Sahur di Rumah: Kenapa Anak Perempuan Lebih Sering ke Dapur?

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Shinta Rizki Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Alarm berbunyi pelan, lampu dapur menyala lebih dulu sebelum ruang lain di rumah ikut terang. Di banyak rumah, pemandangan ini terasa familiar: ibu sudah terbangun, dan tak lama kemudian, anak perempuannya menyusul ke dapur. Sementara itu, anggota keluarga lain baru bangun ketika makanan hampir siap tersaji. Fenomena ini mungkin terlihat biasa. Bahkan sering dianggap sebagai bagian dari “tradisi” keluarga saat Ramadhan. Tapi jika diperhatikan lebih dalam, ada pola yang terus berulang: saat sahur, anak perempuan lebih sering terlibat dalam pekerjaan domestik dibanding anak laki-laki.
Kenapa begitu? Kebiasaan yang Dianggap Wajar Banyak keluarga tidak pernah secara sadar membagi tugas berdasarkan jenis kelamin. Tidak ada aturan tertulis bahwa anak perempuan harus membantu di dapur saat sahur. Namun dalam praktiknya, harapan itu sering muncul secara halus. “Bantu ibu dulu, ya.” “Kan kamu perempuan, belajar masak.” Kalimat-kalimat seperti ini terdengar ringan. Tapi lama-lama membentuk pola. Anak perempuan terbiasa diasosiasikan dengan ruang domestik, sementara anak laki-laki lebih sering diberi ruang untuk tetap beristirahat atau hanya menunggu makanan siap. Karena terjadi setiap hari, terutama saat Ramadhan, pola ini terasa normal. Padahal, di sinilah peran gender bekerja secara perlahan. Peran Gender dalam Ruang Domestik Dalam kajian sosial, peran gender bukan soal perbedaan biologis, melainkan tentang ekspektasi sosial yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan. Siapa yang dianggap “wajar” memasak, membersihkan, atau menyiapkan makanan sering kali bukan soal kemampuan, tapi soal konstruksi budaya. Sahur menjadi salah satu momen kecil yang memperlihatkan bagaimana peran itu dipraktikkan di dalam rumah. Anak perempuan belajar sejak dini bahwa membantu di dapur adalah bagian dari tanggung jawabnya. Sementara anak laki-laki tidak selalu mendapat dorongan yang sama untuk terlibat. Bukan berarti semua keluarga demikian. Ada banyak rumah yang sudah membagi tugas secara setara. Namun di banyak tempat, pola lama masih terasa kuat. Antara Ibadah dan Beban Tak Terlihat Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan kebersamaan. Sahur seharusnya menjadi momen yang memperkuat rasa saling mendukung dalam keluarga. Namun ketika satu pihak lebih sering memikul pekerjaan domestik, ada beban tak terlihat yang ikut hadir. Anak perempuan bangun lebih awal bukan hanya untuk makan, tapi untuk menyiapkan. Mereka sering tidur lebih larut karena membereskan dapur. Hal ini mungkin dilakukan dengan ikhlas, tapi tetap perlu disadari bahwa tanggung jawab tersebut seharusnya bisa dibagi bersama. Kesetaraan dalam keluarga bukan berarti menghilangkan tradisi, melainkan menata ulang pembagian peran agar lebih adil. Refleksi Kecil di Bulan yang Penuh Makna Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk refleksi. Bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang hubungan antaranggota keluarga. Mungkin pertanyaannya bukan lagi “kenapa anak perempuan lebih sering ke dapur?”, melainkan “apakah peran itu sudah dibagi secara adil?” Sahur akan tetap hangat jika dikerjakan bersama. Dapur bisa menjadi ruang kebersamaan, bukan ruang yang secara otomatis diasosiasikan dengan satu gender saja. Karena pada akhirnya, nilai Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang belajar adil, berbagi, dan saling meringankan. Dan mungkin, perubahan kecil bisa dimulai dari jam tiga pagi di rumah kita sendiri.
