Apakah Shutter Indonesia Sama dengan Jepang? Ini Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini seputar dunia sinema, mulai dari series, drakor, film, dan masih banyak lagi.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sinema Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi penggemar film horor, judul Shutter tentu tidak asing lagi. Film Shutter asal Indonesia ini sedang tayang di bioskop. Apakah Shutter Indonesia sama dengan Jepang adalah sebuah pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh para penggemar.
Film ini dikenal sebagai salah satu kisah menyeramkan yang menggabungkan misteri, fotografi, dan arwah gentayangan dalam satu paket menegangkan. Shutter versi Indonesia dan Jepang memiliki perbedaan dan keunikan pada masing-masing film.
Apakah Shutter Indonesia Sama dengan Jepang?
Pada dasarnya, film Shutter versi Indonesia bukanlah remake dari versi Jepang, melainkan remake dari versi Thailand. Versi orisinal yaitu Shutter (2004) diproduksi di Thailand dengan sutradara Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom.
Apakah Shutter Indonesia sama dengan Jepang? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini berdasarkan situs web rri.co.id dan imdb.com.
Versi Indonesia yang akan tayang tahun 2025 digarap oleh Falcon Pictures bersama sutradara Herwin Novianto. Meskipun demikian, banyak orang mungkin salah sangka bahwa versi Indonesia adalah remake dari versi Jepang.
Hal ini disebabkan karena banyak remake film Shutter yang dilakukan berlatarkan Jepang. Salah satunya adalah Shutter (2008) produksi Amerika-Jepang yang diambil dari kisah film Thailand.
Film Shutter versi Indonesia tidak langsung terkait dengan versi Jepang, melainkan mengikuti jejak adaptasi dari Thailand. Struktur dasar cerita versi Jepang dan Indonesia tetap mirip.
Film ini menceritakan seorang fotografer mengalami teror melalui foto dan bayangan yang muncul setelah kecelakaan atau kejadian kelam di masa lalu. Versi Indonesia mempertahankan elemen kamera atau foto sebagai medium teror.
Konsep hantu atau entitas yang muncul lewat foto atau negatif film, serta unsur rasa bersalah yang menghantui sang tokoh utama, tetap dipertahankan. Namun, versi Indonesia menyesuaikan dengan konteks lokal.
Karakter, latar, bahasa, bahkan beberapa elemen budaya horornya disesuaikan dengan konteks lokal Indonesia. Misalnya, artinya kamera manual atau negatif film dipakai sebagai bagian atmosfer di versi Indonesia.
Dalam versi Indonesia lebih ditekankan pada sisi emosional. Rasa bersalah dan investigasi tokoh wanita berperan aktif dalam menyelidiki masa lalu sang fotografer.
Jadi, apakah versi Indonesia sama dengan versi Jepang? Jawabannya tidak secara langsung. Versi Indonesia adalah remake dari film Thailand, bukan remake dari versi Jepang. Namun, secara garis besar cerita memiliki kesamaan. (Fia)
Baca juga: Sinopsis Sword and Beloved, Drama China tentang Perubahan Takdir
