Konten dari Pengguna

Pendidikan Tinggi Belum Tentu Menghasilkan Orang Terdidik

Sinta Nur Anggraeni

Sinta Nur Anggraeni

Mahasiswa S1 Teknik Industri Universitas Airlangga Surabaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sinta Nur Anggraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berkaca pada Kasus Penganiayaan Mario Dandy kepada David

Ilustrasi bullying. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bullying. Foto: Shutter Stock

Munculnya berbagai masalah di masyarakat seperti berbagai tindakan kriminal dan memalukan adalah akibat dari kelakuan orang tidak terdidik. Ya, sekalipun seseorang itu mengenyam pendidikan tinggi sekalipun.

Masalah seperti bullying, korupsi, kolusi, dan nepotisme masih saja terjadi di tengah semakin tingginya pendidikan warga negara Indonesia. Mengapa demikian?

Orang Pintar Belum Tentu Terdidik

Sekolah tinggi hingga bergelar doktor, bahkan professor misalnya, nyatanya belum tentu mampu membuat kelakuan seseorang bisa selalu baik. Atau paling tidak yang mencerminkan pendidikan tinggi yang telah dikenyamnya.

Mungkin sekolah tinggi di Indonesia telah berhasil menghasilkan orang-orang pintar, namun tidak semuanya bisa dikatakan terdidik. Buktinya masih banyak penjahat yang bergelar sarjana bukan professor yang harus mendekam di penjara.

Pola pendidikan formal di Indonesia memang hanya mengajarkan bidang keilmuan pengetahuan dan teknologi saja yang membuat orang semakin pintar. Sayangnya dalam hal budi pekerti yang membuat orang menjadi terdidik belum diajarkan.

Dari situlah sebabnya mengapa orang pintar masih banyak yang melakukan tindakan memalukan. Beberapa di antaranya seperti tindakan korupsi, atau misalnya pamer kuasa.

Mungkin memang hanya di Indonesia mantan narapidana pelaku kejahatan masih bisa dijadikan pemimpin sebuah instansi. Hal ini bukankah seharusnya menjadi hal yang memalukan bagi semua pihak? Padahal masih banyak orang yang terdidik di luar sana tapi tidak dipilih.

Fenomena Pamer Kuasa di Kalangan Orang Terdidik

Ilustrasi uang. Foto: Ariful Azmi Usman/Shutterstock

Dari salah satu kasus yang menjadi sorotan publik belakangan ini, yaitu kasus penganiayaan yang dilakukan oleh anak pejabat pajak bernama Mario Dandy Satriyo.

Menurut berita yang beredar, ditelusuri bahwa laporan harta kekayaan pejabat pajak bernama Rafael Alun Trisambodo tersebut tidak sesuai dengan profilnya sebagai pejabat eselon III. Dan tak jarang sang anak, Mario Dandy, sering memamerkan harta orang tuanya di media sosial.

Hal tersebut mengundang atensi publik akan gaya hidup mewah yang terlihat pada media sosial Mario Dandy. Pihak KPK mengungkapkan harta yang dimiliki pejabat Dirjen Pajak Rafael Alun Trisambodo, tidak sesuai, sehingga akan dilakukan pemeriksaan harta kekayaan Rafael oleh Tim Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

Imbas penganiayaan yang dilakukannya kepada David Ozora seorang anak petinggi GP Ansor, Mario Dandy juga diketahui telah dikeluarkan dari kampusnya.

Pelajaran Mahal yang Dapat Diambil

COM-Ilustrasi kelulusan mahasiswa Foto: Shutterstock

Sifat kekerasan pada anak tumbuh akibat dari kurangnya pendidikan moral dan pola asuh yang salah dari orang tuanya. Penting bagi mereka memberikan hal tersebut agar dapat mencegah seorang anak tumbuh dengan sifat kekerasan saat ia dewasa.

Moral adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui atau memilah mana yang baik dan mana yang buruk.”

Pendidikan moral dapat dimulai dari mengajarkan anak bagaimana cara berempati. Dengan adanya rasa empati anak akan lebih bisa memahami kondisi orang lain dan cenderung toleran. Selain empati, dapat diajarkan juga pada anak rasa adil, kontrol diri, hingga berbuat kebaikan.

Apabila hal-hal tersebut diajarkan kepada anak, maka anak akan dengan sendirinya bisa memilah mana perilaku yang baik dan buruk, termasuk tahu perilaku mana yang tidak membuat orang lain terluka. Sebaliknya jika pendidikan moral tidak pernah diajarkan, maka akan berdampak pada ketidakpahaman yang dialami anak.

Terlepas dari pendidikan moral, pola pengasuhan dirasa juga menjadi hal penting lainnya yang harus dipahami orang tua guna mencegah munculnya sifat kekerasan pada anak di masa mendatang. Gaya pengasuhan tersebut harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari keadaan pada saat ini.

Maka, mulai sekarang dapat ditanamkan pendidikan yang tidak hanya memberi pengetahuan saja tetapi juga pendidikan moral serta meningkatkan peran utama orang tua di dalamnya. Sehingga kita para generasi penerus bangsa tidak hanya memiliki pendidikan yang baik namun diimbangi dengan moral yang baik juga.

Harapan ke depannya, semoga bangsa Indonesia dapat menciptakan calon orang-orang yang tidak hanya pintar, tetapi juga terdidik dan bermoral unggul.