Labirin Cinta (Bab 13)

Hai, nama panggilanku Sisca. Aku lulusan Teknik Kimia Universitas Jenderal Achmad Yani dan master graduate Manajemen Bisnis SB IPB. Sekarang kerja sebagai translator dan kolabarasi blog. Hobby-ku mengarang. Salam kenal.
Tulisan dari Sisca Wiryawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Terjebak

“Halo. Karin sayang, sekitar setengah jam lagi aku akan menjemputmu di perempatan dekat rumahmu seperti biasa. Kamu tidak perlu dandan karena kamu sudah cantik tanpa menggunakan apa pun, termasuk pakaian. Hahaha…”
“Ih, Kakak porno! Belum apa-apa pikiran Kakak sudah melenceng.”
“Salah siapa yang sering berbicara tanpa disaring? Beberapa kali aku menjemputmu, pasti kamu menjawab seperti ini. Tunggu, aku belum memakai baju. Atau, sebentar, aku hanya menggunakan pakaian dalam. Sudah pasti pikiranku menjadi tercemar. Jika tidak, berarti aku bukan pria normal.”
“Itu salah Kakak, bukan salahku. Ingatlah prinsip ini, Kak, bahwa pria selalu salah dan perempuan selalu benar. UU Perempuan menyatakan beberapa pasal sebagai berikut. Pasal 1, perempuan selalu benar. Pasal 2, perempuan memang selalu benar. Pasal 3, jika pria merasa di pihak yang benar, kembali ke pasal satu.”
“Waduh, benar juga. Pantas ibuku dan Farah selalu menang jika berdebat denganku.”
“Iya, pokoknya Kakak yang salah. Aku belum menggunakan gaun karena Kakak lama sekali datangnya. Jika menunggu Kakak berjam-jam, gaunku kusut. Bahkan, lipstick dan bedak wajah luntur. Seringkali aku sudah rapi berpakaian dan menyiapkan bekal kita, Kakak tiba-tiba tidak bisa datang.”
“Aku sibuk, Sayang. Untuk bertemu denganmu, aku harus mencuri waktu.”
“Iya, memangnya sekarang urusan bisnis Kakak di Kota Tasikmalaya sudah selesai? Aku tidak ingin Kakak terburu-buru jika sedang kencan bersamaku.”
“Ya, sudah selesai. Memangnya kamu tidak rindu denganku?”
“Kakak sendiri?”
“Jangan suka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Tolong jawab saja. Rindu tidak denganku?”
“Rindu dengan Kakak yang galak dan genit.”
“Hey, aku genit?”
“Kakak sering menebar pesona.”
“Kapan aku menebar pesona?”
“Sewaktu kita di rest area.”
“Bukan aku yang mengejar mereka. Jika mereka yang menyukaiku, itu risiko mereka sendiri. Kamu harus mengetahui bahwa aku sebenarnya ialah duda yang sangat laku. Hahaha…
“Tingkah Kakak menyebalkan. Jika ada perempuan yang merasa dipermainkan Kakak, akan bertindak jahat pada Kakak yang tubuhnya mungil, misalnya memutilasi,” seru Karin kesal.
“Jangan suka menakut-nakutiku. Kau cemburu?” Tanya Arai dengan nada suara menggoda.
“Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu.”
“Iya, kamu tidak cemburu. Tapi, hanya jealous.”
“Tidak.”
“Ya, sudah. Jika kau tidak mau mengaku, cepatlah bersiap! Aku sudah hampir sampai.”
***
“Kak, mari kita turun di tepi jalan ini. Kita bisa melihat Kota Bogor dari atas bukit ini. Gemerlap lampunya indah.”
“Tidak, aku tidak suka.”
“Mengapa? Kakak bisa minum kopi kotak sembari merasakan sejuknya udara.”
“Nanti malah masuk angin.”
“Ah, Kakak tidak romantis. Yuk, kita nikmati suasana perbukitan.”
