Konten dari Pengguna

Gaji Kecil, Tanggung Jawab Besar: Realitas Hidup Tenaga Honorer

Slamet Purwanto

Slamet Purwanto

Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Slamet Purwanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat dengan Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat dengan Gemini AI

Ada satu ironi yang terus berulang dalam dunia kerja di Indonesia. Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, masih banyak tenaga honorer yang bekerja dengan tanggung jawab besar tetapi menerima penghasilan yang relatif rendah. Mereka hadir di sekolah, kantor pemerintahan, puskesmas, hingga berbagai instansi pelayanan masyarakat. Namun keberadaan mereka sering kali hanya terlihat ketika terjadi kekurangan tenaga kerja atau muncul persoalan terkait kesejahteraan.

Bagi sebagian orang, menjadi tenaga honorer adalah pilihan untuk memperoleh pengalaman kerja atau mengabdi kepada masyarakat. Namun bagi sebagian lainnya, status honorer merupakan satu-satunya kesempatan yang tersedia untuk mendapatkan pekerjaan. Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, banyak orang tetap bertahan meskipun menyadari bahwa penghasilan yang diterima belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Pertanyaannya bukan sekadar mengapa seseorang masih mau menjadi tenaga honorer dengan gaji yang kecil. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa kondisi tersebut masih terus terjadi di tengah berbagai upaya pemerintah meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Ketika Kebutuhan Tenaga Kerja Tidak Sejalan dengan Kesejahteraan

Fakta menunjukkan bahwa tenaga honorer telah lama menjadi bagian penting dalam sistem pelayanan publik di Indonesia. Sebelum kebijakan penataan tenaga non-ASN diberlakukan, jumlah tenaga honorer di berbagai instansi pemerintah mencapai jutaan orang. Mereka mengisi berbagai posisi yang dibutuhkan untuk menjaga jalannya pelayanan kepada masyarakat.

Di banyak daerah, keberadaan tenaga honorer membantu mengatasi keterbatasan jumlah pegawai tetap. Sekolah membutuhkan guru honorer untuk mengajar, puskesmas membutuhkan tenaga administrasi tambahan, sementara kantor pemerintahan membutuhkan staf pendukung untuk menjalankan berbagai tugas operasional.

Namun di balik peran tersebut, persoalan kesejahteraan masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Tidak sedikit tenaga honorer yang menerima penghasilan di bawah Upah Minimum Regional. Bahkan dalam beberapa kasus yang pernah diberitakan media nasional, terdapat tenaga honorer yang memperoleh honor hanya beberapa ratus ribu rupiah per bulan.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara besarnya tanggung jawab pekerjaan dengan penghargaan ekonomi yang diterima.

Tanggung Jawab yang Tidak Kecil

Sering kali masyarakat menganggap pekerjaan tenaga honorer tidak berbeda jauh dengan pegawai tetap. Dalam praktiknya, banyak tenaga honorer menjalankan tugas yang hampir sama dengan aparatur yang memiliki status lebih jelas.

Guru honorer, misalnya, tetap harus menyiapkan materi pembelajaran, mengajar, melakukan penilaian, hingga mendampingi kegiatan siswa. Di fasilitas kesehatan, tenaga honorer turut mendukung pelayanan kepada pasien setiap hari. Sementara di kantor pemerintahan, mereka ikut terlibat dalam administrasi dan pelayanan masyarakat.

Ironisnya, perbedaan status kepegawaian sering kali berpengaruh besar terhadap tingkat kesejahteraan yang diterima. Padahal kualitas pelayanan publik tidak hanya ditentukan oleh status pegawai, tetapi juga oleh dedikasi dan profesionalisme setiap individu yang menjalankan tugasnya.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana sistem ketenagakerjaan mampu memberikan penghargaan yang proporsional terhadap kontribusi tenaga honorer.

Antara Pengabdian dan Kebutuhan Hidup

Banyak tenaga honorer memilih bertahan bukan karena kondisi yang ideal, melainkan karena keterbatasan pilihan. Sebagian berharap memperoleh kesempatan mengikuti seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) atau formasi aparatur sipil negara. Sebagian lainnya tetap bekerja karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat yang mereka layani.

Namun idealisme tidak selalu berjalan seiring dengan realitas ekonomi. Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga kebutuhan tempat tinggal menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

Di sinilah dilema terbesar tenaga honorer muncul. Di satu sisi mereka ingin tetap bekerja dan mengabdi, tetapi di sisi lain mereka juga membutuhkan penghasilan yang layak untuk mempertahankan kualitas hidup.

Persoalan ini tidak hanya menyangkut individu, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kualitas pelayanan publik di masa depan.

Tantangan Penataan Tenaga Honorer

Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai langkah untuk menata status tenaga non-ASN melalui berbagai kebijakan dan proses rekrutmen PPPK. Tujuannya adalah memberikan kepastian status kerja sekaligus meningkatkan profesionalisme aparatur pelayanan publik.

Langkah tersebut patut diapresiasi karena menunjukkan adanya upaya memperbaiki persoalan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun proses penataan tentu tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Masih terdapat berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran, kebutuhan formasi, hingga pemerataan kebijakan di berbagai daerah.

Karena itu, pembahasan mengenai tenaga honorer seharusnya tidak hanya berfokus pada status kepegawaian semata. Yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa setiap pekerja memperoleh penghargaan yang sebanding dengan kontribusi yang diberikan.

Menghargai Mereka yang Menjaga Pelayanan Publik

Pada akhirnya, kualitas pelayanan publik tidak hanya ditentukan oleh gedung yang megah atau teknologi yang canggih. Pelayanan publik juga ditentukan oleh orang-orang yang setiap hari bekerja di balik layar, termasuk para tenaga honorer.

Jika pemerintah ingin menciptakan pelayanan yang semakin berkualitas, maka kesejahteraan para pelaksana pelayanan juga harus menjadi perhatian. Sebab sulit mengharapkan pelayanan yang optimal apabila masih ada pekerja yang harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya dari penghasilan yang terbatas.

Gaji kecil mungkin dapat membuat seseorang bertahan untuk sementara waktu. Namun dalam jangka panjang, penghargaan yang layak terhadap tenaga kerja merupakan investasi penting bagi kualitas pelayanan publik itu sendiri.

Karena itu, persoalan tenaga honorer bukan sekadar soal angka dalam slip gaji. Ini adalah persoalan tentang bagaimana negara menghargai mereka yang selama ini turut menjaga roda pelayanan masyarakat tetap berjalan.