Konten dari Pengguna

Emergency Call: Saat Keluarga Dibutuhkan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi menjadi sangat serius ketika benar-benar datang: emergency call. Panggilan darurat.

Barangkali sebagian dari kita pernah mengalaminya. Suatu hari, telepon berdering atau sebuah pesan masuk membawa kabar bahwa seorang anggota keluarga inti sedang sakit keras. Keadaannya membutuhkan perhatian. Mungkin bahkan membutuhkan kehadiran orang-orang terdekat. Seketika, pekerjaan, perjalanan, agenda, dan berbagai kesibukan yang sebelumnya terasa penting seperti harus mengambil nomor antrean. Ada sesuatu yang lebih mendesak untuk didahulukan.

Ketika kami mengalami situasi seperti itu, saya justru teringat sebuah adegan dalam film Transformers. Ada saat ketika para Autobots yang tersebar di berbagai tempat dipanggil untuk berkumpul karena ada persoalan penting dan darurat yang harus segera ditangani. Mereka datang dari tempat masing-masing. Mereka dipanggil karena ada sesuatu yang mengikat mereka dan membuat keadaan salah satu bagian menjadi urusan bersama.

Saya lalu berkelakar, mungkin keluarga juga memiliki semacam emergency call seperti itu.

Tidak ada sirene. Tidak ada pusat komando. Tidak ada pesan resmi yang dikirimkan kepada seluruh anggota keluarga. Hanya satu kabar yang berpindah dari satu orang ke orang lain: ada yang sakit, kondisinya begini, berada di tempat itu, dan membutuhkan kehadiran keluarga.

Lalu orang-orang mulai bergerak.

Ada yang membeli tiket kereta api. Ada yang mengubah jadwal perjalanan. Ada yang meninggalkan pekerjaan, mengambil cuti untuk sementara. Ada yang menghubungi anggota keluarga lainnya. Mereka yang semula berada di tempat berbeda perlahan berkumpul menuju satu titik.

Mungkin memang begitulah cara sebuah keluarga bekerja ketika ikatan di antara anggotanya masih cukup kuat.

Ketika Darurat Memanggil Keluarga

Dalam keadaan normal, hubungan keluarga sering kali tidak terlalu terlihat kekuatannya. Kita mungkin tinggal berjauhan. Bertemu hanya sesekali. Bahkan komunikasi pun kadang hanya berlangsung ketika ada keperluan tertentu.

Masing-masing sibuk dengan kehidupannya.

Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, anak-anak yang harus diurus, tagihan yang harus dibayar, rumah tangga yang harus dijaga, dan berbagai persoalan pribadi yang tidak pernah habis. Kehidupan modern membuat setiap orang seperti memiliki orbitnya sendiri.

Tetapi sebuah panggilan darurat kadang-kadang mampu mengubah seluruh peta itu.

Jarak yang selama ini terasa jauh tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus ditempuh. Kesibukan yang selama ini menjadi alasan mendadak tidak lagi terlalu penting. Orang-orang yang mungkin sudah lama tidak bertemu tiba-tiba duduk dalam satu ruangan, berbicara tentang satu orang yang sedang membutuhkan mereka.

Di situlah saya merasa bahwa keluarga bukan hanya soal hubungan darah.

Hubungan darah memang menjadi titik awal. Tetapi keluarga menjadi bermakna karena di dalam hubungan itu tumbuh rasa memiliki, kepedulian, tanggung jawab, dan dalam batas tertentu, loyalitas.

Loyalitas keluarga bukan berarti membenarkan semua tindakan anggota keluarga. Bukan pula kewajiban untuk selalu berpihak, apa pun yang terjadi. Loyalitas yang sehat justru lebih sederhana: ketika seseorang sedang berada dalam keadaan sulit, kita tidak serta-merta meninggalkannya sendirian.