“Tidak mau. Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut hantu karena jalan ini gelap sekali. Lebih baik kita minum kopi di rest area atau cafe.”
“Yah, Kakak. Masa Kakak takut hantu? Ada doa pengusir hantu.”
“Jangan berisiko! Nanti Karin kesurupan atau ada penjahat. Perasaanku tak enak karena jalanan ini sepi sekali.”
Karin merengut karena permintaannya ditolak mentah-mentah. Siapa yang menyangka Arai takut setan?
“Dahulu aku berhasil mengusir hantu yang melintasi Si Borokokok.”
“Si Borokokok?”
“Sedan tua.”
“Oh.”
“Saat itu Ibu menjemputku dari Cimahi, Bandung, untuk membawa sebagian besar barang-barangku karena kuliah S1-ku hampir selesai. Ketika melintasi Gunung Kapur Padalarang, ada perempuan bergaun merah yang tiba-tiba menyebrang dan hampir saja tertabrak. Berkat pamanku yang cekatan dalam menyetir, Si Borokokok berhasil menghindarinya. Kemudian, Paman menyalakan lampu mobil seterang-terangnya sehingga aku bisa melihat kedua bola matanya yang dingin seperti kaca, tanpa pupil. Kakinya juga tidak ada, Kak. Saat itu aku takut sekali karena Ibu dan Paman berada di kursi depan, sedangkan aku duduk sendiri di kursi belakang bersama tumpukan barang. Setelah dibacakan doa pengusir setan, perempuan itu menghilang. Tadinya masih berada di tepi jalan. Kemudian …”
“Berhenti, aku sudah mengatakan bahwa aku takut hantu. Aduh, kau malah cerita hantu. Nanti ada roh yang datang,” gerutu Arai.
“Tapi, Kak, aku menang melawan hantu. Mereka juga mengetahui bahwa aku jahat jika diganggu. Jika ada roh penasaran, bisa dicegah dengan daun kelor, paku, dan cuka. Jadi, Kakak tenang saja,” kata Karin dengan nada bangga.
Tepat ketika Karin selesai berkata, guntur menggelegar seolah menjadi saksi. Tiba-tiba hujan pun turun dengan deras hingga Arai yang berkacamata minus tiga berhati-hati menjalankan mobilnya.
“Celaka, mobilnya mogok. Walaupun dinyalakan, mesinnya tidak mau hidup. Nah, mesinnya hidup lagi.”
Mesin mobil meraung-raung, dan kemudian berhenti lagi.
“Kehabisan bensin?”
“Bensin masih banyak. Mungkin mesin mobilnya yang bermasalah. Untungnya, sekitar 500 meter di depan kita ada rumah penduduk. Sebaiknya, kita menginap di sana.”
“Kak, rumahnya seram. Bagaimana jika kita menginap di mobil saja?”
“Jangan, Karin. Jika kaca mobil dipecahkan dan kita berada di dalam mobil, itu jauh lebih berbahaya. Khawatirnya, ada perampok yang ingin merebut mobil. Lihatlah! Rumah penduduk itu tak hanya satu, tapi ada beberapa baris. Hujan pun sudah reda.”
Karin keluar dari mobil dan mengikuti Arai dengan langkah berjingkat karena menghindari genangan air. Karin merasa senang dengan perlakuan manis Arai yang langsung menggenggam tangannya.
***
“Permisi,” kata Arai sembari mengetuk pintu.
Seorang ibu muda yang sedang menggendong bayinya, mengintip dari balik jendela. Kemudian, ia membuka pintu. Wajahnya yang bulat tidak bisa menyembunyikan keheranan akan datangnya tamu tak dikenal pada malam hari.
“ Maaf, Bapak dan Ibu ini siapa?”
