Konten dari Pengguna

Mengapa Tren Menikahi Pasangan Jauh Lebih Tua Menjadi Pilihan yang Rasional?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sherly Goesty Rany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menikah dengan pasangan yang lebih tua | Foto: Generated by Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menikah dengan pasangan yang lebih tua | Foto: Generated by Gemini AI

Media sosial belakangan ini kerap diwarnai oleh kepungan konten romantis yang menampilkan pernikahan beda generasi. Narasi yang dibangun netizen di kolom komentar beragam, mulai dari motif finansial, tuduhan kepincut harta, hingga pelabelan bias gender seperti “papi atau mami sugar".

Stigma sosial ini begitu melekat, seolah-olah keputusan menikahi seseorang dengan selisih usia puluhan tahun hanya didasari oleh harta.

Namun, benarkah fenomena ini sesederhana itu?

Dalam ilmu psikososial, penolakan anak muda terhadap pernikahan sebaya dan beralih ke figur yang jauh lebih tua dipahami sebagai tindak mekanisme bertahan hidup (survival mechanism). Pemicu utamanya bermuara pada satu realitas pahit, yaitu krisis finansial yang menjerat generasi muda.

Berdasarkan laporan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pernikahan di Indonesia konsisten merosot tajam. Di tahun 2014, jumlah pernikahan mencapai kisaran 2,1 juta, namun di 2024 angka ini menyusut ke 1,4 juta peristiwa (penurunan mencapai hampir 30%).

Fenomena ini juga diperkuat dari hasil lembaga survei Populix. Mayoritas Gen Z dan Milenial hari ini memilih menunda pernikahan demi mengejar kestabilan ekonomi dan karier terlebih dahulu. Menikah dengan rekan sebaya yang sama-sama masih merangkak dari nol di pasar kerja yang penuh ketidakpastian dinilai sebagai risiko ekonomi yang terlalu besar.

Berbeda dengan kelompok usia yang jauh lebih matang. Umumnya, mereka sudah berada di puncak kemapanan dan telah melewati fase merintis karier. Tak jarang, banyak dari mereka yang telah mempunyai aset mandiri. Oleh karena itu, menikahi figur yang lebih tua menjadi sebuah strategi untuk memotong kesulitan ekonomi yang biasanya harus dihadapi pasangan muda selama belasan tahun.

Mencari Jangkar Emosional di Tengah "Dating Fatigue"

Ilustrasi sepasang kekasih yang bertengkar | Foto: Generated by Gemini AI.

Tetapi menyederhanakan tren ini hanya pada urusan isi dompet tidak lantas benar sepenuhnya. Sisi psikologis juga memegang peranan penting.

Anak muda zaman sekarang banyak yang mengalami kelelahan mental akibat dinamika hubungan asmara modern yang penuh ketidakpastian, atau yang biasa disebut dating fatigue. Hubungan sesama anak muda sering kali melelahkan karena kedua belah pihak sama-sama masih dalam fase labil dan ego yang tinggi.

Seorang psikolog, Dr. Susan Krauss Whitbourne, menjelaskan bahwa orang yang berusia lebih matang memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dalam mengelola stres dan meredam konflik dalam hubungan.

Mereka tidak lagi sibuk mencari jati diri, sehingga bisa memberikan kepastian komitmen dan rasa aman yang dicari oleh pasangan mudanya. Bagi anak muda, pasangan yang matang ini ibarat rumah yang membuat mereka merasa benar-benar dipahami dan dilindungi tanpa perlu melewati drama-drama hubungan yang menguras energi.

Pergeseran Standar Akibat Tren Media Sosial

Ilustrasi tren #MarriageIsScary | Foto: Generated by Gemini AI.

Apalagi di era digital saat ini, maraknya tagar seperti #MarriageIsScary memperlihatkan ketakutan nyata anak muda akan kegagalan pernikahan akibat ketidaksiapan mental pasangan sebayanya. Tren ini secara tidak langsung ikut mengubah standar anak muda saat memilih pasangan hidup.

Kini generasi muda tidak lagi sekadar mencari pasangan yang tampan atau cantik. Mereka juga mencari kepastian komitmen nyata dan kedewasaan emosional. Sebuah kualitas yang memang lebih mudah ditemukan pada sosok yang sudah matang secara usia.

Pada akhirnya, mencela anak muda yang memilih pasangan lintas generasi sebagai sosok yang mencari kesempatan adalah sikap yang tidak adil. Kita harus melihat segala sesuatu secara objektif.

Menikahi seseorang yang terpaut usia jauh mungkin terlihat sebagai sesuatu yang tabu. Namun, di tengah dunia yang semakin penuh ketidakpastian, mencari pasangan yang bisa menjamin keamanan emosional serta finansial adalah hak bagi setiap individu.