Konten dari Pengguna

Suka Berperilaku Toxic di Dalam Game? Berhenti Melakukan itu! Ini Efeknya

Sholah Syafiqurrahman

Sholah Syafiqurrahman

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sholah Syafiqurrahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“enggak semua orang itu kalau dihujat-hujat itu makin jago guys”

-Yesaya Omega Armando Wowiling alias Xinnn

sumber : Unsplash/Frederick Tendong
zoom-in-whitePerbesar
sumber : Unsplash/Frederick Tendong

Halo sobat gamer, pernah tidak sih ketika sobat gamer sedang bermain game kompetitif seperti Mobile Legends, atau Valorant, ternyata ada player yang bermain dengan buruk di dalam tim kalian? Pasti rasanya kesal dan ingin memaki-maki player tersebut bukan? Walaupun begitu, jangan dilakukan ya Sob. Mengapa seperti itu? Mari kita bahas.

Jadi toxic di dalam game ada 2 tipe, yang pertama melibatkan komunikasi kasar yang ditujukan kepada pemain lain, seperti memaki-maki, pelecehan secara verbal ataupun tertulis, dan menyalahkan orang lain. Yang kedua adalah gameplay yang mengganggu dan melanggar norma sosial di dalam game, seperti trolling (menjahili teman satu tim), melakukan spam chat, membuat kerusakan pada properti teman, melakukan gerakan menghina lawan dan melakukan cheat. Jadi Sobat gamer pernah melakukan yang mana nih?

sumber : youtube.com

Lalu mengapa sih kita harus berhenti berperilaku toxic? Jawabanya karena kita juga pasti kesal jika kita diperlakukan sepeerti itu. Dengan berperilaku toxic, nantinya perilaku itu bisa berefek pada kerugian diri sendiri atau pada orang lain loh. Berikut beberapa efek negatif yang mungkin terjadi:

1. Penurunan Performa Dalam Aktivitas Sehari-Hari

Bayangkan ketika sobat ingin melepas stress setelah lelahnya hari yang sobat jalani dan ingin memainkan game untuk menghilangkan stress, ternyata setelah bermain game malah tambah stress akibat perilaku dari pemain toxic. Efeknya sobat gamer dapat kehilangan konsentrasi saat melakukan berbagai aktivitas di hari selanjutnya. Bagaimana jika hal ini berakibat pada diri sendiri? Tidak enak Bukan? Maka dari itu sobat gamer juga harus berhenti untuk berperilaku toxic di dalam game agar orang lain tidak mengalami hal serupa.

2. Pelampiasan Kekerasan

Ternyata ada loh orang-orang yang melampiaskan amarahnya ke orang lain karena game. Dilansir dari jabar.tribunnews.com, seorang pria berumur 24 tahun di daerah Jawa Timur, menganiaya anaknya hanya karena anaknya tidak mau mandi. Nah, disini pelaku mengaku melakukan hal itu karena sangat kesal setelah kalah bermain game. Waduh mengerikan sekali ya Sob. Untuk mengurangi kejadian seperti itu, sobat gamer dapat membantu dengan cara berhenti dan tidak berperilaku toxic di dalam game ya Sob. Kalah bermain game saja sudah kesal, apalagi jika ditambah adanya perilaku toxic. Makin panas enggak tuh?

3. Tidak percaya diri

Banyak loh player yang kehilangan kepercayaan diri akibat makian yang diterima. ketika player yang sering mendapat makian ini akan tidak percaya diri dengan kemampuan bermain game yang dimilikinya, bahkan sampai menghindar ketika ada orang-orang yang sedang membahas tentang game yang dimainkan. Hal ini juga bisa berdampak pada hancurnya komunitas game itu sendiri loh Sob.