“Apakah kami boleh menginap semalam di sini karena mobil kami mogok. Saya akan membayar biaya menginapnya sebesar 300 ribu rupiah. Dan juga 100 ribu rupiah untuk pria yang bisa membantu mendorong mobil tersebut ke pekarangan rumah ini.”
“Sayangnya, kami tidak memiliki kamar kosong.” Ibu muda berdaster ungu pudar tersebut menggeleng-gelengkan kepala seperti burung tekukur. “Aduh,” serunya kesakitan karena tangannya disikut oleh suaminya yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
“Bolehlah. Lumayan untuk biaya keperluan dapur. Persilakan saja mereka untuk tidur di kamar ibu. Mari masuk. Di luar udaranya sangat dingin. Maafkan kami karena rumah kami sangat kecil dan sederhana. Perkenalkan, saya Udin, dan istri saya, Mira. Siapa nama Bapak dan Ibu?” Tanya Pak Udin dengan penuh antusias sembari mengajak bersalaman.
“Arai.”
“Karin.”
“Pak Arai dan Bu Karin, kami hanya memiliki satu kamar kosong. Tidak masalah kan karena kalian suami istri?”
Arai mengangguk dengan takzim. Sedangkan Karin terlihat salah tingkah. Tapi, Pak Udin tidak mempedulikannya karena ia mengira tingkah Karin yang malu-malu kucing seperti pengantin baru. Dan juga Pak Udin sudah terlampau senang memperoleh uang dari Arai.
“Tapi, Pak…” Bu Mira membalas sikutan suaminya.
“Sudah, turuti saja perkataanku. Tolong kau jamu tamu kita dengan kopi panas dan kue. Kemudian, rapikan kamarnya,” tegas Pak Udin. Lalu, ia menoleh ke Arai dan berkata dengan ramah, ”Saya akan meminta bantuan Pak Azwar, tetangga sebelah, untuk membantu mendorong mobil. Mari Pak, kita amankan dulu mobil Bapak.”
“Terima kasih banyak, Pak Udin. Kebetulan udaranya sangat dingin. Segelas kopi panas tentu akan sangat kami syukuri,” sahut Arai dengan penuh rasa terima kasih. “Karin, aku keluar dulu, ya.” Arai meninggalkan Karin yang duduk termangu dan menatap langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Ada beberapa lubang menganga di langit-langit rumah sehingga memberikan kesan suram dan tak terawat. Tapi, Karin memiliki pemikiran lain. Mungkin ada tikus atau ular yang membuat lubang tersebut? Ataukah, seekor musang yang terlalu bersemangat dalam berburu tikus dan meninggalkan jejak lubang tersebut. Atap rumah keluarga Karin juga sering dirusak tikus atau musang. Bahkan, ular kecil pernah bersarang di atap rumahnya walaupun langit-langit rumahnya terbuat dari papan kayu.
***
“Masa tidur kita dipisahkan oleh guling ibarat Tembok Berlin? Terakhir kita bertemu saja, kita tidur berpelukan di mobil,” protes Arai. Ia bertingkah seperti anak kecil yang mainan robot kesayangannya direbut paksa.
“Tapi, sekarang situasinya bisa menjurus berbahaya,” sahut Karin dengan merengut.
“Berbahaya bagaimana?”
“Kakak dan aku.”
“Tapi, kita sudah dewasa. Apa masalahnya?”
“Justru itu masalahnya. Karena kita sudah dewasa, kita memahami konsekuensi tindakan impulsif kita.”
“Mengapa kau menganggap tidur berpelukan sebagai tindakan impulsif? Itu caraku menunjukkan rasa sayang padamu. Sepertinya Karin sudah tidak sayang dengan diriku. Aku menyadari bahwa aku memang duda yang sangat tidak laku,” kata Arai dengan mengiba dan sorot mata yang sendu.
Karin mengeluh dalam hati. Memang sulit berdebat dengan pria keras kepala dan dominan seperti Arai. Ia selalu memiliki satu juta alasan untuk mendukung idenya.
