Langkah Kecil Generasi Muda: Harapan Baru dari SAHABAT 2025

Staf di Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Siti Nurjanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Setiap lengkap kecil yang dilakukan dengan kesabaran besar dapat menjadi penyelamat bagi bumi yang sedang berjuang untuk bernapas.”

Di tengah hiruk-pikuknya kesibukan kota dan kesibukan masyarakat modern, ada satu hal yang sering terlupa, yaitu menjaga keasrian bumi. Dalam perlombaan tanpa henti menuju kemajuan, masih ada genggaman tangan kecil yang menyalakan harapan besar bagi masa depan hijau planet ini.Menjawab kegelisahan akan kondisi bumi yang kian rapuh, Universitas Indonesia menumbuhkan semangat baru melalui kegiatan “SAHABAT 2025: Suara Anak Bangsa Peduli Perubahan Iklim”, yang digelar pada Kamis, 23 Oktober 2025.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi para pelajar untuk memahami lebih dalam tentang isu lingkungan dan perubahan iklim. Dari kegiatan ini, lahirlah beragam pengalaman inspiratif, salah satunya dari tim Green Pioneers yang berasal dari SMP Alexandria Islamic School.
Tiga anggota tim, Fhaiz, Nadine, dan Syifa, mengikuti setiap sesi dengan antusias. Bagi mereka, SAHABAT bukan sekadar kegiatan belajar di luar sekolah, tetapi sebuah perjalanan mengenal bumi dan dan menemukan cara terbaik untuk menjaganya.
Menjelajah Pos Pembelajaran: Petualangan yang Sarat Makna
Sejak pagi, semangat tim Green Pioneers sudah menyala. Bersama mentor dan peserta dari berbagai sekolah, mereka berlari kecil menyusuri kawasan kampus hijau Universitas Indonesia. Udara masih terasa sejuk, dedaunan bergoyang lembut tertiup angin, sementara langkah-langkah kecil mereka berpacu dengan rasa penasaran. Di pos pertama, mereka diajak memahami bagaimana sampah yang selama ini dianggap sepele ternyata memiliki dampak besar bagi bumi. Para mentor menjelaskan tentang pemilahan dan daur ulang, serta bahaya limbah yang tidak terurai bagi ekosistem. “Ternyata yang sering kita buang bisa jadi sesuatu yang berguna kalau kita tahu caranya,” ujar Fhaiz.
Petualangan berlanjut ke pos kedua, di mana mereka memasuki area yang penuh dengan alat peraga sains sederhana. Di sana, mereka diperkenalkan pada teknologi pengolahan limbah menjadi gas metana, sumber energi alternatif yang dapat menyalakan lampu dan mengurangi emisi karbon. Nadine tampak terpesona ketika melihat demo eksperimen yang diperlihatkan. “Baru tahu limbah bisa jadi listrik, keren banget,” ucapnya kagum. Dari pos ini, mereka belajar bahwa inovasi tidak harus besar, bahkan dari limbah dapur pun bisa lahir energi bersih yang bermanfaat.
Perjalanan mereka ditutup di pos ketiga, di mana para fasilitator mengajak peserta memahami keterkaitan antara alam, tanah, dan air. Syifa yang sedari tadi memperhatikan, perlahan mengangguk. “Kalau satu bagian rusak, semuanya ikut kena,” katanya lirih, seolah menyadari bahwa menjaga alam bukan hanya soal kebersihan, tapi soal kehidupan.
“Seru banget! Setiap pos ngasih pelajaran baru yang nggak pernah kami dapat di sekolah,” ungkap salah satu anggota Green Pioneers. Melalui kegiatan ini, mereka belajar langsung bahwa perubahan besar bisa dimulai dari pengetahuan kecil yang diterapkan sehari-hari.
Empat Inovasi Hijau Sang Juara
Tak hanya aktif dalam kegiatan lapangan, tim Green Pioneers juga menunjukkan kreativitasnya lewat karya inovatif yang menggabungkan sains dan kepedulian lingkungan. Dalam kompetisi poster Duta Perubahan Iklim, mereka berhasil meraih Juara 2 berkat ide-ide luar biasa yang mereka hasilkan.
Mereka menciptakan tas bioplastik dari limbah ikan sebagai solusi pengganti plastik sekali pakai yang ramah lingkungan. Dari dapur rumah tangga, mereka menemukan cara memanfaatkan minyak jelantah menjadi sabun alami, sementara dari bahan organik seperti kulit pisang, mereka mampu mengolahnya menjadi kertas daur ulang yang kuat dan fungsional. Tak berhenti di situ, mereka juga bereksperimen menciptakan tinta pulpen dari bawang, inovasi unik yang menunjukkan bahwa bahan sederhana pun bisa menjadi inspirasi bagi sains hijau.
Setiap ide yang mereka bawa merepresentasikan semangat untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Bagi Fhaiz, Nadine, dan Syifa, pengalaman di SAHABAT 2025 menjadi pembuktian bahwa setiap anak bisa berkontribusi untuk bumi, tidak harus menunggu dewasa untuk mulai peduli. Mereka pulang dengan pengetahuan baru, semangat untuk terus berinovasi, dan tekad untuk menerapkan kebiasaan baik mulai dari rumah dan sekolah.
