Liga Putri Indonesia Kembali: Tujuh Tahun Menunggu, Satu Pertanyaan Tersisa

Communication Student at Pamulang University. Writes about sports, inclusion, and the stories behind big events
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sinta Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kamu berhenti bermain di liga putri pada 2019, tujuh tahun terasa seperti satu masa hidup yang lain. Kamu mungkin pindah kota, mencari pekerjaan baru, atau menyimpan sepatu bola di lemari sambil berharap liganya kembali. Lalu pada 18 Oktober 2026, harapan itu akhirnya punya jadwal, dan liga putri Indonesia bergulir lagi di Stadion Madya, Jakarta.
Tidak ada yang salah dengan merayakannya. Hanya saja, orang yang pernah menunggu selama itu biasanya tahu satu hal: memulai itu mudah, bertahan yang sulit.
Tujuh Tahun yang Terasa Panjang.
Sejak 2019, para pemain putri harus mencari panggung di turnamen-turnamen terbatas. Tim nasional tetap bermain, tetapi tanpa liga rutin yang menyaring dan mengasah talenta baru. Bagi atlet yang masa puncaknya pendek, tujuh tahun bisa berarti kehilangan satu generasi.
Maka tidak heran bila pemain seperti Ellen Tria Ferlika dari Garudayaksa menyebut semua orang sudah menunggu-nunggu liga ini. Ia menyebutnya ruang untuk mengejar mimpi, kalimat sederhana yang menyimpan banyak kerinduan.
Pelajaran dari Gaji yang Tidak Pernah Utuh.
Liga putri pada 2019 juga dibuka dengan semangat. Namun beberapa bulan kemudian, seorang pemain dari salah satu klub bercerita bahwa gajinya hanya dibayar sebagian kecil dari nilai kontrak, lalu berhenti. Cerita seperti itu bukan soal administrasi, melainkan soal rasa dihargai.
Kini PSSI menyatakan keuangan klub sudah dibicarakan dan dinilai memadai. Kabar yang melegakan, tetapi pemain biasanya baru percaya ketika uangnya benar-benar masuk. Ukuran paling jujur bagi sebuah liga adalah apakah ia bisa membayar pemainnya sebelum tepuk tangan berhenti.
Enam Klub dan Satu Kota.
Musim perdana diikuti enam klub Jabodetabek, dengan seluruh laga dipusatkan di Jakarta. Banyak yang menganggap format ini lebih baik daripada tidak ada liga sama sekali, dan itu benar untuk langkah awal. Namun bagaimana dengan pemain di Sumatra, Kalimantan, atau Papua?
Liga yang ingin menjadi jalan menuju tim nasional tidak bisa selamanya hanya menatap satu wilayah. Perlahan, pintunya harus terbuka lebih lebar.
Liga putri tidak butuh pidato yang megah. Ia butuh gaji yang cair di bulan ketiga dan kepastian musim kedua. Selama dua hal itu belum terjawab, tujuh tahun menunggu memang berakhir, tetapi ceritanya baru mulai diuji.