“Nanti Kakak kebablasan.”
“Kamu atau aku yang akan kebablasan?” Tanya Arai dengan nada suara menggoda.
“Tentu saja kita berdua. Nanti jika aku hamil, memangnya Kakak akan bertanggung jawab?”
“Apa aku terlihat seperti pria tak bertanggung jawab?”
“Ih, Kakak sensitif sekali. Jika kita menjalin hubungan, tentu harus ada perjanjian.”
“Perjanjian apa? Masa seperti perjanjian bisnis? Bukankah hubungan kita berdasarkan rasa saling menyayangi?”
“Iya, tapi kita harus menetapkan poin-poin penting. Misalnya, aku tidak ingin suatu saat Kakak akan membunuhku jika aku hamil di luar nikah. Jadi, …”
“Hentikan! Apa aku memiliki kesan seperti pembunuh berdarah dingin?” Tanya Arai. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Karin sering membuatnya terkejut dengan perkataannya yang ekstrim.
“Tidak, wajah Kakak sangat imut. Tapi, aku selalu menetapkan poin penting ini setiap menjalin kasih. Kakak mengetahui bahwa aku tidak terlalu suka menggunakan make-up yang menor, tapi aku mementingkan penggunaan skin care secara teratur.”
“Ya, lalu apa hubungannya pembunuhan dengan skin care?”
“Aku tidak ingin meninggal dalam keadaan jelek jika dibunuh oleh pasanganku, termasuk oleh Kakak. Coba Kakak bayangkan betapa ruginya jika mayatku buruk rupa padahal aku rajin menggunakan skin care yang harganya cukup menguras dompet! Bagaimana jika aku tewas dikampak, kemudian disemen di dalam tembok seperti kisah Kucing Hitam karya Edgar Allan Poe? Atau, aku tewas dicekik, tentu lidahku akan keluar setengah meter,” seru Karin berapi-api sembari menjulurkan lidahnya yang berwarna merah muda.
Arai tidak dapat menahan semburan tawa. Juluran lidah yang imut mengkhianati ekspresi Karin yang serius. Mata Karin yang bulat menatapnya dengan binar yang menantang. Arai tak habis pikir mengapa dahulu Pasha tidak menikahinya secepat mungkin. Perempuan ini benar-benar unik dan menarik. Entah apa yang membuatnya bertingkah tidak seperti perempuan kebanyakan yang feminin dan menjaga sikap. Walaupun demikian, Arai sangat menyukainya karena perempuan ini selalu berhasil membuatnya tertawa dan melupakan segala masalah.
“Keinginanku sederhana, yaitu ingin meninggal dunia dalam keadaan cantik. Jika aku tewas dibunuh dalam kondisi mayat yang seram, kuatirnya orang-orang takut melayatku sehingga pemakamanku sepi.”
“Kamu itu aneh. Benar! Aku seharusnya memanggilmu Si Aneh,” seru Arai sembari meraih Karin dalam pelukannya hingga Karin jatuh ke dalam pangkuannya.
“Kakak, lepaskan. Aku tidak bisa bernapas.”
Arai malah merangkulnya lebih erat hingga Karin bisa mendengar detak jantung Arai yang cepat. Tapi, Karin mengurai pelukan Arai.
“Aku ingin sekali buang air kecil. Tapi, aku takut karena kamar mandinya berada di samping rumah sehingga terlihat gelap dan seram. Tolong temani aku,” rengek Karin dengan nada manja.
“Ah, aku malas berjalan ke sana. Siapa yang memberitahuku bahwa dirinya tidak takut hantu dan selalu menang melawan hantu?”
“Aku. Tapi, untuk apa membuang energi untuk melawan hantu jika bisa menghindarinya,” dalih Karin.
“Bisa saja kamu berkelit. Jadi, aku ikut masuk ke kamar mandi?” Tanya Arai dengan antusiasme tinggi. Tawa kecil terlepas dari bibirnya.
