Manusia Predator Alam Semesta

Shofaa Nurhaliza
Mahasiswi berusia 19 tahun, sedang menempuh pendidikan dengan program studi Sastra Indonesia di Universitas Pamulang semester 2.
Konten dari Pengguna
11 Juni 2023 20:21 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Shofaa Nurhaliza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pemburu. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemburu. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tuhan menciptakan manusia adalah untuk beribadah dan menjadi khalifah di dunia. Allah SWT berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat: 56)
ADVERTISEMENT
Kemudian ketika Allah menjadikan Adam Khalifah, "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di Bumi', mereka bertanya, 'Adakah Engkau hendak menjadikan di Bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (bunuh-bunuhan), padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?". Allah berfirman "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah 2: 30)
Menurut KBBI, khalifah adalah wakil (pengganti) Nabi Muhammad Saw setelah nabi wafat (dalam urusan negara dan agama) yang melaksanakan syariat (hukum) Islam dalam kehidupan negara. Gelar kepada agama dan raja di negara Islam. Penguasa: pengelola manusia.
Begitulah tujuan manusia diciptakan, untuk beribadah dan menjadi khalifah di dunia. Seorang khalifah (pemimpin) haruslah memberikan perlindungan untuk umat dan menjaga kelestarian alam. Sayangnya, apa yang terjadi saat ini tidaklah mencerminkan tujuan dari manusia diciptakan.
ADVERTISEMENT
Contohnya pada kasus yang belum lama terjadi, mengenai seorang pria Rusia yang tewas di serang hiu macam di Mesir. Banyak orang yang sedih dan sangat menyayangkan hal itu terjadi.
Tentu saja sebagai sesama manusia kita pasti merasa sedih ketika mendapatkan informasi mengenai kematian manusia lainnya, tetapi jika kita memutar balik posisinya, bagaimana dengan kematian hiu yang meningkat setiap tahunnya karena diburu manusia?
Menurut Boris Worm, Profesor biologi si Dalhousie University, Kanada, "Meningkatnya permintaan sirip hiu menyebabkan keselamatan hiu semakin rentan dibanding tahun-tahun sebelumnya," ucap Worm pada 4 Maret 2013, memimpin penelitian hiu yang diterbitkan dalam jurnal Marine Policy.
Para peneliti memperkirakan sekitar 60-73 juta ekor hiu dibunuh setiap tahunnya. Hiu ditangkap untuk diambil daging, minyak hati, tulang rawan, dan siripnya. Sirip hiu yang diperoleh dengan cara dipotong dari hiu yang masih hidup digunakan dalam sup sirip hiu, masakan kuno Asia Timur.
Ilustrasi serangan hiu. Foto: Shutterstock
Sementara kasus kematian manusia yang disebabkan oleh serangan hiu sebanyak lima orang per tahun. Itupun terjadi karena manusia datang dan berenang ke laut, bukan hiu yang datang menghampiri manusia ke daratan.
ADVERTISEMENT
Selain kasus tersebut, ternyata masih banyak kasus kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh manusia. Contohnya seperti, kebakaran hutan untuk pembebasan lahan, sampah plastik menumpuk di sekitar pantai, longsor akibat galian tambang, erosi, abrasi dan lainnya.
Kita semua tahu, untuk bertahan hidup manusia perlu makan dan bekerja untuk mendapatkan uang. Tetapi sayangnya, manusia terlalu egois, menganggap yang harus bertahan hidup hanyalah dirinya saja. Padahal sebenarnya ada banyak makhluk hidup yang juga ingin mempertahankan kehidupannya.
Jika manusia mengotori lautan, membakar hutan—yang itu digunakan sebagai tempat tinggal hewan—bukankah itu sudah cukup menunjukkan bahwa manusia adalah predator sesungguhnya di alam semesta?
Manusia seringkali menganggap bahwa hewan merupakan predator terkejam di dunia. Seperti harimau, singa, macan, buaya, kuda nil, dan hewan lainnya. Padahal predator sesungguhnya di alam semesta adalah manusia itu sendiri, tetapi sayangnya masih belum banyak yang menyadarinya. Asal perut kenyang dompet tebal, manusia menjadi gelap mata dan akan melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya.
ADVERTISEMENT
Ada satu kejadian yang membuat semua hal menjadi lucu, yaitu ketika hewan-hewan yang awalnya hidup di hutan tiba-tiba datang ke pemukiman warga. Tentu saja manusia marah karena rumahnya diobrak-abrik hewan-hewan yang datang ke rumahnya untuk mencari makan.
Padahal hewan-hewan tersebut datang karena rumahnya hilang. Hutan yang seharusnya menjadi rumah tempat tinggal hewan sudah habis terbakar karena pembebasan lahan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.
Ternyata, manusia berbuat kerusakan di alam semesta sudah tercatat di dalam (QS. Ar-Rum: 41), "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia."
Dengan adanya ayat tersebut yang sudah memprediksi perbuatan manusia di dunia, alih-alih merasa bangga karena bisa menaklukkan semua makhluk hidup, harusnya manusia sadar dan merasa malu karena perbuatan buruknya sudah tercatat sejak jutaan tahun yang lalu.
ADVERTISEMENT
Maka dari itu, mari sadari mulai saat ini, sayangi semua makhluk di Bumi. Jika tidak bisa memberikan kenyamanan, jika tidak bisa memberikan tempat tinggal untuk mereka, jika tidak bisa memberikan makanan pada mereka, setidaknya jangan merusak apa yang ditetapkan menjadi milik mereka.
Jangan menghilangkan tempat tinggal mereka sehingga membuat mereka kesulitan mencari makan dan berakhir mendatangi pemukiman warga. Tentu saja manusia juga tidak inginkan rumahnya hilang dan sulit mencari makan?
Jangan menjadi manusia yang egois dan gelap mata hingga menghalalkan cara untuk mendapatkan apapun. Boleh memakan apa saja yang disuka asalkan tidak berlebihan, sewajarnya saja. Jagalah dunia yang menjadi tempat tinggal kita, karena jika dunia sudah tidak layak menjadi tempat tinggal makhluk hidup, maka tidak ada lagi tempat untuk kita tinggal.
ADVERTISEMENT