengan mutu cerita dan tata produksi yang terjaga.
ADVERTISEMENT
Apakah Mantan Manten bisa menjaga nama baik Visinema atau justru malah mencorengnya?
Setelah memberi kesempatan kepada sutradara debutan Sabrina Rochelle Kalangie untuk film Terlalu Tampan yang sempat edar beberapa waktu lalu, dan filmnya sendiri lumayan diterima baik oleh pasar, kini giliran Farishad Latjuba — Anda pasti berpikir... “Siapanya Sophia Latjuba ya?” Entahlah saya pun tak tahu — yang dipercaya Visinema untuk mewujudkan visinya bercerita tentang seorang tokoh perempuan kota yang karena suatu keadaan memaksanya untuk bersinggungan dengan dunia yang dipenuhi adat istiadat leluhur, dan klenik Jawa.
Dijual sebagai film komedi romantis — bila menilik desain poster dan materi promosinya yang terkesan jenaka, filmnya sendiri justru tidak begitu. Alih-alih Arifin Putra yang terpampang bersama Atiqah Hasiholan dalam poster film, Tutie Kirana lebih pas berada di sana, sebab Mantan Manten adalah tentang Nina (Atiqah Hasiholan, Wonderful Life, 3 Nafas Likas) dan Bu Marjanti (Tutie Kirana, Ave Maryam, 3 Nafas Likas) dua sosok perempuan beda generasi yang pada mulanya berselisih namun pada akhirnya nanti akan saling berekonsiliasi.
Atiqah Hasiholan saat di kumparan. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan
Alkisah Nina, seorang konsultan terkenal di bidang investasi — seperti Ligwina Hananto lah — memiliki hubungan istimewa dengan Surya (Arifin Putra, Foxtrot Six, Berandal), anak manja sekaligus pewaris tunggal dari pengusaha besar Arifin Iskandar (Tyo Pakusadewo, Surat dari Praha, Berandal), bosnya Nina sendiri.
ADVERTISEMENT
Will you marry me — after all those time we’ve spent together in Boston... New York...?” Tembak Surya sambil bersujud dan memberikan sebuah cincin kepada Nina. “Of course!” Jawab Nina dengan sumringah.
Dan film baru saja mulai. Kita diminta untuk mempercayai sejoli ini sedang dimabuk cinta, bahwa mereka sudah menjalin hubungan cukup lama. Tetapi, tak secepat itu mestinya kedua tokoh ini dikenalkan sebagai sepasang sejoli, chemistry di antara keduanya mesti dibangun terlebih dahulu. Baru kita bisa peduli.
Film bergulir, lantas kita disuguhi eksposisi sekelumit kesibukan Nina. Misalnya aja seperti menghadiri acara penghargaan, kalah, lantas perusahaan tempatnya bekerja dilanda kasus dan ia dikambinghitamkan oleh bos sekaligus calon mertuanya sendiri. Ia bangkrut, apakah ia yang mesti membayar segala kerugian, tak dijelaskan secara gamblang, tiba-tiba lewat sebuah adegan yang disyut ala video klip jadul tahun 2000-an awal.
ADVERTISEMENT
Via time lapse Nina duduk di ruangan utama apartemennya, tak bergeming, sedangkan orang-orang di sekitarnya bergerak cepat, memindahkan segala perabotan keluar dari apartemennya — siapa coba yang masih main time lapse di tahun 2019 ini? Farishad Latjuba.
Dan ia menempatkannya begitu saja, untuk adegan itu saja, tanpa konsistensi, misalnya untuk adegan transisi perpindahan waktu, tak pernah ada time lapse lagi, padahal bila sekali-sekali disisipkan untuk transisi tak mengapa biar konsisten dan terkesan terkonsep.
Anyway, Nina pada akhirnya menyewa seorang pengacara (dimainkan Asri Welas, Keluarga Cemara, Suzanna: Bernapas Dalam Kubur) untuk melawan Arifin. Masalahnya ia tak punya uang. Ironis seorang konsultan keuangan papan atas langsung jatuh miskin seketika tanpa tabungan sepeser pun.