“Kakak tunggu di depan pintu saja. Jika Kakak ikut masuk, mata Kakak yang genit akan bengkak” jawab Karin.
“Okay, sayangku. Mari kita bertualang ke kamar mandi sesegera mungkin sebelum sayangku mengompol.”
***
“HUWAAA!” Teriakan Karin membahana.
“Ada apa Karin?” Tanya Arai yang sedang menunggu di depan pintu kamar mandi.
Karin membuka pintu kamar mandi dengan sentakan keras dan segera keluar dari kamar mandi yang menakutkan tersebut. Wajahnya pucat pasi.
“Ada yang memegang bokongku ketika aku sedang membersihkan diri,” jawab Karin terbata-bata. “Kakak, sepertinya ada hantu di rumah ini.”
Arai berusaha menahan tawa. Tapi, tak berhasil.
“Kakak jahat. Aku sedang takut, Kakak malah tertawa,” gerutu Karin.
“Bagaimana tidak tertawa? Apakah benar bokongmu dipegang hantu mesum atau dicium tikus penasaran?” Tanya Arai. Binar tawa di kedua bola matanya belum memudar.
“Tapi, rasanya seperti tangan yang memegang, Kak.”
“Ya, sudah. Lihatlah!” Tangan Arai menunjuk seekor tikus yang berkeliaran dekat kamar mandi. “Mungkin ini biang keroknya.”
“Aku tetap merasa tadi itu bukan tikus, tapi bisa saja aku salah,” gumam Karin.
***
“Kak, sudah tidur, ya?”
“Iya, aku sudah tidur.”
“Tapi, Kakak masih bisa menjawab.”
“Kamu tidak bisa tidur? Masih takut dengan hantu mesum tadi?”
“Iya, aku sulit tidur. Kak, perasaanku tidak enak. Sepertinya ada yang mengintip dari balik jendela.”
“Coba aku lihat jendela,” kata Arai sembari turun dari kasur dan menghampiri jendela. Ia menyingkap sedikit horden dan melirik ke arah luar. “Tidak ada apa-apa.” Arai kembali membaringkan diri di samping Karin dengan guling sebagai pembatasnya. “Tidurlah kembali.”
Tak perlu waktu lama, Arai sudah terlelap. Hembusan napasnya terdengar berirama. Sedangkan Karin tetap tidak bisa tidur walaupun ia sudah memejamkan mata. Akhirnya, rasa kantuk menghampiri Karin. Ia tertidur sekitar 1 jam, dan kemudian terbangun karena merasa haus. Ia menoleh ke arah gelas kosong dan teko air di atas nakas. Tak sengaja pandangannya tertuju pada jendela kamar yang dilapisi kain horden. Ia terkejut ketika melihat kain horden bergerak-gerak sendiri. Tapi, ia berusaha berpikiran logis. Mungkin ada binatang kecil atau hembusan angin. Tapi, perasaannya tak nyaman.
“Kak, bangun. Ada hantu,” bisik Karin di depan telinga kanan Arai.
“Apa? Hantu? Di mana?” Tanya Arai dengan suara serak karena terbangun dari tidurnya yang lelap.
“Itu, Kak. Hordennya bergerak-gerak sendiri,” kata Karin sembari menunjuk ke arah horden.
Arai bangkit dan memeriksa jendela. Ternyata jendelanya belum tertutup rapat.
“Hanya angin. Sebaiknya kamu kembali tidur.”
“Tapi, aku takut,” kata Karin dengan risau. Ia menyingkirkan guling pembatas dan menghamburkan diri ke pelukan Arai.
“Nanti kita kebablasan,” goda Arai.
