Ketika Healing Bukan Lagi Liburan, Tapi Hak untuk Tidur 8 Jam Tanpa Diganggu

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di universitas pamulang dengan program studi akuntansi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Siska Sri Gustiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah healing tampaknya telah mengalami inflasi makna yang akut. Beberapa tahun lalu, kata ini diidentikkan dengan tiket pesawat ke Bali, staycation di hotel bintang lima, atau mendaki gunung demi mencari ketenangan. Namun bagi Generasi Z (Gen Z), narasi romantis tentang liburan itu kini terasa fana dan berjarak.
Bagi generasi yang lahir di tengah gempuran krisis multi dimensi ini, esensi healing telah menyusut ke titik paling radikal namun mendasar sebuah hak untuk tidur delapan jam sehari tanpa diganggu oleh kecemasan. Fenomena ini memicu sebuah refleksi kritis, mengapa kebutuhan biologis paling dasar manusia kini harus bertransformasi menjadi sebuah kemewahan yang disebut healing
Dari Rekreasi Menjadi Deprivasi
Pergeseran makna healing ini bukan sekadar tren bahasa anak muda, melainkan sebuah alarm gejala klinis sosial. Gen Z saat ini tidak sedang butuh hiburan mereka sedang mengalami kelelahan akut (burnout) yang bersifat struktural.
Ketika seorang anak muda mengatakan "Aku butuh healing," yang mereka bayangkan sering kali bukan lagi pantai yang indah, melainkan kasur kosan, gorden yang tertutup rapat, dan ponsel dalam mode "Jangan Ganggu" (Do Not Disturb).
Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada hilangnya batas-batas ruang privat akibat konektivitas digital yang eksesif. Gen Z adalah generasi yang kepalanya terus-menerus "diganggu" bahkan saat mereka memejamkan mata baik oleh algoritma media sosial yang memicu overthinking, tuntutan ekonomi, hingga dunia kerja yang menuntut mereka untuk selalu aktif.
Gairah yang Padam di Tengah Sleep Crisis
Sangat keliru jika melabeli fenomena ini sebagai bentuk kemalasan. Realitasnya justru berkebalikan. Gen Z adalah generasi yang dipaksa berlari terlalu cepat dalam ketidakpastian global. Ironinya, kecepatan ini harus dibayar mahal dengan waktu istirahat mereka.
Epidemi Krisis Tidur (Sleep Crisis): Menurut laporan lembaga riset kesehatan global, Gen Z secara statistik merupakan generasi yang paling sedikit jam tidurnya dan memiliki kualitas tidur paling buruk dibandingkan generasi sebelumnya. Paparan blue light dari gawai dan kecemasan akan masa depan (existential dread) membuat fase Deep Sleep menjadi hal yang langka.
Hiper-stimulasi Digital: Otak Gen Z tidak pernah benar-benar beristirahat. Bahkan ketika tidak sedang bekerja, arus informasi yang masuk melalui layar ponsel terus merangsang dopamin dan kortisol (hormon stres). Akibatnya, tidur 8 jam tanpa interupsi psikologis menjadi sebuah kemenangan besar.
Tidur Sebagai Bentuk Perlawanan
Ketika liburan ke luar kota justru membutuhkan energi ekstra untuk merencanakan logistik, biaya yang menguras tabungan, dan tuntutan untuk tetap tampil "estetik" di media sosial, maka tidur menjelma menjadi pilihan yang paling rasional dan ekonomis.
Tidur tanpa diganggu adalah bentuk healing yang paling jujur. Ini adalah momen di mana Gen Z bisa melepaskan diri dari tuntutan sosiologis untuk selalu terlihat produktif, sukses, dan bahagia di mata orang lain. Di atas kasur, mereka tidak perlu menjadi siapa-siapa mereka hanya manusia yang sedang memulihkan hak biologisnya.
Mengembalikan Hak yang Dirampas
Pada akhirnya, fenomena bergesernya makna healing menjadi sekadar "hak untuk tidur" adalah kritik tampar bagi realitas kehidupan modern. Kita hidup di era di mana waktu istirahat harus dinegosiasikan dan ketenangan visual harus dibeli mahal.
Bagi Gen Z, mematikan ponsel, menarik selimut, dan membiarkan tubuh terlelap selama 8 jam penuh tanpa interupsi adalah bentuk proteksi diri terbaik. Sebelum melangkah lebih jauh untuk menata masa depan, mereka hanya butuh satu hal yang selama ini kerap dirampas oleh dunia yang bising hak untuk beristirahat dengan tenang.
