Konten dari Pengguna

Susur Sungai Kejawan Putih Tambak Permata Mangrove Tersembunyi di Surabaya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Silvi Kurrotul Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potensi Wisata Susur Sungai Kejawan Putih Tambak

Dari gapura sederhana yang dikelilingi hijaunya mangrove inilah perjalanan menyusuri sungai tersembunyi Surabaya dimulai. (Foto: dokumentasi penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Dari gapura sederhana yang dikelilingi hijaunya mangrove inilah perjalanan menyusuri sungai tersembunyi Surabaya dimulai. (Foto: dokumentasi penulis)

Susur Sungai Kejawan Putih Tambak di Keputih, Sukolilo, Surabaya, menawarkan wisata perahu menembus hutan mangrove yang masih alami dengan tarif Rp25.000 per orang. Destinasi di kawasan Grand Island Pakuwon City ini dibuka setiap hari pukul 08.00-16.00 WIB dan dikelola melalui pemberdayaan masyarakat setempat. Kanopi mangrove sepanjang tiga kilometer terbentang di sana, menjadi paru-paru hijau di tengah kota metropolitan. Sayangnya, jejak digital destinasi ini nyaris kosong sehingga warga Surabaya sendiri belum banyak mengenalnya. Padahal, potensinya layak disandingkan dengan destinasi alam unggulan di kota ini.

Kesenjangan itu bermula dari promosi yang selama ini bertumpu pada Instagram dan TikTok. Kedua akun tersebut sempat tidak aktif, sementara wisata perahu dan edukasi mangrove tetap berjalan setiap hari. Akibatnya, aktivitas nyata di lapangan tidak terekam di mesin pencari maupun linimasa media sosial. Destinasi ini bagai lentera yang menyala di dalam kamar tertutup: terang di dalam, tetapi tak terlihat dari luar. Kondisi tersebut membuat calon wisatawan yang mencari informasi lewat gawai hampir tidak menemukan apa pun.

Kekuatan utama kawasan ini terletak pada ekosistemnya. Menurut Yasin, Ketua Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Mulyorejo, flora dan fauna di sana merupakan penghuni asli, bukan hasil penanaman atau pelepasliaran. “Ini bukan taman buatan. Alam sendiri yang merangkainya sejak awal, tanpa campur tangan siapa pun,” ujarnya. Perairan ini dihuni empat jenis ikan khas, yakni belanak, dukang, sembilan, dan kakap putih, di samping biota lain. Keaslian tersebut menjadi pembeda dari taman kota yang dirancang serba rapi.

Hutan mangrove tidak hanya indah dipandang, tetapi juga bekerja keras bagi lingkungan kota. Akar-akarnya menahan lumpur dan meredam gerusan air sehingga tepian sungai tetap kokoh. Pepohonan mangrove juga menyerap karbon dan menjadi rumah bagi ikan, kepiting, serta burung. Di kota yang kian padat bangunan, ruang hijau seperti ini berfungsi sebagai penyangga alami yang menyejukkan udara. Karena itu, melestarikan kawasan ini sama artinya dengan menjaga kualitas hidup warga Surabaya.

Kearifan nelayan setempat menambah nilai kawasan ini. Mereka menangkap ikan dengan jaring segitiga, sedangkan kepiting dijaring dengan perangkap bundar berdiameter sekitar 40-50 sentimeter. Cara tradisional itu menghasilkan tangkapan segar dan tidak melukai tubuh ikan. Wisatawan dapat mengenal teknik tersebut secara langsung, sekaligus memahami bagaimana warga hidup berdampingan dengan hutan bakau. Dengan begitu, perjalanan ini juga menjadi wahana belajar tentang budaya pesisir.

Wisatawan menyusuri sungai dengan perahu di bawah kanopi mangrove Susur Sungai Kejawan Putih Tambak, Surabaya. (Foto: dokumentasi penulis)

Pengalaman di atas perahu terasa berlapis. Dayung membelah permukaan air yang tenang, aroma lembap mangrove menyapa hidung, dan kicau burung menyahut dari balik dedaunan. Akar-akar yang menjulur ke air seolah menjadi tirai alami yang menyambut setiap perahu. Perjalanan menuju muara mencapai sekitar empat kilometer, sehingga wisatawan menikmati suasana sungai dalam waktu cukup panjang. Kualitas visual kawasan ini pun sudah diakui pihak luar, terbukti dari dipilihnya lokasi ini sebagai latar film dokumenter TNI AL berjudul The Hostage's Hero.

