Konten dari Pengguna

Wahai Anak Rantau, Setengah Kekuatanmu Adalah Doa Ibu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari shofalailah25 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini adalah foto ummi saya bersama adik keponakan. Gambar ini adalah milik pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini adalah foto ummi saya bersama adik keponakan. Gambar ini adalah milik pribadi.

Merantau itu bukan perkara mudah. Jauh dari rumah, keluarga, dan kenyamanan yang biasa kita dapatkan. Tapi ada satu hal yang sering jadi sumber kekuatan terbesar—yang tak terlihat, tapi nyata adanya: doa seorang ibu.

Kalau kamu anak rantau, kamu pasti paham rasanya.

Tidur di kamar sempit, makan seadanya, harus pintar-pintar atur uang bulanan, belum lagi tekanan dari tugas kuliah atau pekerjaan. Kadang semua terasa berat. Kadang ingin menyerah. Tapi entah kenapa, selalu ada kekuatan baru setiap pagi. Seolah-olah ada energi yang terus mendorong untuk bertahan. Itulah doa ibu bekerja diam-diam.

Doa yang Tak Pernah Putus

Ibumu mungkin tidak mengerti apa itu skripsi, tenggat kerja, atau beban target. Tapi dia selalu tahu kapan kamu sedang kesusahan, bahkan tanpa kamu cerita. Dan saat itu terjadi, ia akan berdoa. Diam-diam, di dapur, di sepertiga malam, atau di sela-sela kesibukannya mencuci baju. Ia menyebut namamu—dengan air mata atau senyuman, tergantung isi kabar yang kamu sampaikan terakhir kali.

Dan kamu, bisa jadi tetap tertawa di balik layar Zoom, sambil menyembunyikan lelah yang mulai menumpuk. Tapi sesungguhnya, kamu tetap bisa bertahan karena ada satu hal: doanya tak pernah absen.

Merantau dengan Restu, Pulang Membawa Kabar Baik

Kalau kamu berangkat merantau dengan restu dan peluk hangat ibu, itu ibarat kamu berlayar dengan angin terbaik. Tapi jangan lupa, restu saja tidak cukup kalau kamu lupa pulang. Pulang bukan cuma fisik. Kadang, cukup kabar yang rutin. Suara yang menenangkan. Atau video call 5 menit sambil makan mie instan malam-malam.

Kita sering lupa bahwa orang yang paling menantikan kabar kita adalah orang yang tidak pernah benar-benar ingin kita jauh: ibu. Bukan karena dia mengekang, tapi karena hatinya terlalu luas untuk tidak khawatir.

Jangan Tunggu Waktu Mengambilnya

Kadang, kita terlalu sibuk membangun masa depan sampai lupa bahwa waktu bisa mengambil segalanya, bahkan sosok yang paling kita sayangi. Jangan tunggu nanti untuk bilang “terima kasih”. Jangan tunggu sukses dulu untuk membahagiakan ibu. Percayalah, baginya, satu panggilanmu malam ini lebih berarti dari semua hadiah yang belum sempat kamu kirim.

Karena sejauh apa pun kamu merantau, setengah kekuatanmu tetap datang dari doa ibu. Sisanya? Usaha, kerja keras, dan keyakinan bahwa kamu sedang diperjuangkan oleh seseorang yang bahkan tidak pernah meminta imbalan apa pun.

Kamu anak rantau? Sudah telepon ibumu hari ini?