Part 1: Perjalanan Anak Desa Menuju S1

Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Ike Marlina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berawal dari sebuah keinginan yang mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang, tetapi cukup besar bagi saya yang tumbuh di sebuah desa. Keinginan itu adalah melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana. Saat itu saya tidak terlalu memikirkan gelar atau pekerjaan yang akan didapat setelah lulus. Saya hanya ingin kuliah dan membuktikan bahwa anak desa juga bisa melangkah sejauh yang ia impikan.

Semasa sekolah, saya sering melihat kakak tingkat atau orang-orang yang sudah menjadi mahasiswa. Entah kenapa, melihat mereka mengenakan almamater selalu menimbulkan rasa kagum dalam diri saya. Saya membayangkan bagaimana rasanya belajar di kampus, bertemu banyak orang baru, dan menjalani kehidupan yang berbeda dari biasanya.
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, masa sekolah berakhir dan saya mulai dihadapkan pada kenyataan yang sesungguhnya. Saat teman-teman mulai menentukan arah hidup masing-masing, saya juga mulai berusaha mencari jalan agar bisa melanjutkan pendidikan. Tidak mudah memang, karena ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Namun saat itu saya percaya, selama masih mau berusaha, selalu ada kemungkinan untuk berhasil.
Hari ketika saya dinyatakan diterima kuliah menjadi salah satu hari yang paling saya ingat. Saya tidak melompat kegirangan atau berteriak seperti di film-film. Saya hanya diam beberapa saat sambil menatap layar. Rasanya campur aduk. Senang, lega, sekaligus tidak percaya bahwa langkah yang selama ini saya perjuangkan akhirnya membuahkan hasil.
Memasuki semester satu, semuanya terasa berbeda. Saya mulai mengenal lingkungan yang baru, suasana yang baru, dan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah saya temui. Jujur saja, pada masa itu saya lebih sering menjadi pendengar daripada pembicara. Saya merasa masih harus banyak belajar untuk menyesuaikan diri.
Sebagai anak desa, saya sempat merasa minder. Cara bicara saya berbeda, pengalaman saya berbeda, bahkan cara saya memandang banyak hal juga berbeda. Ketika melihat beberapa teman begitu percaya diri berbicara di depan banyak orang, saya hanya bisa memperhatikan sambil bertanya dalam hati apakah suatu hari nanti saya bisa seperti mereka.
Namun perlahan saya mulai memahami bahwa setiap orang memiliki prosesnya sendiri. Tidak semua orang langsung nyaman berada di lingkungan baru. Ada yang cepat beradaptasi, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Saya termasuk yang kedua.
Hari demi hari berlalu. Tugas mulai berdatangan, materi kuliah mulai terasa lebih serius, dan saya mulai memahami bahwa kehidupan mahasiswa tidak sesantai yang saya bayangkan sebelumnya. Ada kalanya saya merasa lelah, ada kalanya saya merasa bingung, tetapi saya tetap berusaha menjalaninya satu per satu.
Di semester pertama itu saya juga belajar banyak hal di luar ruang kelas. Saya belajar mengenal karakter manusia yang berbeda-beda, belajar menghargai pendapat orang lain, dan belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Pelajaran-pelajaran seperti itu ternyata sama berharganya dengan materi yang diberikan dosen.
Meski begitu, ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu rasa rindu terhadap kampung halaman. Terkadang saat perjalanan pulang atau ketika sedang sendirian, saya teringat suasana desa yang tenang dan sederhana. Saya teringat keluarga yang selalu mendukung saya dari jauh. Dari sanalah saya sering mendapatkan semangat untuk terus bertahan.
Kini ketika mengingat masa-masa semester satu, saya menyadari bahwa perjalanan menuju sarjana ternyata tidak dimulai dari hal-hal besar. Semuanya dimulai dari langkah kecil, dari keberanian mencoba, dan dari tekad untuk terus berjalan meskipun belum tahu bagaimana akhir ceritanya nanti.
Dan dari sinilah kisah itu dimulai. Kisah seorang anak desa yang sedang berusaha mengubah masa depannya melalui pendidikan. Perjalanan yang masih panjang, masih penuh cerita, dan masih menyimpan banyak pelajaran yang belum sempat dituliskan.
(Bersambung ke Part 2)