Letak destinasi ini menghadirkan kontras yang menarik. Di satu sisi berdiri permukiman modern Pakuwon City dengan hiruk-pikuk kawasan elite, di sisi lain terbentang ketenangan hutan mangrove tepat di sampingnya. Kontras itulah yang membuat destinasi ini terasa seperti rahasia yang tersimpan rapi di balik gerbang kota. Wisatawan tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk merasakan suasana alam yang lengang. Begitu perahu bergerak, mereka sudah berada di bawah naungan kanopi hijau.

Bagi calon pengunjung, informasi praktisnya sederhana. Tarif Rp25.000 per orang berlaku dengan ketentuan minimal lima penumpang per perahu; jika kurang, pengunjung membayar Rp125.000 per perahu. Jam kunjungan menyesuaikan kondisi air sungai, wujud kearifan lokal yang menghormati ritme alam. Lokasinya mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun ojek daring dari berbagai penjuru kota. Di tepian kawasan, pelaku UMKM menjajakan olahan ikan hasil tangkapan nelayan setempat sehingga perputaran ekonomi warga ikut bergerak.

Dari sisi ekonomi, wisata ini membuka peluang bagi warga sekitar. Nelayan berpeluang menjadi pemandu yang bercerita tentang kehidupan di sungai, sementara pelaku UMKM memperoleh pembeli tetap dari para pelancong. Kegiatan edukasi mangrove yang sudah berjalan juga cocok bagi pelajar, mahasiswa, dan komunitas pencinta lingkungan. Pemasukan dari tiket perahu dapat diputar kembali untuk perawatan jalur dan fasilitas pengunjung. Dengan pola tersebut, manfaat wisata mengalir ke banyak tangan, bukan hanya berhenti di satu titik.

Daya tarik kawasan ini sebenarnya sudah bekerja lewat promosi dari mulut ke mulut. Warga sekitar yang berolahraga pagi kerap penasaran melihat aktivitas wisata dan akhirnya mencoba sendiri. Mereka yang pernah datang biasanya pulang dengan cerita yang antusias bagi kerabat dan teman. Bagi Yasin, kelebihan destinasi ini terletak pada kedekatan dan biayanya. “Mencari tempat bersantai, sejuk, dan indah tidak perlu jauh-jauh ke luar kota dengan biaya besar. Cukup di Surabaya, dekat, mudah dijangkau, dan ekonomis,” ujarnya pada 28 September 2026.

Langkah pertama menutup kesenjangan digital adalah memastikan informasi dasar mudah ditemukan. Pengelola dapat mendaftarkan lokasi pada peta digital, lengkap dengan foto, jam buka, dan tarif terbaru. Akun Instagram dan TikTok perlu diisi konten rutin, misalnya video singkat perjalanan perahu atau kisah nelayan. Kolaborasi dengan kreator lokal, komunitas fotografi, dan mahasiswa dapat memperluas jangkauan tanpa biaya besar. Setiap unggahan yang konsisten akan menambah jejak digital yang selama ini hilang.

Meski demikian, popularitas harus berjalan seiring dengan kehati-hatian. Jumlah pengunjung perlu diatur agar akar mangrove, satwa, dan ketenangan sungai tidak terganggu. Wisatawan juga diharapkan tidak membuang sampah dan tidak merusak tanaman. Prinsip ini sejalan dengan semangat wisata berkelanjutan yang menempatkan alam sebagai tuan rumah, bukan sekadar latar foto. Bila keseimbangan itu terjaga, keindahan sungai dapat dinikmati generasi berikutnya.

Potensi sebesar ini tinggal menunggu untuk diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas. Pengelola dapat memperkuat kanal digital secara konsisten, sedangkan pengunjung dapat membagikan pengalaman jujur melalui akun pribadi masing-masing. Perubahan besar tidak selalu lahir dari proyek berbiaya tinggi; sering kali ia bermula dari satu unggahan yang tulus. Sungai ini telah menyediakan segalanya, mulai dari mangrove yang rimbun hingga keramahan warganya. Karena itu, akhir pekan ini, susurilah sungainya, rasakan kesejukannya, lalu bagikan kisahnya sebelum permata hijau Surabaya ini kembali tenggelam dalam sunyi.