Konten dari Pengguna

Siapa Raja Yeonsan? Ini Jawaban dan Kisah Lengkapnya

Sinema Update

Sinema Update

Menyajikan informasi terkini seputar dunia sinema, mulai dari series, drakor, film, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sinema Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Siapa Raja Yeonsan, Foto: Unsplash/Shibin Joseph
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Siapa Raja Yeonsan, Foto: Unsplash/Shibin Joseph

Sejarah Korea dipenuhi sosok raja dengan kisah menarik di balik pemerintahannya. Salah satunya, pertanyaan “Siapa Raja Yeonsan?” menjadi salah satu pertanyaan yang muncul ketika membahas era tertentu dalam sejarah dinasti Joseon.

Rasa ingin tahu tentang Raja Yeonsan membuat banyak orang tertarik menggali informasi tentang peran dan pengaruhnya.

Siapa Raja Yeonsan?

Ilustrasi Suasana Era Dinasti Joseon Raja Yeonsan, Foto: Unsplash/Bundo Kim

Siapa Raja Yeonsan? Mengutip dari situs english.khs.go.kr, Raja Yeonsan, atau Yeonsangun (1476–1506), adalah raja ke-10 Dinasti Joseon yang dikenal luas sebagai penguasa paling tiran dalam sejarah Korea.

Raja Yeonsan lahir dengan nama Yi Yung, putra Raja Seongjong dan Ratu Yun, yang kemudian dihukum mati dengan racun setelah terlibat konflik di istana.

Raja Yeonsan naik takhta pada tahun 1494 menggantikan ayahnya, Raja Seongjong. Pada awal pemerintahannya, Raja Yeonsan masih melanjutkan administrasi yang relatif baik berkat warisan politik dari pendahulunya.

Sayangnya, setelah mengetahui nasib tragis ibunya, Raja Yeonsan berubah menjadi raja penuh dendam. Dari situlah kebijakan-kebijakan keras dan penuh kekejaman mulai mewarnai masa pemerintahannya.

Pada tahun-tahun awal pemerintahannya, Yeonsan berusaha mengembalikan martabat ibunya dengan memberi gelar anumerta, namun perlawanan dari kelompok pejabat Sarim membuatnya murka.

Hal ini memicu serangkaian pembantaian besar yang dikenal sebagai Pembersihan Sastrawan Pertama (1498) dan Pembersihan Sastrawan Kedua (1504).

Dalam kedua tragedi itu, banyak pejabat dieksekusi, termasuk anggota keluarga kerajaan yang dianggap terlibat dalam kematian ibunya. Dari titik ini, reputasinya sebagai raja bengis semakin melekat.

Kekejamannya tidak berhenti di situ. Yeonsan membungkam kritik dengan melarang penggunaan Hangul, menutup lembaga pendidikan dan penelitian seperti Seonggyungwan, serta mengubahnya menjadi arena hiburan pribadi.

Raja Yeonsan juga mengusir ribuan warga untuk membangun lahan berburu, memaksa kerja paksa, dan memerintahkan penculikan perempuan muda dari berbagai provinsi untuk dijadikan penghibur istana.

Bahkan, para pejabat yang berani menasihatinya sering berakhir disiksa atau dibunuh secara brutal. Akhir pemerintahannya datang pada tahun 1506 ketika sekelompok pejabat tinggi, yang dipimpin oleh Park Won-jong dan sekutunya, melakukan kudeta.

Yeonsan diturunkan dari takhta, dan diganti oleh adiknya, yaitu Pangeran Jinseong, lalu diasingkan ke Pulau Ganghwa. Tidak lama setelah pengasingannya, Raja Yeonsan meninggal dunia.

Awalnya Raja Yeonsan dimakamkan di sana, tetapi kemudian istrinya, yaitu Lady Sin, meminta agar makamnya dipindahkan.

Pada tahun 1513, Raja Jungjong menyetujui permintaan Lady Sin dan memerintahkan pemakaman ulang dengan tata cara sederhana sesuai statusnya sebagai pangeran, bukan sebagai raja.

Dari kisah hidupnya ini, jelas terlihat bahwa siapa Raja Yeonsan bukan sekadar penguasa biasa. Tak heran jika hingga kini namanya dikenang sebagai salah satu sosok paling kontroversial dalam sejarah Dinasti Joseon. (Fikah)

Baca juga: 10 Drama Korea tentang Yeonsangun yang Seru untuk Ditonton