Fenomena Oversharing: Curhat atau Cari Validasi?

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Shinta Rizki Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kamu buka media sosial, lalu melihat seseorang membagikan hampir semua hal tentang hidupnya? Mulai dari masalah percintaan, konflik dengan teman, kondisi mental, sampai pertengkaran keluarga. Bahkan kadang, sebelum masalahnya selesai, ceritanya sudah lebih dulu muncul di Instagram Story atau TikTok. Fenomena ini dikenal dengan istilah oversharing, yaitu kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan kepada orang lain, terutama di media sosial. Tapi sebenarnya, oversharing itu cuma bentuk curhat biasa atau ada kebutuhan lain yang sedang dicari? Ketika Media Sosial Menjadi Tempat Curhat Dulu, orang biasanya bercerita kepada sahabat, keluarga, atau orang yang dipercaya. Sekarang, media sosial sering menjadi pilihan pertama untuk meluapkan perasaan. Saat sedang sedih, marah, kecewa, atau bahkan patah hati, rasanya lebih mudah menulis beberapa kalimat di story daripada harus menjelaskan semuanya secara langsung kepada seseorang. Tidak heran jika media sosial akhirnya menjadi ruang curhat digital bagi banyak orang. Curhat Boleh, Tapi Kenapa Harus di Internet? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berbagi cerita. Manusia memang butuh didengar dan dipahami. Masalahnya muncul ketika hampir setiap emosi, masalah, atau konflik dibagikan ke publik. Kadang bukan karena ingin mencari solusi, melainkan karena berharap ada respons dari orang lain. Mulai dari komentar, pesan dukungan, hingga jumlah views bisa memberikan perasaan bahwa kita diperhatikan. Di sinilah muncul pertanyaan: apakah yang dicari benar-benar tempat bercerita, atau validasi dari orang lain? Validasi di Era Digital Tanpa disadari, media sosial membuat banyak orang terbiasa mencari pengakuan. Ketika mengunggah sesuatu lalu mendapat banyak respons, muncul perasaan senang dan dihargai. Sebaliknya, ketika unggahan sepi respons, sebagian orang bisa merasa diabaikan. Akibatnya, ada dorongan untuk terus membagikan kehidupan pribadi agar tetap mendapatkan perhatian. Padahal, tidak semua hal harus diketahui publik. Saat Batas Privasi Mulai Hilang Salah satu dampak oversharing adalah hilangnya batas antara ruang pribadi dan ruang publik. Hal-hal yang seharusnya menjadi konsumsi diri sendiri atau orang terdekat justru tersebar luas di internet. Padahal jejak digital bisa bertahan lama, bahkan setelah kita menghapus unggahannya. Belum lagi risiko munculnya komentar negatif, salah paham, atau orang-orang yang memanfaatkan informasi pribadi tersebut. Kadang yang awalnya hanya ingin curhat, justru berakhir menjadi sumber stres baru. Kenapa Fenomena Ini Banyak Terjadi pada Gen Z? Gen Z tumbuh bersama internet dan media sosial. Berbagi aktivitas sehari-hari sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Ditambah lagi, budaya keterbukaan semakin populer. Banyak orang merasa lebih nyaman berbicara soal perasaan, kesehatan mental, atau pengalaman hidup mereka. Hal ini sebenarnya positif karena membuat banyak topik yang dulu dianggap tabu menjadi lebih terbuka untuk dibahas. Namun, keterbukaan tetap membutuhkan batas. Tidak semua hal harus dibagikan kepada semua orang. Curhat atau Cari Validasi? Jawabannya mungkin bisa keduanya. Ada orang yang memang hanya ingin mengekspresikan perasaan. Ada juga yang tanpa sadar sedang mencari dukungan dan pengakuan dari lingkungan sosialnya. Yang terpenting bukanlah seberapa sering kita bercerita, tetapi apakah kita masih memahami batas antara berbagi dan membuka seluruh kehidupan pribadi. Karena pada akhirnya, tidak semua hal perlu menjadi konten. Beberapa cerita mungkin lebih baik disimpan, diproses, dan dibicarakan dengan orang yang benar-benar bisa mendengarkan. Di era ketika hampir semua hal bisa diunggah dalam hitungan detik, menjaga privasi mungkin justru menjadi hal yang semakin berharga.