Dalam konteks kesehatan, kehadiran keluarga bahkan bukan sekadar perasaan sentimental. Penelitian tentang hubungan sosial menunjukkan bahwa dukungan sosial berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan dan kesejahteraan manusia. Sebuah meta-analisis besar yang dilakukan Holt-Lunstad dan kolega menemukan bahwa kualitas dan kuantitas hubungan sosial berkaitan dengan risiko kematian, bahkan pengaruh hubungan sosial tersebut berada pada tingkat yang sebanding dengan sejumlah faktor risiko kesehatan yang sudah dikenal.

Tentu saja, ini tidak berarti kehadiran keluarga dapat menggantikan dokter atau obat. Kita tidak boleh meromantisasi hubungan sosial seolah-olah kasih sayang bisa menyembuhkan semua penyakit.

Tetapi manusia bukan tubuh biologis semata.

Orang yang sakit juga mengalami ketakutan, kecemasan, kesepian, dan ketidakpastian. Dalam situasi seperti itu, mengetahui bahwa ada orang-orang yang bersedia berada di dekatnya bisa memberikan kekuatan psikologis yang tidak selalu bisa diukur dengan alat medis.

Sebuah tinjauan sistematis tentang perilaku keluarga dalam menghadapi penyakit kronis juga menunjukkan bahwa kohesi keluarga dan respons yang penuh perhatian berkaitan dengan hasil yang lebih baik bagi pasien. Sebaliknya, respons keluarga yang terlalu mengontrol, kritis, atau justru mengganggu dapat memberikan dampak yang kurang baik.

Artinya, persoalannya bukan sekadar datang atau tidak datang.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita hadir.

Kehadiran Bukan Sekadar Datang

Saya kira di sinilah makna emergency call menjadi lebih dalam.

Ketika seseorang sakit keras, tidak semua anggota keluarga yang datang mampu membawa solusi. Tidak semua orang memiliki pengetahuan medis. Tidak semua orang memiliki uang yang cukup untuk membantu. Bahkan mungkin tidak ada satu pun dari mereka yang bisa mengubah keadaan secara langsung.

Tetapi mereka bisa datang.

Duduk di samping tempat tidur.

Menanyakan kabar.

Membantu mengurus sesuatu yang kecil.

Menggantikan anggota keluarga lain yang kelelahan.

Atau sekadar berkata, “Kami di sini.”

Kalimat terakhir itu mungkin tampak sederhana. Tetapi bagi seseorang yang sedang menghadapi ketidakpastian, ia bisa memiliki arti yang besar.

Karena sakit sering kali membuat manusia merasa sendirian.

Begitu pula dengan kedukaan. Ketika seseorang meninggal, tidak ada keluarga yang datang dengan kemampuan mengembalikan kehidupan orang yang telah pergi. Kehadiran keluarga tidak akan menghapus kehilangan. Tidak akan membuat rumah kembali seperti semula.

Namun orang yang berduka mungkin tidak membutuhkan orang lain untuk menghapus kesedihannya. Ia hanya membutuhkan seseorang untuk berada di dekatnya ketika kesedihan itu datang.

Duka tidak selalu bisa dibagi. Tetapi beban duka bisa dipikul bersama.

Maka, saya kira kehadiran keluarga dalam situasi seperti itu memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar memenuhi kewajiban sosial. Ia seperti mengatakan kepada seseorang: hidup mungkin sedang membawa Anda ke tempat yang berat, tetapi Anda tidak harus melewatinya sendirian.

Penelitian mengenai social support juga semakin banyak menunjukkan pentingnya dukungan emosional, instrumental, dan informasional dalam membantu manusia menghadapi tekanan kehidupan. Bahkan sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang lebih baru, yang mencakup ratusan studi, menemukan hubungan positif antara dukungan sosial yang dirasakan dan berbagai aspek human thriving, termasuk kesehatan mental dan kinerja.

Jadi, barangkali apa yang selama ini kita anggap sebagai “sekadar hadir” sesungguhnya memiliki makna psikologis yang jauh lebih besar.

Hanya saja, ada satu persoalan yang tidak bisa kita abaikan.

Orang datang kepada keluarga tidak selalu karena alasan yang sama.

Antara Empati dan Kepatutan

Ada orang yang datang karena empati.

Ada yang datang karena rasa sayang.

Ada yang datang karena merasa memiliki tanggung jawab.

Tetapi ada pula yang datang karena kepatutan.

Ini bagian yang mungkin tidak terlalu nyaman untuk dibicarakan, tetapi menurut saya justru penting untuk diakui.

Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki norma sosial cukup kuat. Dalam banyak lingkungan, keluarga memiliki semacam kewajiban moral yang tidak tertulis. Ketika seseorang sakit keras, anggota keluarganya diharapkan datang. Ketika ada kematian, keluarga diharapkan hadir. Ketika ada musibah, orang-orang terdekat dianggap semestinya berada di sekitar keluarga yang sedang mengalami kesulitan.

Dan ketika seseorang tidak hadir, pertanyaan pun bisa muncul.

“Saudaranya di mana?”

“Kok keluarganya tidak ada?”

“Memangnya tidak diberi tahu?”

“Masak keluarga sendiri tidak datang?”

Kalimat-kalimat semacam itu mungkin terdengar biasa. Tetapi dalam masyarakat yang hubungan sosialnya rapat, ia bisa menjadi tekanan yang cukup kuat.

Ada semacam “mata sosial” yang terus mengawasi.

Orang tidak hanya mempertimbangkan apa yang benar menurut dirinya, tetapi juga apa yang dianggap pantas oleh lingkungannya.

Dalam kondisi tertentu, mekanisme sosial semacam ini sebenarnya memiliki fungsi yang baik. Ia mendorong manusia agar tidak menjadi terlalu individualistis. Ia menjaga agar seseorang tetap merasa memiliki kewajiban terhadap orang lain.

Tetapi ada sisi lain yang perlu kita waspadai.

Kepatutan bisa berubah menjadi pertunjukan.

Seseorang datang bukan karena peduli, tetapi karena takut dianggap tidak peduli. Seseorang hadir bukan karena ingin membantu, tetapi karena khawatir menjadi bahan pembicaraan. Ada pula yang datang demi menjaga nama baik keluarga.

Saya tidak ingin menghakimi dorongan semacam itu. Bagaimanapun, ia adalah bagian dari realitas manusia.

Tidak semua kebaikan lahir dari alasan yang sepenuhnya bersih. Kadang-kadang manusia melakukan hal yang benar karena didorong oleh norma, rasa malu, kewajiban, bahkan tekanan sosial.

Dan mungkin itu masih lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

Tetapi keluarga seharusnya tidak berhenti pada kepatutan.

Sebab jika kehadiran hanya dilakukan untuk memenuhi pandangan masyarakat, maka yang hadir mungkin memang tubuhnya, tetapi belum tentu hatinya.

Jangan Sampai Panggilan Darurat Menjadi Sekadar Kewajiban

Di sinilah saya melihat persoalan yang lebih besar.

Keluarga hari ini menghadapi tantangan yang berbeda. Kita hidup dalam zaman ketika individualisme semakin kuat. Mobilitas manusia semakin tinggi. Anak-anak tumbuh jauh dari orang tua. Saudara kandung tinggal di kota yang berbeda. Pekerjaan membuat orang berpindah-pindah. Bahkan komunikasi yang semakin mudah melalui teknologi kadang justru menciptakan hubungan yang terasa semakin tipis.

Kita bisa mengetahui seseorang sedang makan apa melalui media sosial, tetapi tidak tahu bagaimana sebenarnya keadaan hidupnya.

Kita bisa melihat foto ulang tahunnya, tetapi tidak tahu apakah ia sedang menghadapi kesepian.

Kita bisa mengirim emoji hati, tetapi belum tentu sanggup datang ketika ia membutuhkan bantuan.

Karena itu, mungkin tantangan keluarga bukan lagi bagaimana membuat semua anggota keluarga selalu dekat secara fisik. Itu mungkin tidak realistis.

Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan rasa saling memiliki meskipun kehidupan membuat kita semakin berjauhan.

Sebuah keluarga tidak harus selalu berkumpul untuk membuktikan bahwa mereka keluarga. Tetapi ketika salah satu anggotanya mengalami keadaan darurat, ikatan itu seharusnya masih cukup kuat untuk membuat kita bertanya: apa yang bisa saya lakukan?