sumber : Unsplash/Andrian Swancar J

4. Rusaknya hubungan

Pasti pernah dong sobat gamer mabar (main bareng) game bersama dengan teman. Lalu pernahkah sobat gamer berperilaku toxic kepada mereka seperti melakukan trolling (menjahili teman satu tim) atau memaki mereka ketika mereka bermain dengan buruk? Nah hati-hati nih sobat gamer. Apabila teman sobat gamer tidak terima dengan perlakuan tersebut, bisa fatal loh akibatnya. Seperti yang dikutip dari jabar.tribunnews.com, seorang remaja asal Sukabumi berumur 11 tahun berinisial R dikabarkan menghajar temanya yang berumur 13 tahun berinisial MAB. Kejadiannya berawal dari MAB yang meninggalkan game untuk pergi beribadah, lalu R memaki-maki MAB karena membuatnya kalah dan MAB yang tidak terima membuat janji dengan R untuk ribut. Alhasil MAB bonyok dihajar oleh R. Mengerikan sekali bukan? Mau sobat gamer mengalami hal yang serupa? Yuk, mari kita hentikan berperilaku toxic dan lebih banyak bersabar.

Nah, banyak sekali kan kerugian yang ditimbulkan dari toxic dalam bermain game. Apakah sobat gamer masih mau tetap berperilaku toxic yang efeknya dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain? Yuk berhenti berperilaku toxic di dalam game, lebih baik kita membantu membangun komunitas game agar menjadi lebih baik. Salah satu caranya dapat dengan membuat tutorial game atau bisa dengan menyebarkan artikel ini.

Daftar Pustaka

Sonam Adinolf and Selen Turkay. 2018. Toxic Behaviors in Esports Games: Player Perceptions and Coping Strategies. In Proceedings of the 2018 Annual Symposium on Computer-Human Interaction in Play Companion Extended Abstracts (CHI PLAY ’18 Extended Abstracts). Association for Computing Machinery, Melbourne, VIC, Australia, 365–372. https://doi.org/10.1145/3270316.3271545

Chek Yang Foo and Elina M. I. Koivisto. 2004. Defning grief play in MMORPGs: player and developer perceptions. In Proceedings of the 2004 ACM SIGCHI International Conference on Advances in computer entertainment technology (ACE ’04). Association for Computing Machinery, Singapore, 245–250. https://doi.org/10. 1145/1067343.1067375

Cuihua Shen, Qiusi Sun, Taeyoung Kim, Grace Wolf, Rabindra Ratan, and Dmitri Williams. 2020. Viral vitriol: Predictors and contagion of online toxicity in World of Tanks. Computers in Human Behavior 108 (July 2020), 1–6. https://doi.org/10.1016/j.chb.2020.106343

Türkay, Turkay; Formosa, Jessica; Adinolf, Sonam; Cuthbert, Robert; and Altizer, Roger. (2020). See No Evil, Hear No Evil, Speak No Evil: How Collegiate Players Defne, Experience and Cope with Toxicity. In Proceedings of the 2020 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems (CHI ’20). Association for Computing Machinery, Honolulu, HI, USA, 1–13. https://doi.org/10.1145/3313831.3376191

(2021) Pulang Sehabis Kalah Main Game Online, Anak Jadi Pelampiasan Kemarahan Ayah, Ditangkap Polisi, https://jabar.tribunnews.com/2021/07/14/pulang-sehabis-kalah-main-game-online-anak-jadi-pelampiasan-kemarahan-ayah-ditangkap-polisi.

Rauf, Arfan. (2017). DAMPAK PSIKOLOGI MAKIAN BAHASA INDONESIA DITINJAU DARI STRATA SOSIAL MASYARAKAT BAHASA,111, https://journal.unismuh.ac.id/index.php/konfiks/article/download/2115/1690

Jalaludin, M. Rizal. (2021). Gara-gara Game Online, Bocah di Sukabumi Pukuli Temanya Sampai Patah Tulang, Orang Tua Tak Terima, https://jabar.tribunnews.com/2021/10/06/gara-gara-game-online-bocah-di-sukabumi-pukuli-temannya-sampai-patah-tulang-orang-tua-tak-terima