Ketika Anak-Anak Menyebutkan Cita-Citanya

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dari pagi sekitar pukul setengah delapan hingga menjelang pukul sebelas, saya duduk tenang menikmati sebuah acara yang berlangsung di halaman sekolah dasar, tepatnya madrasah ibtidaiyah. Hari itu saya benar-benar meluangkan waktu untuk menemaninya memimpin acara akhirussanah. Ini merupakan pengalaman pertamanya sejak dilantik sebagai kepala sekolah. Kebetulan yang jarang terjadi, saya bisa hadir secara penuh dan mendampinginya duduk di depan para hadirin: wali murid, siswa kelas VI yang lulus, anggota komite sekolah, serta para guru.
Sepanjang acara, saya berusaha seminimal mungkin menyentuh telepon genggam. Di tengah kehidupan yang semakin bising oleh notifikasi dan distraksi digital, memberi perhatian penuh ternyata menjadi kemewahan tersendiri. Saya memilih menikmati setiap rangkaian acara dengan kesadaran yang utuh.
Saya menyaksikan prosesi kirab para murid memasuki lokasi acara. Saya memperhatikan wajah-wajah yang tampak tegang sekaligus bahagia. Lalu satu per satu mereka dipanggil ke depan. Nama mereka disebutkan bersama cita-cita yang mereka impikan. Setelah itu mereka menerima kalung tanda kelulusan dan ijazah.
Jumlah mereka sekitar tujuh puluh anak.
Anak-anak perempuan tampil rapi mengenakan kebaya. Sebagian tampak lebih dewasa dari usianya karena sentuhan rias sederhana yang diberikan orang tua mereka sejak pagi. Anak-anak laki-laki mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan peci hitam. Sederhana, tetapi cukup untuk membuat hari itu terasa istimewa.
Di hadapan saya, berlangsung sebuah ritual sosial yang mungkin terlihat biasa. Namun semakin lama saya mengamatinya, semakin saya merasa bahwa acara semacam ini sesungguhnya menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar seremoni kelulusan.
Dokter Masih Menjadi Mimpi
Ada satu bagian yang paling menarik perhatian saya.
Ketika nama siswa dipanggil, panitia juga menyebutkan cita-cita mereka.
Dan seperti yang sudah saya duga, profesi dokter masih menjadi salah satu cita-cita yang paling banyak disebutkan.
Saya tersenyum mendengarnya.
Puluhan tahun lalu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, profesi yang paling sering disebut teman-teman saya juga dokter. Hari itu, setelah mendengar satu per satu cita-cita para siswa, saya menyadari bahwa ada hal-hal tertentu yang ternyata mampu bertahan melampaui perubahan zaman.
Selain dokter, ada yang bercita-cita menjadi tentara, polisi, pengusaha sukses, pemain sepak bola, atlet voli, guru, hingga desainer.
Di satu sisi, daftar itu tampak biasa. Namun di sisi lain, daftar itu merupakan potret tentang bagaimana anak-anak memandang masa depan.
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah menjelaskan bahwa aspirasi seseorang sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang membentuk cara pandangnya terhadap kemungkinan hidup. Anak-anak tidak membangun cita-citanya di ruang kosong. Mereka menyerap berbagai gambaran tentang kesuksesan dari keluarga, sekolah, media, dan masyarakat di sekelilingnya.
Karena itu, ketika seorang anak desa bercita-cita menjadi dokter, sesungguhnya yang sedang bekerja bukan hanya imajinasinya. Di sana ada harapan keluarga, simbol mobilitas sosial, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah nasib.
Saya membayangkan sebagian anak yang berdiri di depan panggung itu mungkin berasal dari keluarga sederhana. Sebagian mungkin harus berjalan kaki ke sekolah. Sebagian mungkin belajar di rumah dengan fasilitas yang terbatas. Namun pada pagi itu mereka memiliki sesuatu yang sama: keyakinan bahwa masa depan masih terbuka.
Dan bukankah pendidikan pada dasarnya memang tentang menjaga keyakinan itu tetap hidup?
Kenangan yang Menjadi Kompas
Acara akhirussanah yang saya hadiri tidak diselenggarakan di hotel mewah. Tidak ada toga. Tidak ada dekorasi yang berlebihan.
Acara itu berlangsung di halaman sekolah.
Sederhana.
Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah saya melihat sesuatu yang penting.
Sering kali kita mengukur kualitas sebuah acara dari kemegahan yang tampak. Padahal tidak semua hal berharga harus tampil mewah. Ada kenangan yang justru lahir dari kesederhanaan.
Saya membayangkan dua puluh tahun mendatang.
Sebagian anak mungkin sudah menjadi orang tua. Sebagian bekerja di kota besar. Sebagian mungkin merantau ke luar daerah. Sebagian mungkin tidak berhasil menjadi apa yang mereka cita-citakan hari itu.
Namun saya percaya, banyak dari mereka yang masih akan mengingat momen ketika nama dan cita-citanya diumumkan di depan teman-teman, guru, dan orang tua mereka.
Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pengalaman simbolik pada masa kanak-kanak sering kali memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan. Anak-anak membangun identitas dirinya melalui berbagai pengalaman yang memberi mereka pengakuan sosial. Ketika sebuah cita-cita diumumkan dan dihargai di depan publik, yang sedang dibangun bukan hanya kebanggaan sesaat, melainkan rasa percaya bahwa impian mereka layak diperjuangkan.
Mungkin itulah fungsi terdalam dari acara semacam ini.
Bukan sekadar merayakan kelulusan, melainkan menanamkan memori.
Dan memori yang kuat sering kali bekerja seperti kompas. Ia tidak selalu menentukan ke mana seseorang harus pergi, tetapi membantu mengingatkan ke mana arah yang pernah ingin dituju.
Pendidikan dan Sarana yang Terlupakan?
Namun perhatian saya pagi itu tidak berhenti pada anak-anak.
Di sela-sela acara, saya memperhatikan panggung sederhana yang digunakan. Saya melihat pengeras suara, kursi-kursi yang ditata seadanya, ruang kelas, dan berbagai fasilitas sekolah yang tersedia.
Saya menangkap satu kesan yang sulit diabaikan: banyak hal masih serba terbatas.
Pengamatan sederhana itu kemudian membawa saya pada pertanyaan yang lebih besar.
Apakah kita sudah cukup serius memikirkan standar sarana dan prasarana pendidikan?
Selama ini diskusi tentang pendidikan sering berputar pada kurikulum, metode pembelajaran, asesmen, atau kualitas guru. Semua itu memang penting. Namun kita sering lupa bahwa pendidikan juga membutuhkan ekosistem yang memadai.
Seorang guru yang hebat tetap membutuhkan ruang belajar yang layak.
Siswa yang rajin tetap membutuhkan lingkungan yang mendukung.
Mimpi yang besar tetap membutuhkan fondasi yang kokoh.
Data berbagai survei pendidikan menunjukkan bahwa kesenjangan fasilitas sekolah masih menjadi persoalan di banyak daerah Indonesia. Ada sekolah yang memiliki laboratorium lengkap, akses internet memadai, perpustakaan modern, dan ruang belajar yang nyaman. Namun di tempat lain, masih ada sekolah yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Kesenjangan semacam ini bukan sekadar persoalan bangunan. Ia menyangkut keadilan kesempatan.
Karena itu saya mulai bertanya-tanya, apakah sudah ada standar minimum yang benar-benar diterapkan secara konsisten bagi setiap sekolah? Jika belum, mungkin inilah saat yang tepat untuk memikirkannya lebih serius.
Kita sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Namun cita-cita besar itu tidak akan lahir dari slogan. Ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang konkret hingga ke tingkat sekolah.
Anak-anak tidak belajar di dalam pidato para pejabat. Mereka belajar di ruang kelas.
Mereka tidak tumbuh di dalam dokumen perencanaan pembangunan. Mereka tumbuh di lingkungan sekolah yang mereka datangi setiap hari.
Karena itu, kualitas sarana pendidikan bukan isu teknis semata. Ia adalah investasi jangka panjang terhadap kualitas manusia Indonesia.
Generasi Emas Dimulai dari Halaman Sekolah
Konstitusi telah mengamanatkan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN. Angka itu sering disebut dalam berbagai forum. Namun pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar berapa besar anggarannya, melainkan seberapa efektif anggaran tersebut diterjemahkan menjadi kualitas pengalaman belajar anak-anak.
Pagi itu saya melihat sendiri bagaimana generasi masa depan sedang berdiri di depan panggung sederhana, menyebutkan cita-cita mereka dengan suara yang terkadang malu-malu namun penuh keyakinan.
Mereka adalah wajah konkret dari semua perencanaan pembangunan yang selama ini kita bicarakan.
Mereka bukan statistik.
Mereka bukan target kinerja.
Mereka bukan angka dalam laporan tahunan.
Mereka adalah anak-anak yang suatu hari nanti akan menjadi dokter, guru, pengusaha, petani, teknisi, peneliti, tentara, pemimpin daerah, atau mungkin profesi-profesi baru yang hari ini bahkan belum kita kenal.
Karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kemampuan sebuah bangsa menjaga kemungkinan.
Menjaga agar seorang anak tetap percaya pada mimpinya.
Menjaga agar keterbatasan fasilitas tidak mematahkan semangat belajar.
Menjaga agar tempat lahir tidak menjadi penentu batas masa depan.
Saat acara berakhir dan para hadirin mulai meninggalkan lokasi, saya masih menyimpan satu kesan yang kuat.
Yang paling berharga dari pagi itu bukanlah prosesi wisudanya, bukan pula pidato-pidato yang disampaikan dari atas panggung. Yang paling membekas justru suara anak-anak yang menyebutkan cita-cita mereka.
Suara-suara itu terdengar sederhana.
Namun sesungguhnya di sanalah masa depan Indonesia sedang berbicara.
Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka memiliki mimpi. Mereka sudah memilikinya.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah kita, sebagai orang dewasa, sebagai masyarakat, dan sebagai negara, benar-benar sedang menyiapkan jalan yang cukup baik agar mereka dapat mencapainya?