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada: apa kata orang kalau saya tidak datang?

Sebab yang pertama lahir dari empati, sedangkan yang kedua lahir dari penilaian sosial.

Tentu saja, tidak semua orang selalu bisa datang. Ada keterbatasan pekerjaan, kesehatan, jarak, biaya, atau keadaan lain yang tidak terlihat oleh orang luar. Karena itu, saya kira kita juga perlu berhati-hati menghakimi mereka yang tidak hadir secara fisik.

Keluarga yang sehat seharusnya tidak menjadikan musibah sebagai panggung untuk mengukur siapa yang paling loyal.

Yang sedang sakit tidak membutuhkan kompetisi loyalitas.

Yang sedang berduka tidak membutuhkan pengadilan sosial.

Mereka membutuhkan dukungan.

Maka, mungkin ukuran keluarga yang kuat bukanlah seberapa sering seluruh anggotanya berkumpul dalam keadaan bahagia. Ukurannya justru terlihat ketika keadaan menjadi buruk.

Ketika seseorang jatuh sakit, apakah ada yang datang?

Ketika seseorang kehilangan, apakah ada yang menemani?

Ketika seseorang tidak mampu berdiri sendiri, apakah ada tangan yang bersedia menopang?

Dan yang tidak kalah penting: apakah semua itu dilakukan karena benar-benar peduli?

Ilustrasi dibuat dengan AI

Kita Semua Suatu Hari Akan Membutuhkan Panggilan Itu

Saya membayangkan emergency call dalam keluarga bukan sebagai tanda bahwa sebuah keluarga sedang mengalami masalah, melainkan sebagai pengingat bahwa kita masih memiliki satu sama lain.

Sebab suatu hari nanti, mungkin bukan orang lain yang dipanggil.

Mungkin kita.

Akan tiba suatu hari ketika tubuh kita tidak lagi sekuat sekarang. Ketika kita membutuhkan seseorang untuk mengantar ke rumah sakit. Ketika kita membutuhkan seseorang untuk duduk di ruang tunggu. Ketika kita membutuhkan seseorang untuk mengangkat telepon pada malam hari.

Pada saat seperti itu, kita tidak akan terlalu peduli siapa yang paling sering mengunjungi kita ketika semuanya baik-baik saja.

Kita hanya ingin tahu: siapa yang datang ketika kita membutuhkan?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi mungkin menjadi salah satu ukuran paling jujur tentang arti sebuah hubungan.

Karena itu, saya kira kita tidak perlu menunggu sebuah keadaan darurat untuk mulai merawat hubungan keluarga. Emergency call memang baru terdengar ketika keadaan sudah genting. Tetapi ikatan yang membuat orang datang ketika panggilan itu terdengar sesungguhnya dibangun jauh sebelumnya—dari percakapan kecil, perhatian sederhana, saling mengunjungi, memaafkan kesalahan, dan kesediaan untuk tidak menjadi asing satu sama lain.

Pada akhirnya, keluarga bukanlah institusi yang sempurna. Di dalamnya ada konflik, kecewa, jarak, bahkan orang-orang yang memilih tidak lagi saling berbicara. Karena itu, kita tidak perlu membayangkan keluarga sebagai kelompok manusia yang selalu rukun.

Mungkin keluarga yang baik bukan keluarga yang tidak pernah retak.

Melainkan keluarga yang, ketika keadaan benar-benar genting, masih tahu ke mana harus pulang.

Dan ketika suatu hari sebuah emergency call datang, semoga yang menggerakkan kita bukan ketakutan terhadap omongan orang, bukan pula sekadar kewajiban menjaga nama baik.

Semoga kita bergerak karena satu alasan yang jauh lebih sederhana: ada seseorang yang menjadi bagian dari hidup kita sedang membutuhkan kita.

Jika masih ada perasaan semacam itu, barangkali keluarga kita belum kehilangan sesuatu yang paling penting.

Rasa memiliki.