Arifin Putra saat di kumparan. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan
“Tapi, Ibu masih punya vila lho di Tawangmangu. Ibu sudah beli sejak lama, tapi belum balik nama.” Ardy (Marthino Lio, Sultan Agung, The Guys), asisten pribadi Nina, mengingatkannya. Ironis, seorang konsultan keuangan papan atas tak bisa mengelola asetnya sendiri. Ironis pula, penulis naskah film ini yakni Farishad Latjuba dibantu Jenny Jusuf (Filosofi Kopi the Movie, Critical Eleven) mengangkat kisah seorang konsultan keuangan, dan berniat menjadikannya sebagai wanita yang berdaya. Tokoh protagonis kita, tetapi justru Farishad dan Jenny malah membuat karakter Nina terlihat seperti perempuan yang tak becus apa-apa.
ADVERTISEMENT
Hingga kemudian Nina mendatangi kediaman Bu Marjanti di Tawangmangu, yang sebetulnya rumahnya sendiri. Kini ia datang untuk menjualnya kembali. Nina meminta Bu Marjanti untuk menandatangani dokumen balik nama, tetapi Bu Marjanti malah mengajukan syarat, yakni agar Nina mau menjadi asistennya selama beberapa bulan untuk mengurusi pernikahan beberapa kliennya.
Bu Marjanti adalah seorang Paes, ahli tata rias bagi pengantin Jawa. Tak sekadar Paes biasa, Bu Marjanti juga ahli mencari weton (tanggalan baik untuk hari pernikahan yang ditentukan lewat ritual tertentu).
Dari sini film mulai menarik, dan mestinya di sini film ini bermula. Di Tawangmangu.
Tutie Kirana yang karismatik, olah tubuh dan caranya berdialog dengan logat Jawa meyakinkan betul sebagai seorang Paes berpengalaman nan bijaksana. Dan babak demi babak dari sini tertangani lumayan baik.
Oxcerila Paryana saat di kumparan. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan
Kita tahu menjadi Paes itu maknanya apa, ritualnya bagaimana, apa arti seorang Paes bagi dirinya sendiri juga bagi orang lain. Seolah babak ini ditulis oleh orang berbeda. Jomplang dengan babak pertamanya.
ADVERTISEMENT
Tutie Kirana memberi bobot tersendiri terhadap film yang terasa ditulis dan digarap setengah matang oleh Farishad. Di Tawangmangu, kita dikenalkan pada karakter lain yakni Darto, dimainkan Dodit Mulyanto (Susah Sinyal, Mata Dewa) sebagai anak tetangga Bu Marjanti.
Dia sering berkunjung ke rumah Bu Marjanti dan bantu-bantu, kehadirannya juga membawa kegembiraan tersendiri, tetapi pada salah satu momen penting, Darto tiba-tiba menghilang — seolah Dodit kelupaan di-calling, dan tim pembuat film ini jalan terus tanpa dia.
Bukan sebuah debut yang impresif dari Farishad. Tetapi, secara keseluruhan film ini masih terbilang lumayan. Dua jempol bagi Visinema yang konsisten membuat film dengan tema-tema yang barangkali bakal dianggap tak menjual bagi sebagian besar PH lain.
ADVERTISEMENT
Walau Atiqah kadang-kadang tampil over the top, Arifin Putra dan Tyo Pakusadewo — seperti biasa — bermain menjadi diri mereka sendiri, walaupun duo penulis naskah lupa memberikan latar belakang karakter protagonisnya sendiri (coba, apakah dia anak yatim piatu, tak punya relasi selain asisten pribadinya sendiri?)
Percayalah penampilan Tutie Kirana dan Atiqah Hasiholan masih mampu menarik perhatian kita untuk tetap terpaku walau ada yang terasa enggak beres di sana-sini.
Farishad mungkin gagap memulai film ini, sama gagapnya seperti Iman Brotoseno ketika menggarap 3 Srikandi. Tetapi, setidaknya Farishad masih tahu bagaimana caranya mengakhiri film ini agar meninggalkan kesan. Agar tak terlupakan begitu saja.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan