Menikah atau Tidak? Kenapa Gen z Semakin Banyak Berpikir Dua Kali

Mahasiswi Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sissya Ailsa Chikal Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pulang dari acara pernikahan teman, bukannya ikut membayangkan kapan menikah, malah kepikiran, “Gue siap nggak ya kalau ada di posisi mereka?”
Apalagi setelah buka Instagram dan melihat teman lain upload lamaran, foto prewedding, atau undangan digital. Senang, tentu saja. Tapi di balik ucapan “congrats”, kadang ada suara kecil yang bilang, “Kok mereka sudah sampai sana, ya? Gue masih di sini-sini aja.”
Pengalaman seperti ini mungkin relate dengan sebagian Gen Z. Di usia ketika satu per satu teman mulai menikah, pertanyaan “kapan nyusul?” juga mulai bermunculan. Dari keluarga, teman, bahkan orang yang baru ketemu beberapa kali.
Padahal, sebagian Gen Z masih sibuk dengan pertanyaan yang lebih sederhana: mau kerja di mana, lanjut kuliah atau tidak, bagaimana punya penghasilan sendiri, bahkan sebenarnya mau hidup seperti apa.
Jadi, ketika ditanya soal menikah, jawabannya mungkin bukan “nggak mau”, tetapi “belum tahu.”
Gen Z juga tumbuh dengan banyak cerita tentang hubungan di media sosial. Ada pasangan yang terlihat sempurna, tetapi ada juga cerita perselingkuhan, perceraian, hubungan toxic, sampai pasangan yang berubah setelah menikah. Melihat semua itu, wajar kalau pernikahan mulai dianggap sebagai keputusan yang harus dipikirkan lebih jauh.
Belum lagi soal finansial. Menikah bukan hanya tentang biaya pesta dan foto bagus untuk diunggah. Setelah itu ada tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, pekerjaan, dan berbagai tanggung jawab yang harus dijalani bersama.
Karena itu, sebagian Gen Z memilih menunggu. Bukan karena anti cinta atau tidak percaya pada pernikahan, tetapi karena ingin memastikan bahwa ketika waktunya tiba, mereka tidak menikah hanya karena takut tertinggal.
Pada akhirnya, hidup bukan timeline Instagram. Teman boleh sudah menikah, sementara kita masih mencari arah. Dan itu bukan berarti kita gagal atau terlambat.
Mungkin kita bukan takut menikah. Kita cuma takut menjalani pernikahan sebelum benar-benar siap.
