Dari Hijab Ke Diplomasi: Wajah Dari Feminisme Indonesia

Mahasiswa S1 Hubungan International Universitas Mulawarman
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Shangdhavo Izzati Anhar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hijab, bagi sebagian, cara menegakkan iman. Bagi sebagian lain, fashion untuk berekspresi

Hijab bukanlah sekedar bagian dari pakaian yang terbuat dari kain, namun ia memiliki nilai iman, fashion, tekanan, serta kekuatan. Di zaman sosial media ini, hijab menjadi panggung dimana feminisme dan politik secara internasional bermain.
beberapa waktu ini, hijab menjadi salah satu perbincangan yang cukup ramai di media sosial. Contohnya adalah di bandung, sebuah video instagram dari pengguna @indotoday yang viral menayangkan seorang perempuan dengan menggunakan gaya hijab yang longgar ala-ala “hijab gaya Gen z.” Tanpa waktu lama netizen langsung menyerang kolom komentar dengan sindiran dan teguran: “Ini jelas pelecehan & penistaan agama, karena tidak sesuai aturan syariatnya.” ”Astagfirullah model hijab macam apa ini? Dia gak tau yg namanya aurat.” Dan masih banyak pula yang menanggapinya dengan nada yang serupa. Sebuah pengganti untuk scarf yang mengguncang secara nasional.
Indonesia merupakan negara dengan mayoritas Muslim terbanyak di dunia, dan hijab telah menjadi eksport kultur yang terbesar dari Indonesia terhadap dunia secara global. Munculnya fashion berbasis pada hijab seperti akun toko hijab online instagram hingga acara bergengsi seperti Jakarta World Muslimah Festival yang memposisikan Indonesia sebagai pusat untuk berkembangnya fashion Muslim. Hijab sudah tidak lagi hanya digunakan di mesjid ataupun ruang kelas, namun ia muncul di dunia internasional yang memancarkan pengaruh Indonesia terhadap pasar.
Hijab dan Feminisme Sebagai Kekuatan Untuk Mempengaruhi Secara Global
Konsep soft power yang dikembangkan oleh Joseph Nye mengacu pada bagaimana sebuah negara mempengaruhi dunia bukan dengan cara yang langsung seperti militer atau kebijakan internsional, namun dengan budaya, norma, dan diplomasi. Hijab merupakan salah satu dari soft power Indonesia, melaui itu Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa hijab mengekspresikan medernitas dan keimanan bersatu. Menantang stigma perempuan Muslim sebagai tertindas, setiap reels atau fyp yang menampilkan OOTD, tiap trend viral dapat berkontribusi pada diplomasi budaya Indonesia.
Hijab juga berperan sebagai salah satu hal yang dipakai oleh feminis untuk bergerak. Untuk sebagian wanita, memakai hijab dapat memberikan kesan bahwa dia merdeka dari standar kecantikan barat serta memiliki iman. Untuk sebagian yang lain, terutama mereka yang memiliki kewajiban di tempat kerja dan sekolahan, hijab terasa seperti paksaan sosial dan atasan. Feminisme di Indonesia mencoba mencari titik tengah dengan pilihan mau pakai hijab silahkan dan tidak juga merupakan hak pribadi.
Hijab saat ini merupakan perkara yang rumit dan berbeda-beda dalam debat global. Di Prancis, hijab dilarang karena mereka meng-klaim hal tersebut “membebaskan” wanita. Sedangkan Iran, mewajibkan memakai hijab secara hukum yang merupakan sebuah bentuk paksaan. Indonesia memberikan titik tengah terhadap persoalan hijab, hijab itu tidak wajib namun ia melekat dengan budaya sehari-harinya. Feminis berpendapat bahwa kebebasan absolut bukan terletak pada kewajiban atau larangan, namun untuk memastikan hak perempuan untuk menentukan pilihannya.
Platform media sosial menjadi panggung untuk influencer hijab agar dapat melawan stigma dengan menggabungkan gaya, rasa, dan iman. Mereka mewujudkan feminisme yang bernuansa lokal namun berdampak global, membuktikan bahwa wanita Muslim bisa tampil modis, berpendidikan, serta berani bersuara. Namun sosial media juga mengekspos wanita pada komentar terhadap dirinya. Hijab yang terlalu ketat atau terlalu longgar dapat mengundang ribuan kritik dan komen dengan sindiran dan teguran. Seorang aktris bernama jennifer coppen dituduh “bermain dengan agama” oleh salah satu komen di tiktok yang menyebar luas, sehingga memaksanya untuk melaporkan pengirim komentar tersebut kepada pihak berwajib. Secara online tubuh wanita terus menerus diatur, menunjukkan bagaimana sistem patriarki beradaptasi dalam bentuk digital.
Feminisme Berdiplomasi Melalui Hijab
Selain dari fashion dan trend sosial media, hijab mulai masuk diplomasi internasional melalui pekerja imigran asal dari Indonesia. Daerah timur tengah dan eropa, banyak pekerja Indonesia mendapatkan diskriminasi sebagai Muslim berhijab. Melindungi hak mereka menjadi kebijakan internasionalnya Indonesia, menghubungkan hal personal menjadi politik. Diwaktu yang sama juga, feminis Indonesia seringkali menunjukan rasa solidaritas terhadap wanita iran menolak kewajiban berhijab dan juga menentang hukum larangan menggunakan hijab di eropa. Pendirian yang mengutamakan bagaimana perempuan dapat memilih pilihannya dapat membuat Indonesia bisa memberi warna baru dalam percakapan feminisme global.
Apa yang tampil dapat menjadi diplomasi. Sebuah video viral tentang hijab, fashion show bertemakan hijab di jakarta, ataupun sebuah influencer hijab berkontribusi terhadap bagaimana dunia melihat wanita Muslim dan Indonesia. Dengan mengklaim hijab sebagai kebanggan budaya dan pilihan personal, wanita Indonesia melakukan diplomasi yang tidak langsung namun kuat. Mereka tidak berbicara di aula kedutaan besar atau aula PBB, tetapi pengaruh mereka melewati pebatasan negara. Pesan mereka jelas, yaitu menunjukkan bahwa feminisme bukanlah hal yang seragam dimana-mana namun ia menjadi simbol iman sekaligus pribadi sesuai dengan bagaimana perempuan mendefinisikan dirinya. Inilah soft power dari hijab yang dimiliki oleh Indonesia.
Hijab di Indonesia itu lebih dari tradisi turun temurun, namun sebuah soft power, diplomasi budaya, dan sebuah tanda perjuangan feminisme. Melaui sosial media dan hijab, wanita mengubah pilihan personal menjadi percakapan global, menunjukkan bahwa feminis Indonesia itu bukan tentang menolak hijab tetapi tentang mengadopsi nya sesuai pilihan mereka sendiri.
