Ibu Rumah Tangga Rentan Stres dan Depresi, Ini Sebabnya

SKATA adalah sebuah inisiatif digital yang mendukung pemerintah Indonesia dalam membangun keluarga melalui perencanaan yang lebih baik. SKATA lahir tahun 2015 melalui kerjasama antara Johns Hopkins CCP dan BKKBN.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Skata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Enak banget ya, jadi ibu rumah tangga. Kerjanya santai, cuma urus rumah sama anak aja…”
Padahal, di balik kata ‘aja’ dan ‘cuma’, seorang ibu rumah tangga punya tugas yang tak ada habisnya sejak membuka mata, hingga terlelap lagi. Beberes rumah, memasak dan menyiapkan makanan tiga kali sehari, mengantar anak sekolah (juga 24 jam siap sedia jika anak masih bayi), mencuci piring dan baju, dan masih banyak lagi.
Bahkan, sebuah penelitian menemukan bahwa ibu rumah tangga adalah yang paling rentan terkena burnout, kecemasan tinggi, stres kronis, hingga depresi. Sayang, gangguan kesehatan mental yang dialami ibu rumah tangga semacam ini sering dianggap sepele.
Tugas yang berulang, kurangnya variasi kegiatan sehari-hari, hingga kurangnya dukungan sosial ini memperparah kelelahan mental yang dirasakan. Studi American Psychological Association di tahun 2010, menemukan bahwa ibu rumah tangga mengalami tingkat stres lebih tinggi daripada mereka yang bekerja di luar rumah. Ini yang kemudian melahirkan istilah housewife syndrome. Yaitu, sebuah kondisi di mana seorang ibu rumah tangga merasa kurang dihargai, tidak bahagia akibat perannya.
Baca: 8 Hal yang Istri Harapkan dari Suami
Apa tanda ibu rumah tangga terkena housewife syndrome atau gangguan kesehatan mental lainnya?
Gejala awalnya bisa dilihat, seperti:
Malas berpakaian rapi, alias dasteran sepanjang hari.
Enggan keramas, beberes rumah, menghindari kebiasaan sehari-hari yang biasa dilakukan.
Tak ada energi untuk melakukan kegiatan bersama anak, apalagi mencoba hal baru.
Inginnya, hanya melewati hari dan demi hari. Itu saja
Mulai bernostalgia dan terpaku pada masa lalu sebelum menjadi ibu rumah tangga.
Namun, jika gejala ini makin memburuk. ibu rumah tangga bisa mengalami:
Depresi. Akibat perasaan kesepian, rasa tidak dihargai, dan kurangnya dukungan sosial.
Gangguan makan. Karena stres, kita cenderung beralih pada makan. Bisa makan berlebihan, atau malah kurang makan. Keduanya merupakan cara menanggulangi stres yang buruk.
Merasa tidak berguna. Bekerja di rumah hanya untuk mengurus rumah dan anak tanpa penghasilan membuat ibu rumah tangga merasa tidak dihargai dan rendah diri.
Ini cara mencegah gangguan kesehatan mental pada ibu rumah tangga, dan menjadi bahagia!
1. Kenali perasaan kita
Sedang kesalkah kita, sedih, marah, atau bosan dengan rutinitas sehari-hari? Kenali perasaan kita dan coba meresapinya. Dengan mengenal apa yang kita rasakan, kita bisa punya aksi positif untuk menanggulanginya alih-alih menahannya atau malah meluapkannya dalam amarah pada anggota keluarga lainnya. Hanya karena, kita tak kenal dengan emosi dan bagaimana cara menyalurkannya.
Baca: Latih Diri Kendalikan Emosi dengan Mindfulness
2. Kurangi scrolling media sosial
Menjalin hubungan dengan teman lewat media sosial memang baik, mengetahui kehidupan luar lewat dunia maya juga tak ada salahnya. Tapi, jika terlalu lama memandangi media sosial dan postingan orang lain, membuat kita cenderung membandingkan kondisi kita dengan mereka. Padahal, apa yang terlihat belum tentu sama dengan apa yang terjadi di dunia nyata.
3. Tampil cantik di rumah, tak ada salahnya
Bukan untuk dilihat orang lain, tapi untuk memanjakan diri. Berpakaian rapi dan berdandan bisa meningkatkan kepercayaan diri, loh! Kita bisa menjadi nyaman dengan diri kita, merasa puas dengan apa yang kita miliki, dan merasa bahagia dengan kondisi diri.
4. Tak perlu harus selalu sempurna
Iya, rumah memang perlu rapi. Tapi tak perlu dibersihkan tiap saat, Tak ada salahnya bersantai sejenak, lalu kembali mengerjakan tugas di kala sudah nyaman. Tak apa sesekali menunda mencuci baju, pun tak perlu mengepel setiap hari. Kerjakan yang bisa dikerjakan tanpa memaksakan diri. Ada kalanya, anak-anak kita lebih butuh perhatian ketimbang beningnya kaca jendela. Sempatkan untuk bercengkrama bersama keluarga tanpa meninggalkan kewajiban lainnya. Hanya sedikit menunda bukan meninggalkan.
Baca: 7 Alasan Ini Menunjukkan Kita Perlu ke Psikolog
Menjadi ibu rumah tangga atau meniti karir adalah sebuah pilihan. Semua ada konsekuensinya. Namun, jika kita jalani dengan sepenuh hati dengan tujuan yang baik, semua kelelahan dan perjuangan bisa menjadi lebih indah.
Jangan lupa, komunikasikan dengan suami tentang kelelahan yang kita rasakan. Ingin tau cara komunikasi yang efektif agar maksud kita mudah diterima oleh suami? Ikuti kelas Komunikasi dengan Pasangan bersama psikolog Karina Adistiana, M.Psi, hanya di www.demikita.id.
Image by Sarah Chai on Pexels
