Konten dari Pengguna

UMKM Dodol Tenjo sebagai Penggerak Ekonomi Mikro dan Menengah diMasyarakat Lokal

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Aisy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dodol Tenjo sudah lama dikenal sebagai salah satu kuliner khas di Kabupaten Bogor, khususnya di Kecamatan Tenjo. Di beberapa wilayah seperti Kampung Tegal Pondoh, Desa Singabangsa, dodol ini bukan hanya sekadar makanan oleh-oleh, tetapi juga menjadi salah satu usaha yang berperan penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat lokal, terutama pada sektor usaha mikro dan menengah (UMKM).

gambar terkait Produk Dodol Tenjo JRH milik Bapak Jaro Halimi dengan berbagai varian rasa yang menjadi salah satu usaha UMKM khas Desa Tenjo. sumber gambar dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
gambar terkait Produk Dodol Tenjo JRH milik Bapak Jaro Halimi dengan berbagai varian rasa yang menjadi salah satu usaha UMKM khas Desa Tenjo. sumber gambar dokumen pribadi

Banyak warga yang bergantung pada usaha dodol ini untuk mendapatkan penghasilan, baik sebagai penghasilan utama maupun tambahan. Mulai dari petani gula aren sebagai pemasok bahan baku, para pengrajin yang membuat dodol secara tradisional menggunakan kayu bakar, hingga pedagang yang menjual dodol di pinggir jalan raya Bogor Tangerang. Salah satu usaha dodol yang ada di daerah tersebut adalah Dodol Tenjo JRH milik Bapak Jaro Halimi, yang juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, terutama ibu rumah tangga dan pekerja perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa usaha dodol tidak hanya menjadi usaha rumah tangga biasa, tetapi juga berperan dalam menciptakan aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat.

Usaha dodol Tenjo dapat dikategorikan sebagai usaha ekonomi mikro, karena umumnya dikelola secara mandiri oleh keluarga dengan modal yang tidak terlalu besar dan jumlah tenaga kerja yang terbatas. Meskipun begitu, keberadaan usaha ini tetap memberikan dampak ekonomi yang cukup nyata bagi masyarakat sekitar, karena mampu menambah pendapatan keluarga dan menciptakan peluang kerja bagi warga.

Selain itu, usaha ini tetap mempertahankan cara produksi tradisional serta resep turun-temurun sehingga dodol yang dihasilkan memiliki rasa yang khas, legit, kenyal, dan gurih. Varian rasanya pun cukup beragam, seperti original, wijen, lapis, dan terakhir durian. Namun, rasa utama yang biasanya diproduksi ada tiga yaitu original, wijen, dan lapis, sedangkan rasa durian biasanya dibuat jika ada pesanan khusus, biasanya ketika jumlah pesanan mencapai lebih dari 5 kilogram.

Dilihat dari sisi ekonomi, dodol Tenjo sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang. Produk ini sudah cukup dikenal oleh masyarakat dan memiliki pelanggan tetap. Bahkan beberapa produsen dodol sudah pernah mendapatkan penghargaan di tingkat kabupaten hingga nasional. Ada juga pelaku UMKM yang mulai mencoba memasarkan produknya secara online melalui platform seperti Shopee atau Instagram. Hal ini menunjukkan bahwa produk dodol Tenjo memiliki kualitas yang baik dan berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas.

Namun, dalam praktiknya masih ada beberapa kendala yang dihadapi oleh para pelaku UMKM dodol Tenjo. Salah satu kendala utama adalah promosi dan penjualan secara online. Banyak pelaku usaha yang masih mengandalkan penjualan secara langsung di tempat produksi atau di pinggir jalan. Akibatnya, jangkauan pasar masih terbatas. Penjualan biasanya meningkat saat bulan puasa dan menjelang Lebaran karena dodol sering dijadikan oleh-oleh. Tetapi di luar waktu tersebut, produksi dan penjualan sering kali menurun.

Jika dilihat dari perspektif ekonomi mikro, kondisi ini menunjukkan bahwa potensi usaha dodol Tenjo sebenarnya cukup kuat, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal, terutama dalam hal pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital. Banyak pelaku UMKM yang masih memiliki keterbatasan dalam penggunaan media sosial, marketplace, serta strategi pemasaran yang lebih modern.

Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk membantu pengembangan UMKM dodol Tenjo agar dapat berkembang lebih baik. Misalnya dengan memberikan pelatihan digital marketing kepada para pelaku UMKM dari pemerintah desa, kecamatan, atau dinas UMKM Kabupaten Bogor. Pelatihan ini dapat membantu pelaku usaha memahami cara memasarkan produk melalui marketplace seperti Shopee atau Tokopedia, serta memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok sebagai sarana promosi.

Selain itu, para produsen dodol juga bisa bekerja sama untuk membangun identitas bersama dengan nama “Dodol Tenjo Asli Singabangsa/Tenjo” agar produknya lebih dikenal dan memiliki nilai jual yang lebih kuat di pasar. Para pelaku usaha juga dapat memanfaatkan momen tertentu seperti bulan puasa dan Lebaran dengan meningkatkan produksi serta membuat paket penjualan atau bundling. Sementara itu, di luar musim tersebut mereka bisa mencoba membuat kemasan yang lebih menarik seperti gift box agar produk tetap diminati sepanjang tahun.

Melibatkan anak muda di daerah setempat untuk membantu mengelola penjualan online juga dapat menjadi solusi yang baik. Dengan cara ini, usaha dodol Tenjo tidak hanya bertahan sebagai usaha tradisional, tetapi juga dapat berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Pada akhirnya, dodol Tenjo bukan hanya sekadar makanan tradisional, tetapi juga menjadi salah satu contoh nyata bagaimana usaha mikro dan menengah mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat lokal. Jika kendala promosi dan pemasaran dapat diatasi, bukan tidak mungkin UMKM dodol Tenjo dapat berkembang lebih besar dan memberikan kontribusi ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di daerah Tenjo.