Konten dari Pengguna

Surviving in This Economy: Ketika Bertahan Hidup Menjadi Pekerjaan Kedua

Siti Febriza

Siti Febriza

Mahasiswa - Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Febriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi pekerja. Foto pexels/Muhammad Fawdy
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi pekerja. Foto pexels/Muhammad Fawdy

Fenomena surviving in this economy semakin sering terdengar di media sosial. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika banyak orang bekerja lebih keras, tetapi tetap merasa hanya mampu bertahan di tengah meningkatnya biaya hidup.

Kalimat itu saya temukan berkali-kali di media sosial. Ada yang menuliskannya sebagai keluhan, ada pula yang menyampaikannya sambil bercanda. Namun, di balik candaan tersebut tersimpan kenyataan yang tidak lucu: semakin banyak orang merasa hidup hari ini hanya tentang bertahan.

Istilah "surviving in this economy" bukan sekadar tren internet atau bahan membuat meme. Ia telah berubah menjadi gambaran kehidupan generasi saat ini. Kita hidup di masa ketika bekerja penuh waktu tidak selalu menjamin rasa aman secara finansial. Gaji datang setiap bulan, tetapi seolah hanya singgah sebentar sebelum habis untuk membayar kebutuhan yang terus bertambah.

Banyak orang mulai menyadari bahwa bekerja delapan jam sehari ternyata belum tentu cukup. Muncullah pekerjaan sampingan, usaha kecil-kecilan, menjadi kreator konten, membuka jasa freelance, hingga menjual barang-barang yang sudah tidak terpakai. Semua dilakukan bukan demi mengejar kemewahan, melainkan agar saldo rekening tidak lebih cepat habis daripada kalender berganti bulan.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga Indonesia masih didominasi oleh kebutuhan konsumsi, terutama makanan dan minuman. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, ruang untuk menabung, berinvestasi, atau menikmati hiburan otomatis semakin sempit. Di sisi lain, Bank Indonesia terus menjaga inflasi agar tetap terkendali, tetapi masyarakat tetap merasakan tekanan karena kebutuhan sehari-hari mengalami penyesuaian harga secara bertahap.

Yang menarik, perubahan terbesar justru terjadi pada cara masyarakat memandang kesuksesan.

Dulu, bekerja identik dengan membangun karier.

Hari ini, bekerja sering kali berarti memastikan tagihan bulan depan tetap terbayar.

Dulu, orang menabung untuk membeli rumah.

Sekarang, banyak yang menabung agar memiliki dana darurat jika sewaktu-waktu kehilangan pekerjaan.

Dulu, akhir pekan menjadi waktu untuk berlibur.

Kini, akhir pekan sering berubah menjadi kesempatan mencari penghasilan tambahan.

Kita hidup di era ketika bertahan hidup perlahan menjadi pekerjaan kedua.

Media sosial ikut memperlihatkan paradoks tersebut. Di satu sisi, kita melihat unggahan tentang gaya hidup mewah, liburan ke luar negeri, dan pencapaian finansial yang tampak sempurna. Di sisi lain, banyak orang diam-diam menghitung sisa saldo rekening sebelum memutuskan membeli secangkir kopi.

Perbandingan sosial ini memperburuk keadaan. Banyak orang merasa gagal bukan karena hidupnya buruk, tetapi karena terus membandingkan dirinya dengan potongan kehidupan orang lain yang telah dipilih dan disunting sebelum dipublikasikan.

Padahal, realitas ekonomi tidak sedang mudah.

Laporan World Bank dalam pembaruannya mengenai ekonomi Indonesia menyoroti bahwa ketidakpastian ekonomi global, tekanan biaya hidup, dan perlambatan ekonomi dunia masih menjadi tantangan yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi bukan hanya dialami Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.

Namun, menurut saya, persoalan terbesar bukanlah ekonomi itu sendiri.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika masyarakat mulai menganggap lelah sebagai keadaan yang normal.

Normal jika harus memiliki dua pekerjaan.

Normal jika tidak pernah mengambil cuti.

Normal jika terus merasa cemas setiap akhir bulan.

Normal jika kesehatan mental dikorbankan demi menjaga pemasukan.

Kita mulai terbiasa hidup dalam mode bertahan.

Padahal, manusia tidak diciptakan hanya untuk terus bertahan.

Kita juga membutuhkan ruang untuk berkembang, menikmati hidup, membangun keluarga, belajar hal baru, hingga beristirahat tanpa dihantui rasa bersalah karena tidak menghasilkan uang hari itu.

Tentu, solusi atas persoalan ini tidak bisa dibebankan kepada individu semata. Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, dan memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Dunia usaha juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan kerja yang layak, memberikan kesempatan berkembang, serta menghargai produktivitas dengan kompensasi yang adil.

Namun, di tengah keterbatasan yang ada, kita tetap memiliki ruang untuk mengambil kendali atas hal-hal yang bisa kita ubah.

Belajar keterampilan baru.

Mengelola keuangan dengan lebih bijak.

Tidak terjebak dalam gaya hidup yang dipaksakan.

Saling mendukung usaha kecil milik teman atau tetangga.

Dan yang tidak kalah penting, berhenti mengukur nilai diri dari isi rekening atau standar kesuksesan yang dibangun media sosial.

Karena pada akhirnya, bertahan hidup memang penting.

Tetapi hidup seharusnya tidak hanya tentang bertahan.

Kita berhak memiliki harapan untuk hidup yang lebih layak, pekerjaan yang memberi rasa aman, dan masa depan yang tidak selalu dipenuhi kecemasan tentang biaya hidup.

Fenomena "surviving in this economy" seharusnya menjadi alarm, bukan identitas. Alarm bahwa ada tantangan ekonomi yang perlu diselesaikan bersama, bukan keadaan yang harus diterima sebagai takdir.

Sebab, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan hanya seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonominya, tetapi juga seberapa banyak warganya yang dapat hidup dengan tenang—bukan sekadar berhasil melewati akhir bulan.