“Tadi Kakak berkata bahwa Kakak sangat mengantuk?” balas Karin. Ia menggaruk kulit tangannya yang mulai timbul bentol berwarna kemerahan, pertanda alergi kulitnya kambuh akibat udara yang terlampau dingin. Ia mengambil satu bungkus kecil CTM dari dompetnya dan meminumnya. Kemudian, ia kembali ke dalam rangkulan Arai. Tingkahnya persis seekor kucing manja yang memuja majikannya.
“Iya, tidurlah,” jawab Arai sembari mencium Karin untuk menghentikan perdebatan. Diam-diam Arai merasa senang dengan Karin yang setuju untuk tidur dalam pelukannya. Hari ini Arai menyadari bahwa sebenarnya Karin agak penakut, tapi sering berpura-pura berani.
Arai masih bisa menahan diri untuk tak melakukan hal melampaui batas yang diperbolehkan Karin. Ia bukan tipe pemaksa, tapi perencana. Untuk mendapatkan hati Karin seutuhnya, Arai akan bersabar. Walaupun demikian, tubuh Arai mengkhianati niatnya. Arai mengeluh dalam hati. Ah, ini benar-benar siksaan. Tubuh Karin yang lembut, sukses membuat setiap sel tubuh Arai terbakar. Arai merasa geli melihat Karin yang segera terlelap setelah berada dalam rangkulannya. Apakah Karin tidak melihat diri Arai sebagai seorang pria normal ataukah ia begitu polos hingga menganggap diri Arai jinak seperti boneka Teddy Bear? Arai menghela napas. Malam ini masih panjang. Lampu yang temaram memainkan bayangan pada lekuk wajah Karin yang halus. Arai tak kuasa menahan perasaan sayangnya dan kembali mengecup dahi Karin. Selamat tidur, Sayang.
Dua jam kemudian
Dalam keadaan setengah tertidur, Arai merasa ada tangan halus yang meraba dadanya, menjelajah perutnya, membelai pahanya, dan terus … Ah, Arai tak tahan lagi. Rupanya Karin tipe jinak-jinak merpati. Ia berkata tidak mau dan menjaga batasan dalam hubungan, tapi kenyataan berkata lain. Arai membuka matanya dan menatap Karin. Perempuan penggoda ini sekarang berpura-pura tidur setelah merangsang Arai sedemikian rupa. Arai merangkum wajah Karin yang tampak terlelap. Ah, sayangku ternyata memiliki bakat terpendam sebagai artis ulung. Masih saja ia berakting tidur. Jika ini yang kau mau, tentu saja aku akan melanjutkan drama ini. Arai mencium bibir ranum yang membuatnya tergila-gila. Kecupan halus berubah menjadi panas. Karin membalas ciumannya walaupun dengan mata tetap terpejam. Merasa Karin tak menolak aksinya, Arai bertambah berani dan mulai melucuti pakaiannya dan pakaian Karin. Lagipula bukankah Karin yang memulai permainan api ini? Ibarat kucing yang diberi ikan, Arai tak menolak jika Karin ingin melakukan hubungan badan. Untuk sesaat, Arai terdiam dan menunggu respons Karin. Jika Karin menolak, terpaksa Arai pun mengikuti keinginannya. Tapi, Karin hanya melenguh dan merangkulnya erat sehingga Arai menganggap hal tersebut sebagai kode untuk melanjutkan perbuatan terlarang ini.
Arai merasakan sensasi yang hangat dan menyenangkan ketika kulit beradu dengan kulit. Ia mencium Karin di area yang tak pernah Karin bayangkan. Tubuh Karin yang gemetar dan merona membuat Arai melupakan segala akal sehatnya. Segala norma dan aturan seperti kabut yang dipermainkan angin dalam benak Arai. Ia hanya ingin menyegel Karin menjadi hak miliknya secepatnya walaupun belum dalam ikatan resmi karena Arai takut kehilangan Karin. Arai merasa tak percaya diri. Sudah lama ia kehilangan rasa percaya diri. Ia merasa sangat gamang. Dan untuk mendapatkan Karin, apa pun akan Arai lakukan.
