The Distance Between Us: Saat Perasaan Datang Sebelum Kesiapan

Mahasiswi Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sissya Ailsa Chikal Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, kamu dekat sama seseorang sampai teman-teman mulai curiga kalau hubungan kalian lebih dari sekadar teman? Sering chat, saling cerita, saling cari kalau nggak kelihatan di kelas, bahkan hafal kebiasaan kecil satu sama lain. Awalnya biasa aja, tapi lama-lama kok jadi ada rasa?
Masalahnya, punya rasa ternyata nggak selalu berarti siap untuk menjalin hubungan.
Suka, Tapi Takut Mulai
Buat sebagian Gen Z, urusan hubungan memang bisa terasa cukup complicated. Di satu sisi, pengin punya seseorang yang bisa diajak cerita dan jadi tempat pulang. Tapi di sisi lain, ada juga keinginan buat fokus kuliah, karier, pertemanan, dan diri sendiri.
Akhirnya muncul pertanyaan, “Kalau kita benar-benar pacaran, aku bisa nggak menjalaninya dengan baik?”
Belum lagi kalau kepikiran soal komitmen. Takut nggak bisa memberikan waktu, takut hubungan malah mengganggu kehidupan masing-masing, atau yang paling sederhana: takut semuanya berakhir dan hubungan yang tadinya nyaman malah jadi awkward.
Jadi, memilih mundur bukan selalu berarti nggak suka. Bisa jadi justru karena terlalu sadar kalau rasa suka saja belum cukup.
“Aku Belum Siap” Bukan Berarti “Aku Nggak Mau”
Kita sering melihat istilah seperti situationship, commitment issues, red flag, sampai green flag berseliweran di media sosial. Tanpa sadar, hal-hal tersebut juga memengaruhi cara Gen Z melihat hubungan.
Banyak yang akhirnya lebih berhati-hati sebelum memutuskan untuk serius dengan seseorang. Ada yang ingin healing dulu, fokus self-growth, mengejar target, atau sekadar menikmati hidup tanpa harus memikirkan status hubungan.
Tapi kadang, keinginan untuk “menjadi versi terbaik dari diri sendiri” justru membuat kita merasa harus sempurna dulu sebelum mencintai seseorang.
Padahal, siapa juga yang benar-benar sudah siap menghadapi semua hal dalam sebuah hubungan?
Ketika Jarak Mulai Terasa
Yang bikin rumit adalah ketika dua orang sebenarnya sama-sama nyaman, tetapi salah satunya memilih menjaga jarak.
Chat yang dulu panjang mulai jadi singkat. Ajakan bertemu mulai dikurangi. Perhatian yang biasanya diberikan begitu saja mulai dipikirkan berkali-kali.
Bukan karena ada masalah besar. Bukan juga karena tiba-tiba jadi nggak peduli.
Hanya ada seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa menjaga jarak adalah pilihan yang paling aman.
Nggak Semua Rasa Harus Punya Status
Di zaman ketika hampir semua kedekatan ingin diberi label, rasanya aneh kalau sebuah hubungan dibiarkan tanpa kepastian. Tapi kenyataannya, nggak semua rasa harus langsung menjadi hubungan.
Ada yang datang untuk menetap, ada juga yang hanya menjadi bagian dari proses kita mengenal diri sendiri.
Mungkin suatu hari jarak itu akan hilang. Mungkin juga tidak.
Yang jelas, saling suka tidak selalu berarti harus bersama. Kadang, dua orang bisa punya rasa yang sama, tetapi belum berada di fase hidup yang sama.
Dan mungkin, the distance between us bukan tentang kurangnya rasa, tetapi tentang waktu yang belum tepat.
