Rumor yang Sengaja Dibiarkan Samar

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tidak Berbohong, tetapi Menggiring Persepsi
Ulah buzzer kadang aneh-aneh. Selalu ada saja cara untuk membentuk persepsi publik, bahkan tanpa harus menyampaikan kebohongan secara terang-terangan. Salah satu caranya adalah menyebarkan cerita yang samar, tanpa menyebut nama orang, tempat, atau peristiwa secara jelas, tetapi muncul ketika perhatian publik sedang tertuju pada persoalan tertentu.
Sekilas, unggahan semacam itu tampak biasa saja. Isinya bisa berupa cerita, sindiran, atau pengalaman yang tidak jelas sumbernya. Namun, karena muncul di tengah peristiwa yang sedang viral, pembaca dengan mudah menghubungkannya dengan kejadian yang sedang ramai dibicarakan.
Di sinilah persoalannya. Pembuat cerita tidak perlu menyebut siapa yang dimaksud. Konteks yang sedang berkembang sudah menyediakan petunjuk, sementara publik akan melengkapi sendiri bagian-bagian yang sengaja dibiarkan kosong. Akibatnya, cerita yang belum tentu benar dapat melahirkan persepsi negatif terhadap seseorang atau kelompok tertentu.
Padahal, hubungan antara cerita dan peristiwa yang sedang ramai itu mungkin hanya ada dalam pikiran pembaca. Bahkan, ceritanya sendiri bisa saja fiktif.
Membiarkan Publik Menarik Kesimpulan
Cara seperti ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan bahwa penggiringan opini tidak selalu dilakukan melalui tuduhan langsung. Seseorang cukup melemparkan cerita yang samar, lalu membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri siapa yang sedang dibicarakan.
Secara psikologis, orang cenderung menafsirkan informasi baru dengan menghubungkannya pada pengetahuan dan dugaan yang sudah dimiliki. Ketika sebuah isu sedang memenuhi ruang publik, cerita yang muncul pada saat bersamaan akan lebih mudah dianggap berkaitan dengan isu tersebut. Kesesuaian waktu dan konteks pun dapat disalahartikan sebagai petunjuk kebenaran.
Dalam situasi seperti itu, pembaca merasa telah menemukan hubungan antara dua hal, padahal hubungan tersebut belum tentu didukung bukti. Cerita yang samar justru memperoleh kekuatan dari penafsiran pembacanya sendiri.
Pembuat cerita juga memiliki ruang untuk mengelak. Ketika diprotes, ia bisa mengatakan bahwa tidak pernah menyebut nama siapa pun, tidak menunjuk peristiwa tertentu, dan hanya menceritakan sesuatu secara umum. Ia dapat berlindung di balik ketidakjelasan yang sejak awal memang menjadi bagian dari strateginya.
Tentu saja, tidak setiap cerita samar merupakan rekayasa buzzer. Sindiran, cerita anonim, dan unggahan yang tidak menyebut identitas seseorang belum tentu bermaksud jahat. Namun, ketika pola semacam ini berulang pada saat perang opini berlangsung, kita patut mencermati kemungkinan adanya upaya untuk membentuk persepsi tanpa harus mempertanggungjawabkan tuduhan secara terbuka.
Rumor di Tengah Perang Opini
Media sosial menyediakan lingkungan yang memungkinkan cerita semacam itu menyebar dengan cepat. Dalam pertarungan opini, kecepatan sering kali lebih diutamakan daripada ketelitian. Orang membagikan sesuatu karena merasa menemukan petunjuk baru, bukan karena sudah memeriksa kebenarannya.
Di tengah polarisasi, rumor juga dapat menjadi senjata untuk merusak kredibilitas lawan. Tidak harus ada tuduhan yang tegas. Cukup dengan menanamkan kecurigaan, membangun asosiasi, dan mengulang cerita pada momentum yang tepat, citra seseorang bisa perlahan berubah di mata publik.
Yang berbahaya, setelah cerita itu menyebar, pembuatnya tidak lagi sepenuhnya mengendalikan akibatnya. Pembaca menambahkan tafsir, akun lain menyebarkannya kembali, dan percakapan berkembang menjadi narasi yang seolah-olah memiliki banyak sumber. Padahal, semuanya mungkin berawal dari satu cerita yang tidak pernah jelas asal-usulnya.
Di sinilah rumor berbeda dari sekadar informasi yang keliru. Rumor dapat bekerja melalui ruang kosong antara fakta dan dugaan. Ketika ruang kosong itu diisi oleh prasangka, orang bisa merasa yakin terhadap sesuatu yang sebenarnya belum pernah dibuktikan.
Jangan Menjadi Bagian dari Skenario
Karena itu, menghadapi cerita semacam ini membutuhkan kehati-hatian. Kita tidak cukup hanya bertanya apakah sebuah unggahan secara harfiah mengandung kebohongan. Kita juga perlu memeriksa sumbernya, mencari bukti pendukung, dan mempertanyakan apakah hubungan yang kita bayangkan antara cerita dan suatu peristiwa memang benar-benar ada.
Tidak menyebut nama bukan berarti sebuah cerita pasti tidak bermasalah. Sebaliknya, cerita yang terasa menyindir seseorang juga tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut memang menjadi sasaran atau melakukan sesuatu yang dituduhkan secara tersirat.
Pada akhirnya, salah satu keberhasilan penggiringan opini justru terjadi ketika pembaca merasa sedang menyimpulkan sendiri, padahal kesimpulannya telah diarahkan oleh cerita yang diterimanya. Kita merasa menjadi penafsir, tetapi tanpa sadar mungkin sedang menjalankan skenario orang lain.
Karena itu, sikap paling masuk akal bukanlah buru-buru percaya atau langsung menolak, melainkan menahan diri sampai ada dasar yang dapat diperiksa. Di tengah perang opini, kemampuan menunda kesimpulan mungkin lebih berharga daripada kecepatan memberikan penilaian. Sebab, tidak semua cerita yang terasa cocok dengan kenyataan benar-benar berasal dari kenyataan. Ada kalanya, yang paling perlu kita curigai bukan hanya isi cerita, melainkan alasan mengapa cerita itu muncul tepat ketika kita sedang mencari seseorang untuk disalahkan.
