Konten dari Pengguna

Kunyit Memang Antiinflamasi Tapi Kenapa Tidak Dipakai sebagai Obat Resmi?

Sitinazwa nk

Sitinazwa nk

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sitinazwa nk tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kunyit sudah ribuan tahun digunakan dalam pengobatan tradisional di Asia, terutama dalam sistem Ayurveda dari India. Hari ini, ratusan penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa kurkumin,senyawa aktif utama dalam kunyit,memang memiliki aktivitas antiinflamasi yang nyata. Tapi kalau begitu, kenapa kunyit tidak pernah masuk ke daftar obat resmi yang diresepkan dokter?

Pertanyaan ini lebih dalam dari yang tampak di permukaan. Jawabannya bukan soal "kunyit tidak terbukti" justru sebaliknya. Ini soal jarak antara bukti laboratorium dan standar yang dibutuhkan untuk menjadi obat resmi.

Ilustrasi Kunyit sebagai media penelitian. Photo by Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kunyit sebagai media penelitian. Photo by Gemini AI

Apa yang Sudah Terbukti dari Kunyit?

Secara ilmiah, kurkumin telah terbukti mampu menekan jalur inflamasi utama dalam tubuh, termasuk menghambat ekspresi sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan interleukin 6 (IL-6),dua mediator kimia yang berperan besar dalam proses peradangan kronis. Mekanisme ini serupa dengan cara kerja beberapa obat antiinflamasi yang sudah beredar di pasaran.

Selain itu, kunyit juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang signifikan, kemampuan melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, dan bahkan potensi sebagai antimikroba. Penelitian dari Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa kunyit masuk dalam 10 jenis tanaman obat yang paling banyak digunakan oleh pengobat tradisional dari berbagai suku di Indonesia.

Di Amerika Serikat, FDA bahkan telah mengakui kunyit sebagai bahan yang "Generally Recognized as Safe" (GRAS) artinya aman dikonsumsi sebagai aditif makanan. Tapi diakui aman sebagai makanan adalah satu hal; diakui sebagai obat adalah hal yang sangat berbeda.

Lalu Apa Masalahnya?

Hambatan terbesar kurkumin untuk menjadi obat resmi terletak pada satu kata: bioavailabilitas. Ini adalah ukuran seberapa banyak zat aktif yang benar-benar terserap ke dalam aliran darah setelah dikonsumsi.

Kurkumin dikenal memiliki bioavailabilitas oral yang sangat rendah. Ketika kamu mengonsumsi kunyit atau suplemen kurkumin, sebagian besar senyawa aktifnya tidak sempat diserap usus — ia dimetabolisme dengan cepat di hati dan usus, lalu dieliminasi dari tubuh sebelum mencapai konsentrasi yang cukup untuk memberikan efek terapeutik. Artinya, meskipun manfaatnya terlihat luar biasa di laboratorium, efek yang sama belum tentu terjadi di dalam tubuh manusia yang mengonsumsinya secara oral.

Analogi sederhana : Bayangkan kamu punya kunci yang sempurna untuk membuka sebuah pintu tapi kuncinya selalu jatuh di lorong sebelum sampai ke pintu. Begitulah yang terjadi dengan kurkumin di dalam tubuh

Masalah Standar Uji Klinis

Untuk diakui sebagai obat resmi oleh lembaga seperti BPOM di Indonesia atau FDA di Amerika Serikat, sebuah senyawa harus melewati serangkaian uji klinis yang ketat: dimulai dari fase I (keamanan pada manusia), fase II (efektivitas awal), hingga fase III (uji besar dengan kontrol plasebo yang melibatkan ribuan peserta). Proses ini bisa memakan waktu lebih dari 10 tahun dan biaya yang sangat besar.

Mayoritas penelitian kurkumin yang ada saat ini baru berada di tingkat preklinis artinya dilakukan pada sel atau hewan coba, bukan manusia. Uji klinis pada manusia memang sudah ada, tetapi sebagian besar masih berupa uji fase awal dengan jumlah peserta terbatas dan hasil yang beragam. Belum ada satu pun uji klinis fase III berskala besar yang berhasil membuktikan efektivitas kurkumin secara konsisten untuk kondisi spesifik tertentu pada manusia.

Apakah Ada Upaya untuk Mengatasinya?

Para ilmuwan tidak tinggal diam. Berbagai pendekatan sedang dikembangkan untuk meningkatkan bioavailabilitas kurkumin agar bisa benar-benar bekerja di dalam tubuh manusia. Salah satu yang paling banyak diteliti adalah formulasi nanoemulsi teknologi yang mengemas kurkumin dalam partikel berukuran nanometer agar lebih mudah diserap dinding usus.

Pendekatan lain yang sudah terbukti di penelitian adalah kombinasi kurkumin dengan piperin, senyawa aktif dalam lada hitam. Piperin diketahui dapat meningkatkan bioavailabilitas kurkumin secara signifikan dengan menghambat proses metabolisme yang terlalu cepat di dalam hati.

Catatan penting: Meski berbagai formula baru sedang dikembangkan, semua masih dalam tahap penelitian. Belum ada produk kurkumin yang telah lulus uji klinis lengkap dan mendapatkan persetujuan sebagai obat resmi di Indonesia maupun di tingkat internasional.

Jadi, Apakah Kunyit Tidak Berguna?

Sama sekali tidak. Kunyit tetap bermanfaat sebagai bagian dari pola makan sehat sehari-hari. Mengonsumsinya sebagai bumbu masak, minuman tradisional seperti jamu, atau suplemen dengan formulasi yang lebih baik tetap memberikan kontribusi positif bagi kesehatan terutama sebagai bagian dari gaya hidup anti-inflamasi secara umum.

Yang perlu diluruskan adalah ekspektasinya. Kunyit bukan pengganti obat antiinflamasi yang diresepkan dokter, terutama untuk kondisi medis yang sudah didiagnosis. Sains memang mengakui potensinya tapi sains juga masih bekerja keras untuk membuktikan bahwa potensi itu bisa diwujudkan secara klinis pada manusia.

Referensi :

Angreani, R., et al. (2020). Aktivitas antiinflamasi nanoemulsi ekstrak kurkumin dari kunyit (Curcuma longa L.) pada mencit jantan yang diinduksi karagenan. Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi, 10(4). https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/download/1004/364

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. (2020). Curcumin, aman dikonsumsi saat pandemi Covid-19. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/curcumin-aman-dikonsumsi-saat-pandemi-covid-19/

Lao, C. D., Ruffin, M. T., Normolle, D., Heath, D. D., Murray, S. I., Bailey, J. M., Boggs, M. E., Crowell, J., Rock, C. L., & Brenner, D. E. (2006). Dose escalation of a curcuminoid formulation. BMC Complementary and Alternative Medicine, 6(1), 10. https://doi.org/10.1186/1472-6882-6-10